cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 41 Documents
Search results for , issue "vol 21, no 1 (2024): inovasi kurikulum, february 2024" : 41 Documents clear
Infusion PCTS Syntax in the Implementation of the Middle School Science Curriculum Nia Kurniawati; Rudi Susilana; Budi Setiawan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62812

Abstract

Curriculum implementation is an important stage in supporting the success of a curriculum designed by educational institutions. This research aims to apply the PCTS syntax in one of the science learning materials in junior high schools. PCTS is a learning model that focuses on improving students' critical thinking abilities through solving contextual problems. The method used in this research is a qualitative method using a descriptive approach. Data was collected through document study. Data analysis techniques through reduction, presentation, and conclusion. The findings obtained are that the PCTS model is quite easy to apply to science learning as a form of curriculum implementation, and is very supportive of improving students' critical thinking through the PCTS syntax, especially in the last two steps of the syntax. The conclusion is that the PCTS model is believed to support the implementation of the Merdeka Science Curriculum for Middle Schools in improving the critical thinking of individual students through the infusion of PCTS model syntax in science learning at the middle school level. AbstrakImplementasi kurikulum merupakan tahapan penting dalam menunjang keberhasilan suatu kurikulum yang dirancang oleh institusi pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan syntax PCTS dalam salah satu materi pembelajaran IPA di SMP. PCTS merupakan model pembelajaran yang berfokus pada peningkatan kemampuan berfikir kritis siswa melalui penyelesaian masalah kontekstual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui study dokumen. Teknik analisis data melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Temuan yang didapat yaitu model PCTS ini cukup mudah diaplikasikan kedalam pembelajaran IPA sebagai bentuk implementasi kurikulum, dan sangat mendukung terhadap peningkatan critical thinking siswa melalui syntax PCTS, khusunya pada dua langkah terakhir syntax tersebut. Kesimpulannya bahwa Model PCTS ini diyakini akan mendukung implementasi Kurikulum Merdeka IPA SMP dalam meningkatkan critical thinking siswa secara individu melalui infusi syntax model PCTS dalam pembelajaran IPA tingkat SMP.Kata kunci: Critical thinking; implementasi kurikulum; model PCTS; pembelajaran IPA
Integration of integrated Islamic school curriculum into Kurikulum Merdeka R. Rahmat
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63071

Abstract

Integrated Islamic Schools (SIT) is a unique entity specifically born in Indonesia at the same time as the Nurul Fikri Integrated Islamic Elementary School in Depok in 1993. This school model developed rapidly until 2003 when the Integrated Islamic Schools Network was declared, and more than 1000 schools were established throughout Indonesia. This research discusses the stages and layers in developing a typical curriculum for Integrated Islamic Schools. The research results show that integrated Islamic schools organize themselves, including organizing the curriculum to align with all applicable rules and regulations in Indonesia. On the other hand, it aligns with the established institutional vision. In this way, integrated Islamic schools carry out a curriculum development process. This development process is carried out through various stages and layers, namely through conceptual aspects to realize belief in the creator, aspects of subject matter containing religious knowledge (kauliyah) and worldly knowledge (kauniyah), as well as integration in implementation to create education that is academic, spiritual, ethics, and social. AbstrakIntegrated Islamic Schools merupakan entitas unik yang secara spesifik lahir di Indonesia bersamaan dengan hadirnya Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri di Depok pada tahun 1993. Model sekolah ini berkembang pesat, hingga tahun 2003 saat Jaringan Integrated Islamic Schools dideklarasikan telah tercatat lebih dari 1000 sekolah berdiri di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang tahapan dan lapisan yang dimaksud dalam konteks pengembangan kurikulum khas Integrated Islamic Schools. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekolah islam terpadu melakukan penataan dirinya termasuk menata kurikulum agar sejalan dengan seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia dan disisi lain sejalan dengan visi kelembagaan yang didirikan. Dengan demikian maka sekolah islam terpadu melakukan proses pengembangan kurikulum. Proses pengembangan ini dilakukan melalui berbagai tahapan dan lapisan, yaitu melalui aspek konseptual untuk mewujudkan keyakinan kepada pencipta, aspek materi pelajaran yang mengandung ilmu agama (kauliyah) maupun ilmu duniawi (kauniyah), serta integrasi dalam implementasi untuk menciptakan pendidikan yang bersifat akademis, spiritual, etika, dan sosial.Kata Kunci: Integrated Islamic Schools; kurikulum merdeka; kurikulum nasional; kurikulum terpadu; pengembangan kurikulum
A comparative curriculum analysis from the perspective of data science Adi Susanto; Dian Endang Lestari; Maulina Fakhrunnisa Salsanabila
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.66317

