cover
Contact Name
Ratna Kumalasari
Contact Email
medicinus@dexagroup.com
Phone
+6287808191388
Journal Mail Official
medicinus@dexagroup.com
Editorial Address
Gedung Titan Center 5th Floor, Jl. Boulevard Bintaro B7/B1 No. 5, Bintaro Jaya Sektor 7, Pokdok Aren, Tangerang Selatan 15224
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MEDICINUS
Published by PT Dexa Medica
ISSN : 1979391X     EISSN : 29638399     DOI : 10.56951
Core Subject : Health, Science,
Tujuan penerbitan jurnal Medicinus adalah untuk meningkatkan wawasan dan menambah khasanah pengetahuan para praktisi medis dan farmasis di bidang kedokteran dan kefarmasian. Ruang lingkup dari jurnal ilmiah ini adalah publikasi artikel-artikel ilmiah yang bisa disajikan dalam bentuk penelitian (research), laporan kasus (case report), teknologi dan klinis kefarmasian, serta ulasan literatur medis.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS" : 9 Documents clear
Miskonsepsi Umum dalam Evidence-Based Medicine: Tantangan dan Aplikasinya dalam Praktik Klinis Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/1vaa8680

Abstract

Evidence-based medicine (EBM) telah menjadi fondasi dalam praktik medis modern, terutama dengan menekankan penggunaan bukti terbaik untuk memandu pengambilan keputusan klinis. Namun dalam penerapannya, beberapa miskonsepsi muncul, khususnya dalam ketergantungan berlebihan pada randomized controlled trials (RCT) sebagai standar emas dalam hierarki bukti. Meskipun RCT menawarkan keunggulan tertentu dalam menghindari bias, terdapat banyak situasi di mana RCT tidak diperlukan atau bahkan tidak cocok. Artikel ini mengeksplorasi miskonsepsi umum dalam EBM, pentingnya mempertimbangkan “direct evidence”, dan bagaimana pendekatan EBM yang lebih fleksibel dapat lebih sesuai dengan praktik klinis nyata.
Keadilan Bermartabat dalam Akses terhadap Obat: Relevansi, Tantangan, dan Implikasi Kebijakan dalam Sistem Kesehatan Global Raymond R Tjandrawinata; Teguh Prasetyo
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/jd584b81

Abstract

Akses terhadap obat-obat esensial yang aman, efektif, dan terjangkau telah menjadi salah satu masalah utama dalam sistem kesehatan global, di mana terjadi ketidakadilan struktural yang mendalam antara negara maju dan berkembang. Tantangan ini tidak hanya menyangkut aspek ekonomi dan distribusi, namun juga berkaitan erat dengan nilai-nilai etika, moral, dan martabat manusia. Artikel ini mengeksplorasi perumusan kebijakan akses obat global dapat diperbaiki dengan menggunakan pendekatan teori keadilan bermartabat.1,2 Analisis teoretis dan praktis tentang bagaimana keadilan bermartabat dapat membantu mengatasi ketimpangan akses terhadap obat akan dibahas secara komprehensif, di mana nilai utama konsep ini adalah kepastian bahwa martabat manusia ditinggikan.. Artikel ini pada akhirnya akan mengusulkan model kebijakan yang responsif terhadap tantangan etika dan sosial, di samping memberikan rekomendasi strategis bagi pemangku kebijakan untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih berkeadilan dan manusiawi.
Inovasi Terbaru dalam Diagnosis dan Pengobatan Penyakit Arteri Koroner: Mengurangi Risiko Kardiovaskular melalui Teknologi dan Terapi Modern Raymond R Tjandrawinata
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/cjyvsw40

Abstract

Penyakit arteri koroner (coronary artery disease/CAD) konsisten menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, dengan dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup jutaan orang. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa CAD bertanggung jawab pada sekitar 9 juta kematian setiap tahun, menjadikannya sebagai penyebabutama kematian global. Di Amerika Serikat, sekitar 365.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung koroner, yang merupakan satu dari tujuh penyebab kematian di negara tersebut (Centers for Disease Control and Prevention, 2020). Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung koroner juga meningkat secara signifikan. Menurut data dari KementerianKesehatan Republik Indonesia, penyakit jantung koroner menjadi salah satu dari tiga penyebab utama kematian di Indonesia. Prevalensi penyakit ini diperkirakan sekitar 1,5% dari populasi, dengan angka kejadian lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan pedesaan. Data tersebut menunjukkan pentingnya penelitian dan inovasi dalam pencegahan serta pengobatan penyakit arteri koroner untuk meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kematian
Coronary Atherosclerotic Calcification Sony Hilal Wicaksono; Christian Setiawan; Indah Fitriani
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/00pm8d52

