cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 38 Documents
Search results for , issue "vol 21, no 4 (2024): inovasi kurikulum, november 2024" : 38 Documents clear
Pop-up book Putri Tujuh to improve the ability to read aloud Rizka Ardini; S. Safran
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72906

Abstract

This study aims to develop an interactive learning medium in the form of a pop-up book titled Putri Tujuh to enhance the reading-aloud ability of third-grade students at SD Negeri 057751 Simpang UPL. The study followed the ADDIE development model, which involved five stages. Firstly, the analysis stage revealed the need for more engaging learning media. Secondly, the design stage focused on creating a pop-up book design using simple materials as an interactive learning tool. Thirdly, the development stage involved validation by material and language experts, resulting in a high feasibility rating. Fourthly, the implementation stage included an effectiveness test that showed a significant improvement in reading skills and a practicality test that indicated the media's usefulness. Finally, the evaluation stage concluded that the product did not require further improvement based on the positive results of the tests conducted. The media effectively increased students' reading-aloud skills and reading interests. The implications of this research suggest that the use of pop-up books can be an effective alternative in teaching reading aloud in elementary schools, providing a solution to increase student motivation and engagement and assisting teachers in delivering more interactive and engaging learning materials. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berupa buku pop-up berjudul Putri Tujuh untuk meningkatkan kemampuan membaca nyaring siswa kelas III SD Negeri 057751 Simpang UPL. Penelitian ini mengikuti model pengembangan ADDIE yang meliputi lima tahap. Pertama, tahap analisis mengungkapkan perlunya media pembelajaran yang lebih menarik. Kedua, tahap desain difokuskan pada pembuatan desain buku pop-up sebagai alat pembelajaran interaktif dengan menggunakan bahan ajar sederhana. Ketiga, tahap pengembangan melibatkan validasi oleh ahli materi dan bahasa, menghasilkan peringkat kelayakan yang tinggi. Keempat, tahap implementasi meliputi uji efektivitas yang menunjukkan peningkatan keterampilan membaca yang signifikan, serta uji praktikalitas yang menunjukkan kegunaan media. Terakhir, tahap evaluasi menyimpulkan bahwa produk tidak memerlukan perbaikan lebih lanjut berdasarkan hasil positif dari uji yang dilakukan. Media efektif meningkatkan keterampilan membaca nyaring dan minat baca siswa. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan buku pop-up dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pengajaran membaca nyaring di sekolah dasar, memberikan solusi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, serta membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik.Kata Kunci: buku pop-up; cerita rakyat; membaca nyaring
Andragogy-based learning model for intergenerational salted egg businesses in Tangerang Regency Mustofa Kamil; Sri Yanti; Dadang Yunus; P. Purnomo
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74367

Abstract

This study examines the andragogical learning model in the context of intergenerational businesses, specifically within the salted egg artisans community in Tangerang Regency. Intergenerational businesses face significant challenges in transferring knowledge and values between generations, often experiencing shifts due to differences in perspectives and priorities. The andragogical approach emphasizes the importance of learning relevant to adults' needs and life experiences. This approach involves collaboration between older and younger generations in family businesses to address shared challenges. This research employs a case study method to identify effective learning models for managing knowledge transfer and values within the salted egg artisans community. The results indicate that an andragogy-based collaborative learning model, which involves both generations in the learning process through practical experience and joint discussions, effectively enhances business sustainability. This approach not only improves technical skills and knowledge but also strengthens the understanding of traditional values and modern innovations, which are crucial for the sustainability and success of intergenerational businesses. The study suggests the need for flexibility and adaptability in learning models to ensure the successful transfer of knowledge and values between generations in family businesses. AbstrakPenelitian ini mengkaji model pembelajaran berbasis andragogi dalam bisnis intergenerasi, khususnya pada komunitas pengrajin telur asin di Kabupaten Tangerang. Bisnis intergenerasi menghadapi tantangan besar dalam transfer pengetahuan dan nilai antar generasi, yang sering kali mengalami pergeseran seiring dengan perbedaan cara pandang dan prioritas. Pendekatan andragogi menekankan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan pengalaman hidup orang dewasa, dan dalam bisnis keluarga, pendekatan ini melibatkan kolaborasi antara generasi tua dan muda untuk mengatasi tantangan bersama. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk mengidentifikasi model pembelajaran yang efektif dalam mengelola transfer pengetahuan dan nilai dalam komunitas pengrajin telur asin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran collaborative learning berbasis andragogi, yang melibatkan kedua generasi dalam proses belajar melalui praktik nyata dan diskusi bersama, efektif dalam memperkuat keberlanjutan usaha. Model collaborative learning meningkatkan keterampilan teknis dan pengetahuan, juga memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai tradisional dan inovasi modern, yang keduanya penting untuk keberlanjutan dan kesuksesan bisnis intergenerasi. Penelitian ini menyarankan perlunya fleksibilitas dan adaptabilitas dalam model pembelajaran untuk memastikan keberhasilan transfer pengetahuan dan nilai antar generasi dalam bisnis keluarga.Kata Kunci: andragogi; bisnis intergenerasi; pembelajaran kolaboratif; transfer nilai; transfer pengetahuan
Psychological factors and customized learning pathways in curriculum design Habibat Bolanle Abdulkareem; Kamoru Abidoye Tiamiyu; Aldulkareem Olalekan Abubakar; Rukayat Adetoun Abdulkareem; Fadilat Oluwakemi Adegbenro
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.69694