Abstract

The importance of data science in the mathematics curriculum at the elementary school level is to encourage data literacy from an early age and support the increasing demand for a data-literate society. This study aims to determine how and to what degree data science and related abilities are taught in Indonesian mathematics curricula, especially at the elementary school level. The research method used in this research is a qualitative research method with a literature study approach. Data was collected through documents obtained from the 2013 curriculum and Kurikulum Merdeka. The research results show that data material in the Kurikulum Merdeka has been given to students in phase A, or generally grades 1 and 2. However, in the 2013 curriculum, data material is given to grade 3 or phase B students. Moreover, the data material used in the Kurikulum Merdeka is explicitly related to data from many objects and data from measurements. In contrast, the 2013 curriculum relates to student data and their environment. Additionally, in representing data and material in the field of study, there are differences in the order between the curriculum of 2013 and the Kurikulum Merdeka. AbstrakPentingnya ilmu data dalam kurikulum matematika di tingkat sekolah dasar untuk mendorong literasi data sejak dini dan mendukung peningkatan permintaan masyarakat yang melek data. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami bagaimana dan sejauh mana pengetahuan dan keterampilan data dipelajari dalam kurikulum matematika di Indonesia utamanya di tingkat sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data dikumpulkan melalui instrumen dokumen yang diperoleh dari dokumen yang berkaitan dengan kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi data dalam kurikulum merdeka sudah diberikan kepada siswa pada fase A atau umumnya kelas 1 dan 2, namun dalam kurikulum 2013 materi data baru diberikan kepada siswa pada kelas 3 atau setara dengan fase B. Selain itu, materi data yang digunakan dalam kurikulum merdeka secara eksplisit terkait dengan data dari banyak benda dan data hasil pengukuran, sedangkan dalam kurikulum 2013 terkait data diri peserta didik dan lingkungannya. Tidak hanya itu saja, dalam merepresentasikan data dan juga materi bidang kajian, terdapat perbedaan urutan dalam kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka.Kata Kunci: Ilmu data; kurikulum Matematika; sekolah dasar; studi komparatif.
Eco-literacy components on Kurikulum Merdeka: 5th-grade elementary school’s IPAS textbook analysis Kartika Nofiyanti; Yulia Maftuhah Hidayati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64029

Abstract

The study was conducted to analyze eco-literacy components in Kurikulum Merdeka, especially those contained in IPAS textbooks for grade 5th elementary school students, to facilitate the development of students' environmental literacy skills. The method for this study uses a qualitative approach, with data collection using content analysis techniques. Test the validity of the data using an expert judgment approach. The research finding that the six components of eco-literacy have been included in Kurikulum Merdeka, in the IPAS textbook for grade 5th elementary school students. There are many Cognitive Knowledge components and Knowledge of Environmental Issues components in books, but the Affection components, Ecological and Natural History knowledge components, Socio-political Knowledge components, and Environmentally Responsible Behavior (ERB) components still receive less attention. The results of this study from the analysis of eco-literacy components suggest that there should be further study and development regarding eco-literacy-based learning media to support eco-literacy education in Indonesia. AbstrakKajian ini dilakukan guna menganalisis komponen ekoliterasi pada Kurikulum Merdeka, terutama yang termuat dalam buku teks Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) siswa kelas V Sekolah Dasar, sehingga dapat memfasilitasi pengembangan kecakapan literasi ekologi siswa. Jenis metode kajian ini adalah pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan datanya menggunakan desain analisis isi (Content Analysis). Metode keabsahan data yang digunakan adalah penilaian ahli (Expert Judgement). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa enam komponen ekoliterasi telah termuat pada Kurikulum Merdeka, yaitu di dalam buku teks IPAS siswa kelas V Sekolah Dasar. Komponen Pengetahuan Kognitif serta Komponen Pengetahuan terhadap Masalah dan Isu Lingkungan merupakan komponen yang banyak ditemukan di dalam buku teks. Namun, komponen Afeksi, Pengetahuan Ekologi dan Sejarah Alam, Pengetahuan Sosial-Politik, serta Komponen Perilaku Bertanggung Jawab terhadap Lingkungan masih belum banyak mendapatkan perhatian. Hasil dari kajian tentang analisis komponen ekoliterasi ini menyarankan adanya kajian dan pengembangan lebih lanjut terkait media pembelajaran berbasis ekoliterasi untuk mendukung pendidikan literasi lingkungan di Indonesia.Kata Kunci: Buku teks; ekoliterasi; Kurikulum Merdeka; Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Foundations of Kurikulum Merdeka development in elementary education (from a philosophical perspective) Abdul Rahman; Babang Robandi
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65859