Abstract

Coronary artery disease is a significant public health concern in Southeast Asia, including Indonesia. It is characterized by the buildup of atherosclerotic plaques within the coronary arteries, leading to reduced or interrupted blood flow to myocardium. A hallmark of atherosclerosis is calcification, which may occur during both plaque progression and regression. To date, it remains unclear whether the progression of atherosclerotic lesions follows a linear pattern. The formation of microcalcifications initiates the calcification process and warrants further investigation. Several imaging modalities, which have significantly advanced, may help measure the coronary artery calcification burden and guide appropriate management. Concerns about radiation exposure have positioned coronary artery calcium scoring as the most effective,efficient, and readily observable parameter among both invasive and non-invasive imaging techniques. Identifying highrisk plaque characteristics and severe or extensive calcification is essential in order to provide optimal treatment. However, the progression of calcification remains uncertain, and ongoing research is being conducted to explore potential methods to reverse it. Various tools and complex techniques have been developed to address different types of calcified lesions. Further studies are needed to identify patients who experience more rapid calcification progression, in order to optimize preventive strategies.
Perbandingan Uji TB IGRA Menggunakan Metode T-SPOT.TB dan CLIA Juliani Dewi
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/n2hdkv05

Abstract

Diagnosis tuberkulosis laten (latent tuberculosis infection/LTBI) merupakan kunci penting dalam pengendalian kejadian tuberkulosis (TB). Uji interferon gamma release assay (IGRA) umumnya digunakan untuk mendeteksi interferon gamma (IFN-γ) sebagai penanda LTBI, dengan metode seperti T-SPOT.TB yang telah diimplementasikan secara luas. Akhir-akhir ini, metode chemiluminescent immunoassay (CLIA) dengan analyzer yang sepenuhnya otomatis, juga telah digunakan untuk deteksi dan kuantifikasi IFN-γ. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara kedua metode tersebut. Dua puluh sampel darah heparin dari 20 pasien diambil di Laboratorium Rampal Diagnostika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode otomatis CLIA sebanding dengan metode T-SPOT.TB dalam mendeteksi IFN-γ dengan signifikansi 0,625 dan korelasi 0,857. Terdapat kasus yang tidak sesuai antara kedua metode sebanyak 4/20 (20%). Dapat disimpulkan bahwa CLIA-IGRA merupakan pemeriksaan yang sebanding dengan metode T-SPOT.TB untuk mendeteksi LTBI.
Laporan Kasus: Dapsone Hypersensitivity Syndrome Ayu Amalia; Hanny Tanasal
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/aked7b89

Abstract

Dapsone adalah suatu antibiotik yang bersifat bakteriostatik dan antiinflamasi yang digunakan secara luas untuk menangani kasus infeksi. Dapsone paling sering digunakandalam terapi penyakit Morbus Hansen, namun dilaporkan memiliki potensi efek samping serius yang dikenal dengan dapsone hypersensitivity syndrome (DHS), Kerusakan kulit berupa erosi dengan pustula, plak, dan papula eritematosa, Stevens-Johnson syndrome (SJS), serta toxic epidermal necrolysis (TEN) dapat menjadi manifestasi dari DHS. Selain itu, komplikasi serius akibat kerusakan organ yang berpotensi mengancam jiwa juga dapat terjadi. Tulisan ini melaporkan sebuah kasus anak laki-laki berusia 12 tahun dengan keluhan luka-luka pada sekujur tubuh terutama wajah, disertai rasa gatal dan panas, setelah mengonsumsi 6 tablet dapsone. Lesi kulit berupa erosimultipel dan ekskoriasi disertai krusta dan skuama. Lesi dilaporkan berangsur membaik dengan pemberian corticosteroid dan antihistamin oral, ditambah dengan antibiotik dan corticosteroid topikal selama 2 minggu. 
Laporan Kasus Kusta Pausibasiler Tipe Tuberkuloid dengan Lesi Wajah Menyerupai Facial Palsy Unilateral Annisa Fildza Hashfi
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/m7a02537

