Formulasi sirup herbal memerlukan pemanis yang tepat untuk menjaga stabilitas fisik dan mutu organoleptik, tetapi ringkasan komparatif lintas-pemanis masih terbatas; studi ini merangkum pengaruh jenis dan kombinasi pemanis terhadap stabilitas serta penerimaan konsumen melalui sintesis naratif terarah atas penelitian formulasi sirup herbal dengan parameter pH, viskositas, bobot jenis, kejernihan, homogenitas, dan penilaian sensorik. Hasil menunjukkan sukrosa menjaga pH relatif stabil sekaligus meningkatkan viskositas dan penerimaan panelis; madu menambah kekentalan dan menurunkan pH (lebih asam) seraya menutup rasa getir; sorbitol menjaga kejernihan dan menekan kristalisasi; stevia mempertahankan pH dan viskositas rendah namun pada sistem ber-antosianin warna lebih sensitif terhadap keasaman; sukralosa cenderung netral terhadap pH dan viskositas pada suhu ruang; fruktosa memberi manis ringan dengan sebagian laporan menunjukkan penurunan stabilitas warna pada penyimpanan lebih lama. Kombinasi sukrosa–sorbitol mengurangi kristalisasi serta meningkatkan kejernihan dan homogenitas (stabil ≥4 minggu), sedangkan madu–sorbitol menjaga viskositas dengan kejernihan lebih baik dibanding madu tunggal. Temuan ini menegaskan adanya trade-off: pemanis “berbody” (sukrosa, madu) menguatkan tekstur dan palatabilitas, sementara pemanis alternatif (sorbitol, stevia, sukralosa) unggul dalam kejernihan dan kestabilan warna. Kesimpulannya, pemilihan pemanis sebaiknya disesuaikan dengan target mutu: sukrosa/madu untuk body dan penerimaan, sorbitol untuk kejernihan dan pencegahan kristalisasi, serta stevia/sukralosa untuk formulasi rendah kalori/viskositas; kombinasi sukrosa–sorbitol atau madu–sorbitol tampak paling menjanjikan untuk kestabilan fisik dan sensorik.