Abstract

The mismatch of philosophical foundations often causes the ineffectiveness of curriculum implementation. Ideally, the philosophical basis of a curriculum guides its implementation direction. This research examines the philosophical foundation for developing primary education curricula, particularly the Kurikulum Merdeka. The method employed Library Research by sourcing data from nationally and internationally indexed journals. This study is crucial to understanding the philosophical basis underlying the "Kurikulum Merdeka" in primary education. Findings reveal diverse approaches in the learning process, reinforcement of specific values, and a unique focus in preparing students for complex societal life. The Kurikulum Merdeka in basic education is based on various philosophical schools ranging from idealism, realism, pragmatism, existentialism, and perennialism to progressivism, reconstructivism, postmodernism, and humanism in education to create a learning environment that is diverse, responsive, and relevant for students' overall development. By applying these streams, the curriculum aims to create a responsive and holistic learning platform that caters to students' needs in this ever-evolving era. Abstrak Ketidakefektifan implementasi kurikulum sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian landasan filosofi yang digunakan. Landasan filosofi sebuah kurikulum memperjelas arah implementasinya. Penelitian ini bertujuan mengamati landasan filosofis yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar, khususnya Kurikulum Merdeka. Metode pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pengambilan data dari jurnal yang terindeks nasional dan internasional yang memiliki kaitan dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini penting untuk memahami dasar filosofis yang melandasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar. Hasilnya menunjukkan beragam pendekatan dalam proses pembelajaran, penguatan nilai-nilai khusus, dan fokus unik dalam mempersiapkan siswa menghadapi masyarakat yang kompleks. Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar didasarkan pada berbagai aliran filsafat mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme, hingga progresivisme, rekonstruktivisme, postmodernisme, dan humanisme dalam pendidikan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang beragam, responsif, dan relevan bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan menerapkan aliran-aliran ini, kurikulum tersebut bertujuan menciptakan platform pembelajaran yang responsif dan holistik bagi kebutuhan siswa di era yang terus berkembang. Kata Kunci: Landasan filosofis; pengembangan kurikulum; pendididkan dasar
Indigenous knowledge in Indonesia curriculum development: Literature review of Indonesia's education policy Nurbaya Pulhehe
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.61910

Abstract

Indigenous knowledge is defined as traditional knowledge, ecological knowledge, and indigenous society science that has existed throughout history and continues to be inherited from generation to generation. One of the fulfillments of indigenous people's education rights in Indonesia is the existence of some policies implemented related to indigenous knowledge and other values. This article aimed to explore how indigenous knowledge contributes to the curriculum development of Indonesia. A literature review was conducted on several of Indonesia’s education policies and some studies on implementing each policy. The result shows that indigenous knowledge can also advance broader public education goals. Even though some implementations were not as standard as the target, it should be realized that the policy has made, for instance, the special education services (PLK), the local curriculum that covers the native language, which is part of indigenous knowledge established, have a huge impact on the indigenous community. Then, the current policy for revitalizing native languages in Kurikulum Merdeka Episode 17 in 2022 has been in line to advance and develop the cultural identities of Indigenous people in Indonesia. AbstrakPengetahuan adat didefinisikan sebagai pengetahuan tradisional, pengetahuan ekologi, dan ilmu masyarakat adat yang telah ada sepanjang sejarah dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bentuk implikasi hak pendidikan bagi masyarakat adat di Indonesia adalah adanya kebijakan-kebijakan yang diterapkan terkait dengan pengetahuan adat dan nilai-nilai lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengetahuan adat menjadi bagian dalam pengembangan kurikulum Indonesia. Sebuah tinjauan literatur digunakan untuk menganalisis beberapa kebijakan pendidikan Indonesia yang berlaku dan penelitian lainnya terkait implementasi dari masing-masing kebijakan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan adat dapat meningkatkan tujuan pendidikan yang lebih luas. Meskipun beberapa implementasi hasil kebijakan tersebut tidak terlaksana sesuai target. Tetapi, perlu dipahami bahwa kebijakan yang telah dibuat, seperti, adanya layanan pendidikan khusus (PLK), kurikulum muatan lokal yang mencakup bahasa daerah sebagai bagian dari pengetahuan adat, memiliki dampak besar pada masyarakat adat. Kemudian, adanya kebijakan revitalisasi bahasa daerah dalam Kurikulum Merdeka episode 17 pada tahun 2022 juga telah sejalan dengan tujuan untuk memajukan dan mengembangkan identitas budaya dari masyarakat adat di Indonesia.Kata Kunci: Kebijakan kurikulum; pendidikan masyarakat adat; pengetahuan adat
Technology in listening and writing learning for BIPA learners Hazhiyah Flldzah Nurramdhani; Nuny Sulistiany Idris; Ida Widia
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65481