Abstract

This study explores the prevalence of mental health and learning pathways among undergraduate students in Kwara State, Nigeria. It examines the relationship between personality traits, learning pathways, and mental health behavior. Analyzing data from 1,502 respondents, the study categorizes mental health behavior into low, moderate, and high levels. Results indicate that most students (55.9 percent) exhibit low mental well-being, while 32.7 percent show moderate and 11.5 percent demonstrate high mental well-being. Regression analysis reveals that personality traits, including agreeableness, conscientiousness, neuroticism, openness to experience, and extraversion, collectively account for 51.2 percent of the variance in mental health scores. Among these traits, only conscientiousness significantly contributes, while other traits like neuroticism and agreeableness do not significantly impact mental health. These findings contrast with previous studies that reported higher levels of psychological distress and varying influences of personality traits on mental health. Recommendations include incorporating comprehensive mental health assessments into curricula, providing tailored mental health support, and integrating mental health resources within the educational framework. The study underscores the need for targeted interventions and support to address the high prevalence of low mental well-being among university undergraduates in the region. AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi prevalensi kesehatan mental dan jalur belajar di kalangan mahasiswa sarjana di Negara Bagian Kwara, Nigeria, dan meneliti hubungan antara sifat-sifat kepribadian, jalur belajar, dan perilaku kesehatan mental. Menganalisis data dari 1.502 responden, penelitian ini mengkategorikan perilaku kesehatan mental ke dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (55,9 persen) menunjukkan kesehatan mental yang rendah, sementara 32,7 persen menunjukkan kesehatan mental yang sedang, dan 11,5 persen menunjukkan kesehatan mental yang tinggi. Analisis regresi mengungkapkan bahwa sifat-sifat kepribadian, termasuk kesetujuan, ketelitian, neurotisme, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstraversi, secara kolektif menyumbang 51,2 persen dari varians dalam skor kesehatan mental. Di antara sifat-sifat ini, hanya conscientiousness yang menunjukkan kontribusi yang signifikan, sementara sifat-sifat lain seperti neuroticism dan agreeableness tidak secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental. Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi dan berbagai pengaruh dari sifat-sifat kepribadian terhadap kesehatan mental. Rekomendasi yang diberikan termasuk memasukkan penilaian kesehatan mental yang komprehensif ke dalam kurikulum, menyediakan dukungan kesehatan mental yang disesuaikan, dan mengintegrasikan sumber daya kesehatan mental dalam kerangka kerja pendidikan. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi dan dukungan yang ditargetkan untuk mengatasi tingginya prevalensi kesejahteraan mental yang rendah di kalangan mahasiswa di wilayah ini.Kata Kunci: desain kurikulum; kesehatan mental; penyesuaian pembelajaran; mahasiswa
Principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools Adeseko Sunday Olaifa; Solawat Ajibola Hassan; Simbiat Mojibola Fagbola; Oba Baba Ayoku; Taibat Joke Abolarin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74688

