Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : smart medical journal

EFEK ANTI HISTAMIN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI PADA TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI OVALBUMIN DINILAI DARI JUMLAH EOSINOFIL JARINGAN KULIT RENDRA RISTIAN WIBOWO; RATIH DEWI YUDHANI; NOVAN ADI SETYAWAN
Smart Medical Journal Vol 2, No 2 (2019): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.38 KB) | DOI: 10.13057/smj.v2i2.33074

Abstract

                                                     ABSTRAKPendahuluan: Prevalensi dan keparahan penyakit alergi terus meningkat secara global, terutama di negara dengan pendapatan rendah sampai menengah. Terapi alergi saat ini seperti kortikosteroid banyak memberikan efek samping dalam penggunaan jangka panjang. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) berpotensi sebagai antihistamin yang dapat menjadi terapi alternatif penyakit alergi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihistamin ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) pada tikus putih (Rattus novergicus) yang diinduksi ovalbumin dinilai dari jumlah eosinofil jaringan kulit.   Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental design dengan rancangan post test only with control group design. Subjek penelitian tikus putih jantan, umur 3-4 bulan, dan berat badan 200-300 gram. Sampel 24 ekor tikus putih dibagi secara random menjadi enam kelompok. Kelompok kontrol normal (K) tanpa perlakuan, kontrol negatif (KN) hanya diinduksi ovalbumin, kontrol positif (KP) diberikan metilprednisolon, dan kelompok perlakuan (KP1, KP2, KP3) diberikan ekstrak daun jambu biji dengan dosis berikut 27 mg/200 gramBB, 54 mg/200 gramBB, dan 108 mg/200 gramBB. Efek antihistamin dinilai melalui gambaran histopatologi jaringan kulit berupa rata-rata jumlah infiltrasi eosinofil dengan menggunakan mikroskop cahaya. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji Post Hoc Mann Whitney (α= 0,05).Hasil: Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan signifikan di antara enam kelompok perlakuan (p=0,00). Uji Post Hoc Mann Whitney menunjukkan perbedaan signifikan di antara semua pasangan kelompok (p=<0,05). KP3 menunjukkan rerata jumlah eosinofil lebih rendah daripada KP dan signifikan (p=0,021).  Kesimpulan: Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) memiliki efek antihistamin dengan menurunkan infiltrasi eosinofil pada jaringan kulit tikus putih (Rattus norvegicus) yang dinduksi ovalbumin.Kata Kunci: Ekstrak daun jambu biji, eosinofil, tikus putih, histopatologi kulit. ABSTRACTIntroduction: The prevalence and severity of allergic diseases continues to increase globally, especially in countries with low to middle income. Current allergic therapies such as corticosteroids have many side effects in long-term use. Guava leaf extract (Psidium guajava) has the potential as an antihistamine which can be an alternative therapy for allergic diseases. This study aims to determine the effect of antihistamine extract of guava leaves (Psidium guajava) on white rats (Rattus novergicus) induced by ovalbumin assessed from the number of eosinophils of skin tissue. Methods: This research was a quasi experimental design with a post test only design with control group design. The research subjects were male white rats, aged 3-4 months, and weighing 200-300 grams. Samples of 24 white rats were randomly divided into six groups. Normal (K) control group without treatment, negative control (KN) was only induced by ovalbumin, positive control (KP) was given methylprednisolone, and treatment groups (KP1, KP2, KP3) were given guava leaf extract with the following dosage 27 mg / 200 gram BW, 54 mg / 200 gram BW, and 108 mg / 200 gram BW. The effect of antihistamines was assessed through histopathology of skin tissue in the form of an average number of eosinophil infiltrations using a light microscope. Data were analyzed using the Kruskal Wallis test and followed by the Mann Whitney Post Hoc test (α = 0.05).Result: The Kruskal Wallis test showed significant differences between the six treatment groups (p = 0.00). The Mann Whitney Post Hoc test showed significant differences between all group pairs (p = <0.05). KP3 shows the average number of eosinophils lower than KP and significant (p = 0.021). Conclusion: Guava leaf extract (Psidium guajava) has an antihistamine effect by reducing eosinophil infiltration in ovalbumin-induced white rat (Rattus norvegicus) skin tissue.Keywords: Guava leaf extract; eosinophil; skin histopathology
Efek Antihistamin Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan Induksi Ovalbumin Wahyu Tri Kawuri; Ratih Dewi Yudhani; Novan Adi Setyawan
Smart Medical Journal Vol 2, No 1 (2019): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.097 KB) | DOI: 10.13057/smj.v2i1.27152