Abstract

This research discusses the use of technology in BIPA learning, with a particular focus on listening and writing skills. This research will explore how technology can improve BIPA students' listening and writing skills. By understanding the potential and challenges of using technology in BIPA learning, it is hoped that this research will contribute to developing more effective learning methods in the BIPA context. This research method uses a descriptive qualitative design. This is based on research data in the form of the results of filling out a questionnaire, and the researcher acts as the main instrument. It was found that, on average, BIPA teachers have used technology in BIPA learning, especially for listening and writing. In the context of BIPA learning, technology has proven to be an effective tool for improving BIPA students' listening and writing skills. Technology also positively influences BIPA learning, especially when it can make learning more exciting and varied. Learners have rich exposure and experience of languages used today. However, the research results also show that the use of technology in BIPA learning also has challenges, barriers, and obstacles. AbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA, dengan fokus khusus pada keterampilan menyimak dan menulis. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan menulis siswa BIPA. Dengan memahami potensi dan tantangan penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif dalam konteks BIPA. Metode penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Hal ini didasarkan pada data penelitian berupa hasil pengisian angket dan peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengajar BIPA telah menggunakan teknologi dalam pembelajaran BIPA, terutama untuk menyimak dan menulis. Dalam konteks pembelajaran BIPA, teknologi terbukti menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kemampuan menyimak dan menulis siswa BIPA. Teknologi juga memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran BIPA, terutama ketika teknologi dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bervariasi. Para pembelajar memiliki eksposur dan pengalaman yang kaya akan bahasa yang digunakan saat ini. Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran BIPA juga memiliki tantangan, hambatan, dan rintangan tersendiri.Kata Kunci: BIPA; menulis; menyimak; pembelajaran; teknologi
Utilization of digital technology to improve the speaking skills of BIPA Francophone students Muhammad Farhan Basarah; Dadang Sunendar
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.66754

Abstract

This research discusses using digital technology to improve speaking skills for BIPA francophone students. BIPA students frequently struggle to interact and communicate with Indonesian society daily, particularly those who identify as francophones. EC, a French BIPA UPI Education student, encountered one specific instance of these challenges. Her strong French accent interfered with his ability to pronounce words correctly in Indonesian and with her interactions with other Indonesians. Therefore, to realize active and communicative learning of BIPA speaking skills, appropriate media is needed to support it. In learning BIPA speaking skills, online platforms such as digital modules can improve verbal interaction and understanding of language context. This research method uses a qualitative descriptive design. This is based on research results in interviews with BIPA teachers. The research results show that digital technology-based BIPA teaching with Indonesian tourism and culture content significantly improves the speaking skills of francophone BIPA students. Improving speaking skills focuses on improving vocabulary and daily dialogue, including Indonesian tourism and cultural content, especially Bandung, Paris Van Java. AbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan keterampilan berbicara bagi para siswa BIPA frankofon. Pemelajar BIPA khususnya frankofon seringkali mengalami kendala dalam berkomunikasi dan berbaur dengan Masyarakat Indonesia dalam berkehidupan sehari-hari. Salah satu contoh konkret kendala tersebut dialami oleh EC, mahasiswa Pendidikan BIPA UPI asal Prancis yang memiliki aksen bahasa Prancis yang sangat kental sehingga mempengaruhi artikulasi pengucapan bahasa Indonesianya dan hubungan komunikasinya dengan orang Indonesia. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pembelajaran keterampilan berbicara BIPA yang aktif dan komunikatif, diperlukan media yang tepat untuk menunjangnya. Dalam pembelajaran keterampilan berbicara BIPA, pemanfaatan berbagai platform daring seperti modul digital dapat meningkatkan interaksi verbal dan pemahaman konteks bahasa. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang berupa hasil wawancara kepada para pengajar BIPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran BIPA berbasis teknologi digital bermuatan wisata dan budaya Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa BIPA frankofon. Peningkatan keterampilan berbicara tidak hanya terfokuskan pada peningkatan kosakata dan dialog sehari-hari, tetapi juga meliputi muatan wisata dan budaya Indonesia khususnya Bandung sebagai kota Paris Van Java.Kata Kunci: Frankofon; Penutur BIPA; Teknologi Digital; Wisata Bandung
Teacher efforts' to prepare implementation of Kurikulum Merdeka in elementary school Isti Qotimah; R. Rusman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62003