Abstract

The study examined principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. The objectives of the study were to examine the managerial factors of principals in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State; determine the level of teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State; and investigate the relationship between principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. The Research Advisor's sample size determination was used to select 317 respondents. Principals’ Managerial Factors and Teachers’ Job Effectiveness Questionnaire were used to collect the data for this study. Findings indicated a significant relationship between principals’ managerial factors and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. There was a significant relationship between principals’ communication skills, principals’ supervisory skills, principals’ record-keeping skills, and principals’ interpersonal relationship skills, and teachers’ job effectiveness in public senior secondary schools in Ilorin Metropolis, Kwara State. It was recommended, among others, that school principals improve their communication skills by adopting different means of communication to ensure every teacher does his or her teaching job well. AbstrakStudi ini menguji faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji faktor manajerial kepala sekolah di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara; menentukan tingkat efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara dan menyelidiki hubungan antara faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Penentuan ukuran sampel Research Advisors digunakan untuk memilih 317 responden. Faktor Manajerial Kepala Sekolah dan Kuesioner Efektivitas Kerja Guru digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor manajerial kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan komunikasi kepala sekolah, keterampilan pengawasan kepala sekolah, keterampilan pencatatan kepala sekolah dan keterampilan hubungan interpersonal kepala sekolah dengan efektivitas kerja guru di sekolah menengah atas negeri di Ilorin Metropolis, Negara Bagian Kwara. Direkomendasikan antara lain; kepala sekolah harus berupaya meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan menggunakan cara komunikasi yang berbeda untuk memastikan setiap guru melakukan pekerjaan mengajarnya dengan baik.Kata Kunci: efektivitas kinerja guru; faktor manajerial kepala sekolah; keterampilan komunikasi
Kurikulum Merdeka: Solution or causation of students' lack of soft skills? W. Wahyudin; Kania Lisdiana; Alya Arthamevia Solehuddin; Eptina Fatmawati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.71267

Abstract

Kurikulum Merdeka is a curriculum concept that allows teachers and students to choose and develop learning content according to their respective needs and conditions. This study aims to critically analyze the implementation of the Kurikulum Merdeka, with a focus on the impact on students' soft skills development. Unlike previous studies that mainly evaluate academic effectiveness, this research examines how well Kurikulum Merdeka succeeds or fails in fostering essential soft skills among students. The method used is a literature study, which involves an in-depth analysis of various relevant written sources. The results show that Kurikulum Merdeka provides mixed results in developing students' soft skills. Although there is an improvement in students' communication skills, the results are still below the expected target. In addition, students' empathy skills did not improve as expected, highlighting significant challenges in instilling empathy through this curriculum. The main barriers identified include a lack of training and support for teachers, limitations in teaching methods, and a lack of support from the home environment and parental involvement. Several strategies need to be implemented to improve the effectiveness of Kurikulum Merdeka. These strategies include improving teacher training, diversifying teaching methods, and increasing parental involvement in education. AbstrakKurikulum Merdeka adalah konsep kurikulum yang memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk memilih dan mengembangkan konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis implementasi Kurikulum Merdeka, dengan fokusnya pada dampak terhadap pengembangan softskill peserta didik. Tidak seperti penelitian sebelumnya yang terutama mengevaluasi efektivitas akademik, penelitian ini meneliti seberapa baik Kurikulum Merdeka berhasil atau gagal dalam membina softskill yang penting di kalangan peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi literatur, yang melibatkan analisis mendalam dari berbagai sumber tertulis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan hasil yang beragam dalam mengembangkan softskill peserta didik. Meskipun terdapat peningkatan kemampuan komunikasi peserta didik, hasil yang ada masih di bawah target yang diharapkan. Selain itu, kemampuan empati peserta didik tidak meningkat seperti yang diharapkan, sehingga menyoroti tantangan yang signifikan dalam menanamkan empati melalui kurikulum ini. Hambatan utama yang teridentifikasi termasuk kurangnya pelatihan dan dukungan untuk guru, keterbatasan dalam metode pengajaran, dan kurangnya dukungan dari lingkungan rumah dan keterlibatan orang tua. Untuk meningkatkan efektivitas Kurikulum Merdeka, beberapa strategi perlu diterapkan. Strategi ini meliputi peningkatan pelatihan bagi guru, diversifikasi metode pengajaran, dan peningkatan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.Kata Kunci: implementasi kurikulum; kurikulum merdeka; softskill peserta didik
Trends in using Internet-based learning media for students during the COVID-19 pandemic Muhammad Yus Firdaus; Mustofa Kamil; P. Purnomo
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74368