Abstract

Pendahuluan: Data World Allergy Organization (WAO) tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi alergi diperkirakan sekitar 30-40% dari populasi dunia. Reaksi alergi terjadi akibat pelepasan histamin oleh sel mast. Pengobatan alergi jangka panjang selama ini memiliki efek samping berupa ganggun kardiovaskuler, retensi urin, AGEP, dan gangguan saraf. Penelitian sebelumnya menunjukkan kuersetin mampu menghambat pelepasan histamin oleh sel mast. Pada analisis kimia, daun jambu biji mengandung kuersetin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihistamin ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi ovalbumin.Metode: Penelitian quasi experimental design dengan metode posttest only group design menggunakan 24 tikus yang dibagi kedalam 6 kelompok secara acak. Kelompok kontrol normal (KN) tanpa perlakuan, kontrol negatif (K-) yang hanya diinduksi ovalbumin, kontrol positif (K+) diberikan metilprednisolon, dan kelompok perlakuan (P1, P2, P3) diberikan ekstrak daun jambu biji dengan dosis, berikut 27 mg/200 gramBB, 54 mg/200 gramBB, dan 108 mg/200 gramBB. Pengamatan efek antihistamin berupa perhitungan rata-rata jumlah garuk tikus. Data dianalisis dengan menggunakan uji One-Way ANOVA dan dilanjutkan uji Post Hoc Tukey.Hasil: Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan rata-rata jumlah garuk tikus antar kelompok perlakuan bermakna secara statistik (p=0,00). Berdasarkan hasil uji Tukey, kelompok K- (45,75±5,50) dibandingkan dengan kelompok KN (2,25±0,96) dan kelompok perlakuan ekstrak daun jambu biji berbagai dosis menunjukkan perbedaan rata-rata jumlah garuk tikus yang bermakna secara statistik (p=0,00). Hasil rata-rata jumlah garuk tikus pada kelompok KN (2,25±0,96) dibandingkan dengan P2 (9,00±0,82) tidak menunjukan  perbedaan yang bermakna secara statistik (p=0,085).Kesimpulan: Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) memiliki efek antihistamin pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi ovalbumin.
Perbedaan Kualitas Tidur Pasien Asma Terkontrol Sebagian Pada Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) Khalisah Atma Aulia; Reviono -; Ratih Dewi Yudhani
Smart Medical Journal Vol 2, No 1 (2019): Smart Medical Journal
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.62 KB) | DOI: 10.13057/smj.v2i1.27284

Abstract

Pendahuluan: Asma merupakan suatu penyakit saluran pernapasan yang disebabkan karena adanya proses inflamasi kronik. Asma menyebabkan terjadinya gejala pernapasan seperti wheezing (mengi), sesak napas, dada sesak dan batuk yang terjadi terutama pada malam hari atau menjelang pagi hari. Jumlah kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2013 sebesar 113.028 kasus dan kasus paling banyak terdapat di Kota Surakarta yaitu 10.393 kasus. Gejala asma lebih sering muncul pada malam hari atau menjelang pagi hari. Gangguan pernapasan yang muncul dapat mengganggu aktivitas tidur sehingga menyebabkan menurunnya kualitas tidur seseorang. Selain itu, gangguan pernapasan saat tidur akan semakin berat apabila seorang penderita asma memiliki Indeks Massa Tubuh yang tinggi seperti pada obesitas serta pada IMT yang terlalu rendah (kurus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur pasien asma terkontrol sebagian pada kategori indeks massa tubuh (IMT).Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta pada bulan Oktober – Desember 2018 dengan melibatkan 75 sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terpimpin dan pengukuran IMT pada pasien asma terkontrol sebagian. Data dianalisis secara statistik dengan uji Fisher’s Exact Test.Hasil: Pada pasien asma terkontrol sebagian dengan IMT normal, kualitas tidur baik lebih banyak terjadi dibandingkan kualitas tidur buruk yaitu sebesar 57,14%, sedangkan pasien dengan IMT kurus dan gemuk memiliki kualitas tidur buruk lebih dominan dengan persentase berturut-turut sebesar 100% dan 75%. Hasil uji Fisher’s Exact Test kualitas tidur pasien asma terkontrol sebagian pada kelompok IMT kurus dan normal adalah signifikan secara statistik (p=0,004), kelompok IMT normal dan gemuk signifikan secara statistik (p=0,013), serta kelompok IMT kurus dan gemuk tidak signifikan secara statistik (p=0,173).Kesimpulan: Terdapat perbedaan kualitas tidur pasien asma terkontrol sebagian pada kategori Indeks Massa Tubuh (IMT). Kata Kunci: Asma, Kualitas Tidur, IMT