Abstract

The Kurikulum Merdeka seeks to improve the quality of human resources according to community needs. This research aims to describe and analyze teacher readiness in implementing the Kurikulum Merdeka for elementary schools in Coblong District to determine the curriculum's implementation based on diverse school backgrounds. This research uses a quantitative approach through descriptive methods with instruments like questionnaires and documentation studies. The sample for this research was all elementary school teachers who implemented the Kurikulum Merdeka and were selected to run the Sekolah Penggerak program, totaling 45 teachers. The findings relate to teachers' emotional, cognitive, and behavioral readiness in implementing Kurikulum Merdeka. Most teachers are ready to implement Kurikulum Merdeka by participating in training and socializing with other teachers. Readiness is also demonstrated in designing, implementing, and assessing learning. Positive behavior towards curriculum implementation is realized through partnerships and time management efforts to achieve goals. Overall, in every aspect of teacher readiness, it shows that most Sekolah Penggerak elementary school teachers in Coblong District, Bandung City, are ready to implement Kurikulum Merdeka. AbstrakKurikulum merdeka berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kesiapan guru dalam implementasi kurikulum merdeka sekolah dasar Kecamatan Coblong guna mengetahui implementasi kurikulum berdasarkan latar belakang sekolah yang beragam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode deskriptif dengan instrumen berupa angket dan studi dokumentasi. Sampel penelitian ini adalah seluruh guru sekolah dasar yang menerapkan kurikulum merdeka dan terpilih untuk menjalankan program sekolah penggerak berjumlah 45 guru. Hasil temuan berkaitan dengan kesiapan emosi, kognitif dan perilaku guru dalam implementasi kurikulum merdeka. Sebagian besar guru siap mengimplementasikan kurikulum merdeka dengan mengikuti pelatihan maupun bersosialisasi kepada guru lainnya. Kesiapan juga ditunjukan dalam merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Perilaku positif terhadap implementasi kurikulum terwujud melalui adanya kemitraan dan upaya manajemen waktu untuk mencapai tujuan. Secara keseluruhan, pada setiap aspek kesiapan guru menunjukkan bahwa sebagian besar guru sekolah dasar penggerak di Kecamatan Coblong Kota Bandung telah siap mengimplementasikan kurikulum merdeka.Kata Kunci: Pendidikan; kurikulum; kesiapan guru; sekolah dasar.
Utilization of Kurikulum Merdeka to develop diversity character at Mentari Ambarawa School Rosi Tunas Karomah; Santi Fahrima; Kulsum Nur Hayati; Andi Prasetyo
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64108

Abstract

Good education races in an independent curriculum that promotes freedom in regulating learning patterns. A good education will produce good character in diversity. This study aims to analyze the results of using the independent curriculum in developing the character of diversity in children. The method used in this research is a phenomenological qualitative approach that relates to the findings. The subjects of this study were class teachers and observation to 25 students. Data collection techniques are done by observing, interviewing, and documenting. Data analysis by doing data reduction, presentation, and data verification. The results of this study indicate that the use of the independent curriculum to develop the character of diversity that has been implemented results in students becoming more polite in their actions, then adding broader insights related to diversity and full or supportive support in the implementation of other people's religious activities. The results of this study have implications related to the character of diversity which can be developed by applying independent curriculum-based teaching. And implementing an independent curriculum to form children’s character who is high intolerance AbstrakPendidikan yang baik berpacu pada kurikulum merdeka yang mengedepankan kebebasan dalam mengatur pola pembelajaran. Pendidikan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik dalam keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hasil penggunaan kurikulum mandiri dalam mengembangkan karakter keberagaman pada anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif fenomenologis yang berkaitan dengan temuan-temuan di sekitar. Subjek penelitian ini adalah guru kelas dan observasi kepada peserta didik sebanyak 25 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan melakukan reduksi data, penyajian dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kurikulum mandiri untuk mengembangkan karakter keberagaman yang telah diterapkan menghasilkan peserta didik menjadi lebih santun dalam bertindak, kemudian menambah wawasan yang lebih luas terkait keberagaman dan dukungan penuh atau suportif dalam penerapan lainnya. kegiatan keagamaan masyarakat. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi terkait karakter keberagaman yang dapat dikembangkan dengan menerapkan pembelajaran berbasis kurikulum mandiri. Menerapkan kurikulum merdeka untuk membentuk karakter anak yang tinggi akan toleransiKata Kunci: Karakter kebhinekaan; karakter kesetaraan; Kurikulum Merdeka