Abstract

The COVID-19 pandemic has led to a profound transformation in the global education system, forcing a sudden shift from face-to-face teaching to online learning. This study aims to understand how students have utilized technology for online learning during the pandemic, focusing on using the internet and smartphones and evaluating the effectiveness of various applications and platforms such as WhatsApp, Zoom, and Learning Management Systems (LMS). A descriptive quantitative research method was employed with a survey technique involving 220 students from Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) to gather data on their technology use activities. The findings indicate that UNIS students predominantly use the internet for learning and information-seeking, while smartphones are more frequently used for communication and entertainment. WhatsApp and Zoom are the most commonly used applications for online learning, reflecting a preference for familiar and easily accessible platforms. The study highlights the need for improved digital skills and technology access to support more effective learning. Recommendations include developing technology training for educators, providing better student resources, and integrating online learning models into long-term educational strategies to enhance education quality and flexibility. AbstrakPandemi COVID-19 telah mengakibatkan transformasi mendalam dalam sistem pendidikan global, memaksa pergeseran dari metode tatap muka ke pembelajaran daring secara mendadak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penggunaan teknologi oleh mahasiswa dalam konteks pembelajaran daring selama pandemi, dengan fokus pada pemanfaatan internet dan smartphone, serta efektivitas berbagai aplikasi dan platform seperti WhatsApp, Zoom, dan LMS. Metode penelitian kuantitatif deskriptif digunakan dengan teknik survei terhadap 220 mahasiswa Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas teknologi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa UNIS dominan menggunakan internet untuk belajar dan mencari informasi, sementara smartphone lebih sering digunakan untuk komunikasi dan hiburan. WhatsApp dan Zoom adalah aplikasi paling sering digunakan untuk pembelajaran daring, mencerminkan preferensi terhadap platform yang familiar dan mudah diakses. Temuan ini menyoroti perlunya peningkatan keterampilan digital dan akses teknologi untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif. Penelitian ini menyarankan pengembangan pelatihan teknologi untuk pengajar dan penyediaan sumber daya yang lebih baik bagi mahasiswa, serta integrasi model pembelajaran daring dalam strategi pendidikan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan fleksibilitas pendidikan.Kata Kunci: COVID-19; pembelajaran jarak jauh; pembelajaran online
Political review of the failure of the revision of Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional in 2023 and its impact on education in Indonesia Boyke Azwar; Muhammad Sirozi; Sholihah Titin Sumanti
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.72040

Abstract

The national education system, according to Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, is considered not to have undergone in-depth study and ignores various important considerations, resulting in discrimination that is contrary to the principle of justice that the government should uphold. Therefore, the government has attempted to revise the law and improve the legal framework for education in Indonesia to align with society's times and needs. However, the revision failed to enter the Priority Prolegnas in 2023. This study aims to examine the political factors that caused the failure of the revision of Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System (SISDIKNAS) in 2023. This study uses a qualitative case study approach by analyzing various political dynamics during the revision process. The study results indicate that a combination of internal factors, such as differences of opinion between political parties and factions in the DPR, and external factors, such as pressure from interest groups and community organizations, caused the failure of the revision. This study provides an in-depth understanding of the complexity of the legislative process in Indonesia, as well as its implications for future education reform efforts. AbstrakSistem pendidikan nasional menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dianggap tidak melalui kajian mendalam dan mengabaikan berbagai pertimbangan penting, sehingga mengakibatkan diskriminasi yang bertentangan dengan prinsip keadilan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh pemerintah. Oleh kerena itu pemerintah telah mengupayakan revisi terhadap undang-undang dan menyempurnakan kerangka hukum pendidikan di Indonesia agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, namun revisi tersebut gagal masuk Prolegnas Prioritas tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor politik yang menyebabkan kegagalan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan menganalisis berbagai dinamika politik yang terjadi selama proses revisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan revisi disebabkan oleh kombinasi faktor internal, seperti perbedaan pandangan antara partai politik dan fraksi di DPR, serta faktor eksternal seperti tekanan dari kelompok kepentingan dan organisasi masyarakat. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas proses legislasi di Indonesia, serta implikasinya bagi upaya reformasi pendidikan di masa depan.Kata Kunci: pendidikan; proses legislative; review politik
Evaluation of the Kurikulum Merdeka in dance learning for junior high schools Nadia Putri Kharismawati; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74693

