Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)

Heavy Metal Content in Green Mussels (Perna viridis) Cultivated in Ketapang Village, Tangerang Regency: Kandungan Logam Berat pada Kerang Hijau (Perna viridis) yang Dibudidayakan di Desa Ketapang, Kabupaten Tangerang Dwi Ernaningsih; Patanda, Mercy; Rahmani, Urip; Telussa, Riena F.
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 7 No 1 (2023): Journal of Tropical Fisheries Management (on progress)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v7i1.45094

Abstract

The aims of the study were: (1) to test the metal content in green mussels; (2) testing the metal content in seawater for aquaculture activties; and (3) calculating green mussel business income. The research was conducted in May-July 2022 at four locations, three locations in the green mussel cultivation area and the fourth location in the green mussel collection area owned by a fisherman. Selection of sampling locations by purposive sampling. Primary data was collected by field survey methods and interviews with 9 green mussel cultivators. Secondary data was obtained from the Department of Maritime Affairs and Fisheries of the Tangerang Regency and scientific publications, including other research supporting data. Data analysis of metal content in green mussels according to the Indonesian National Standard (SNI) No. 7387-2009; Analysis of heavy metal content in seawater refers to the government regulation No 22 of 2021 concerning on the implementation of environmental protection and management seawater quality standards, especially for marine life; identification of trap catches was analyzed descriptively; analysis of green mussels chart business income using net income (????), R/C ratio, and payback period. The results showed that the metal content in green mussels at location 1 exceeded the threshold value compared to the other three locations; all metal content in sea water does not exceed the threshold value. This means that the mussels can still be consumed by the public and the waters are good for mussel cultivation. Mud grouper is the main catch of traps associated with green mussel cultivation sites and the highest R/C in respondents No. 1 and 6 with a payback period of <3 years, showing that the rate of return on business capital is categorized as fast.
Optimizing The Potential and Development Strategy of The Mangrove Ecotourism Area in Tangkolak Village, Karawang Regency: Optimalisasi Potensi dan Strategi Pengembangan Kawasan Ekowisata Mangrove di Dusun Tangkolak, Kabupaten Karawang Susilawati, Rini Indah; Patanda, Mercy; Ernaningsih, Dwi
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 7 No 2 (2023): Journal of Tropical Fisheries Management
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v7i2.49760

Abstract

Kawasan ekowisata mangrove Dusun Tangkolak merupakan salah satu wisata alam yaitu hutan mangrove yang ada di Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Ekowisata mangrove Dusun Tangkolak saat ini belum memiliki manajemen pengelolaan yang baik dan sepi pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi dan mengetahui strategi yang dapat diaplikasikan melalui analisis faktor internal-eksternal di kawasan ekowisata mangrove Dusun Tangkolak. Ditemukan potensi vegetasi mangrove sebanyak 14 jenis dan fauna sebanyak 10 jenis pada empat titik stasiun. Spesies mangrove yang paling banyak di seluruh stasiun adalah Rhizophora apiculate sedangkan untuk fauna yaitu Ciconia sp. Vegetasi mangrove di kawasan ekowisata mangrove Dusun Tangkolak memiliki indeks keanekaragaman (H’) yang rendah dan tidak ada spesies yang mendominasi disetiap stasiun sedangkan fauna di kawasan ekowisata mangrove Dusun Tangkolak memiliki variasi indeks keanekaragaman dan jenis yang mendominasi adalah Ciconia sp. Alat tangkap yang digunakan oleh pengunjung maupun nelayan masyarakat sekitar saat menangkap ikan di sekitar kawasan ekowisata mangrove adalah pancing, bubu dan jala. Menentukan strategi pengembangan menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis IFAS dan EFAS diperoleh hasil bahwa strategi pengembangan kawasan ekowisata mangrove di Dusun Tangkolak berada pada titik koordinat (2,5; 2,6) yang berada pada kuadran I yaitu memiliki kekuatan (Strenghts) dan peluang (Opportunities) atau strategi SO