Abstract

Curriculum evaluation is a crucial component in the educational process that assesses the effectiveness of curriculum implementation and identifies strengths and weaknesses in its planning and application. Curriculum evaluation plays a crucial role in ensuring the successful implementation of the Kurikulum Merdeka, particularly in dance education, by assessing the effectiveness of planning, implementation, and learning outcomes. This study aims to evaluate the implementation of the Kurikulum Merdeka based on its relevance to the curriculum's achievements, covering the aspects of planning, implementation, and assessment of dance education. The study employs a descriptive method with a qualitative approach, collecting data through observation, interviews, and documentation from SMPN 1 Cimalaka. Participants in this research include the school principal, the vice principal of curriculum, art and culture teachers, and seventh-grade students. The study results indicate that the dance education planning at SMPN 1 Cimalaka aligns with the guidelines of the Kurikulum Merdeka. In practice, teachers have successfully adapted teaching methods to meet students' needs, though there are differences between the methods recommended in the modules and classroom practices. The evaluation of learning is systematically conducted using formative and summative assessments to measure student achievement. AbstrakEvaluasi kurikulum merupakan komponen penting dalam proses pendidikan yang berfungsi untuk menilai efektivitas pelaksanaan kurikulum serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan dan penerapannya. Evaluasi kurikulum berperan penting dalam memastikan keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka, terutama dalam pembelajaran seni tari, dengan cara menilai efektivitas perencanaan, pelaksanaan, dan pencapaian hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kurikulum merdeka, berdasarkan relevansinya dalam capaian kurikulum, dengan meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran tari. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari SMPN 1 Cimalaka. Partisipan dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru seni budaya, dan siswa kelas VII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tari di SMPN 1 Cimalaka telah sesuai dengan panduan Kurikulum Merdeka. Dalam pelaksanaannya, guru berhasil mengadaptasi metode pengajaran sesuai kebutuhan siswa, meskipun ada perbedaan antara metode yang direkomendasikan modul dan praktik di kelas. Evaluasi pembelajaran dilakukan secara sistematis dengan menggunakan asesmen formatif dan sumatif untuk mengukur pencapaian siswa.Kata Kunci: evaluasi kurikulum; pendidikan seni tari; kurikulum merdeka
Differences in improving learning outcomes and student learning motivation S. Sudirman; Kms. Muhammad Amin Fauzi; Anita Yus
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.72912

Abstract

The Mathematics Learning Grade IV at SD Negeri 1 Syamtalira Bayu has yet to reach the indicators. Ideally, learning mastery occurs when 76% of students score above the Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). This study aims to determine the differences in students' learning outcomes and motivation through teaching using the Contextual Teaching and Learning (CTL) and discovery learning models. This quasi-experimental study involved two Grade IV-B and IV-A classes as the research sample. The research instruments used were tests and a motivation questionnaire. Data analysis was conducted using t-test and N-Gain analysis. Based on the results of the analysis, it was found that students' learning outcomes using the CTL model were higher than those using the discovery learning model. The learning motivation of students in the CTL model class was higher than in the discovery learning model class. Based on the research, the CTL model can improve students' learning outcomes and motivation. AbstrakPembelajaran Matematika di kelas IV di SD Negeri 1 Syamtalira Bayu belum mencapai indikator keberhasilan. Ketuntasan belajar idealnya terjadi apabila 76% dari keseluruhan peserta didik dikatakan tuntas atau mendapatkan nilai di atas KKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa melalui pengajaran dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan model discovery learning. Mengetahui motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran CTL dan model discovery learning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Sampel penelitian ini terdiri dari 2 kelas dari siswa kelas IV-B dan IV-A. Instrumen yang digunakan adalah tes dan angket motivasi belajar. Analisis data dilakukan dengan uji statistik uji-t dan N-Gain. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil belajar siswa dengan model CTL lebih tinggi dari model discovery learning. Motivasi belajar siswa pada kelas model CTL lebih tinggi dari kelas model Discovery Learning. Berdasarkan hasil penelitian, model CTL dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa.Kata Kunci: Hasil belajar, motivasi belajar, model CTL, model discovery learning
Balancing control and freedom: Conditional autonomy in curriculum management in an Islamic Private School in Indonesia Khairil Azhar; Mohammad Ali; Eero Ropo; Dinn Wahyudin; Angga Hadiapurwa
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75491

Abstract

This study examines the complexities of teacher autonomy in curriculum management at a private Islamic school in Indonesia, positioned within an educational environment shaped, to a certain extent, by Indonesia's shifting educational policies—oscillating between centralization and decentralization—and various religious frameworks. Through qualitative analysis of data obtained from focused group discussions involving teachers and school management, this research reveals how teacher autonomy is both supported and constrained by institutional policies, religious values, and resource availability. The main finding of this study is the emergence of a conditional autonomy model, where teachers exercise a negotiated form of autonomy within certain boundaries. On one hand, teachers’ autonomy is influenced by national educational policies, institutional frameworks, and cultural-religious norms, indicating that this autonomy is conditional rather than absolute. On the other hand, due to practical field needs, teachers make adjustments in designing curriculum content, applying various teaching methods and strategies, and adapting teaching and assessment methods based on student conditions and time availability. These dynamics are influenced by factors such as school and foundation policies, educational supervision, resource availability, and teacher creativity. This study highlights unique challenges within the Indonesian context, where teacher autonomy in curriculum management requires a deeper, context-specific approach. A balance is needed between the demands for innovation and flexibility and the support and control mechanisms that do not restrict the space for the growth of teacher agency. AbstrakStudi ini mengkaji kompleksitas otonomi guru dalam pengelolaan kurikulum di sebuah sekolah Islam swasta di Indonesia, yang diposisikan sebagai satu lingkungan pendidikan yang sampai taraf tertentu terbentuk oleh ragam kebijakan pendidikan di Indonesia yang bergerak seperti pendulum—sentralistik-desentralistik—serta faktor berbagai kerangka keagamaan. Melalui analisis kualitatif atas data yang diperoleh dari diskusi kelompok terpumpun (focused group discussion), yang melibatkan guru-guru dan manajemen sekolah, penelitian ini mengungkapkan bagaimana otonomi guru didukung sekaligus dibatasi oleh kebijakan institusi, nilai-nilai agama, dan ketersediaan sumber daya. Temuan utama dari studi ini adalah munculnya suatu model conditional autonomy (otonomi kondisional), di mana para guru menerapkan otonomi yang dinegosiasikan dalam batas-batas tertentu. Di satu sisi, otonomi para guru tidak terlepas dari pengaruh kebijakan pendidikan nasional, kerangka institusi, dan norma budaya-religius, yang menunjukkan bahwa otonomi tersebut bukanlah mutlak melainkan bersyarat. Namun, di sisi lain, karena kebutuhan praktikal di lapangan, para guru melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam merancang isi kurikulum, menerapkan berbagai metode dan strategi pengajaran, serta menyesuaikan metode pengajaran dan penilaian berdasarkan kondisi siswa dan ketersediaan waktu. Dinamika ini sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan sekolah dan yayasan, supervisi pendidikan, ketersediaan sumber daya, dan kreativitas guru. Studi ini menunjukkan tantangan unik dalam konteks Indonesia, di mana otonomi guru dalam pengelolaan kurikulum memerlukan pendekatan yang lebih mendalam dan konteks-spesifik, di mana perlu keseimbangan antara kebutuhan akan inovasi dan fleksibilitas dengan mekanisme dukungan dan kontrol yang tidak menyempitkan ruang bagi pertumbuhan agency guru.Kata Kunci: agensi guru, kerangka keagamaan, manajemen kurikulum, otonomi guru, otonomi kondisional, otonomi kurikulum, sekolah Islam swasta

Page 1 of 4 | Total Record : 38