Abstract

Latar belakang: Kusta merupakan penyakit infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi. Lebih dari 80% total kasus kusta di dunia terjadi di Indonesia. Kusta dapat menyebabkan disabilitas fisik yang memengaruhi kehidupan sosial serta pekerjaan penderitanya, terlebih dengan masih tingginya stigma terhadap penyakit ini. Diagnosis kusta didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan kulit dan saraf, pemeriksaan slit skin smear, serta pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan serologis saat ini sering digunakan apabila hasil pemeriksaan slit skin smear negatif dan pemeriksaan histopatologi mengalami keterbatasan. Kasus: Seorang laki-laki usia 19 tahun dengan keluhan utama bercak kemerahan di pipi kanan sejak 4 bulan yang lalu. Bercak dirasa tidak gatal, tidak nyeri, dan terasa agak kebas. Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh tidak dapat memejamkan mata kanannya dengan sempurna. Dari hasil pemeriksaan dermatologis didapatkan tampak plak eritem soliter berukuran 7,5 x 7,5 x 0,1 cm, berbatas tegas, bagian tepi meninggi, dan bagian tengah mengalami atrofi disertai skuama tipis di atasnya. Pemeriksaan inspeksi tampak kesan wajah kanan dan kiri asimetris. Pemeriksaan BTA negatif dan hasil biopsi mendukung diagnosis kusta tipe tuberkuloid. Pemeriksaan serologi menunjukkan hasil ELISA anti-PGL-1 IgM 903 µ/ml dan IgG 240 µ/ml. Diskusi: Adanya temuan klinis berupa lesi tunggal yang terasa kebas di pipi kanan serta lagoftalmus merupakan tanda kardinal pada kusta. Hasil pemeriksaan slit skin smear negatif serta gambaran histopatologi mendukung diagnosis kusta pausibasiler (PB) tipe tuberkuloid (TT). Diagnosis kusta diperkuat dengan hasil seropositif IgM anti-PGL-1 pada pemeriksaan serologis.
Pengembangan Nanoselulosa Bakteri yang Mengandung Ekstrak Propolis Sebagai Pembalut Luka Bakar Calista Tantya Hadiwarsito; Safira Prisya Dewi; Heni Rachmawati
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/cnnqkm69

Abstract

Nanoselulosa bakteri (bacterial nanocellulose/BNC) adalah bahan yang menjanjikan untuk penyembuhan luka bakar. Keunggulan BNC antara lain bersifat biokompatibel, biodegradable, serta memiliki tingkat kemurnian selulosa yang tinggi. Karakteristik BNC memenuhi mayoritas sifat pembalut luka yang optimal sehingga hanya memerlukan sedikit modifikasi untuk mencapai titik optimal. Modifikasi utama yang diperlukan BNC adalah penambahan aktivitas antimikroba. Ekstrak propolis nonetanolik (PgEP) digunakan sebagai agen antimikroba karena berpotensi membantu proses penyembuhan luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mendemonstrasikan aktivitas antimikroba serta hasil penyembuhan luka bakar secara in vivo menggunakan BNC yang mengandung PgEP (BNC-P). Menggunakan air kelapa sebagai substitusi sumber karbon, dihasilkan rendemen BNC sebesar 161,54±35,92 g/l yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan media standar (p=0,025). BNC-P memiliki efisiensi penjerapan sebesar 52,91±1,16% dan drug load berbanding lurus dengan konsentrasi PgEP. Terkait aktivitas antimikroba, BNC-P pada tiga tingkat konsentrasi (1, 3, dan 5%) menunjukkan diameter hambat berturut-turut sebesar 7,7±0,31; 12,22±0,99; dan 13,68±1,58 mm. Pada demonstrasi penyembuhan luka bakar in vivo, BNC-P dengan konsentrasi 1% (BNC-P1) memiliki aktivitas penyembuhan luka paling tinggi.
Terapi Terkini Pityriasis Rosea Riyanti Astrid Diahtantri; Aida SD Hoemardani; Yudo Irawan
MEDICINUS Vol. 37 No. 3 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/72h6tw89

Abstract

Pityriasis rosea (PR) merupakan erupsi kulit papuloskuamosa akut. Penyebab PR belum diketahui secara pasti, namun diduga akibat gangguan imunitas seluler atau infeksi HHV-6 dan HHV-7. Umumnya kondisi ini bersifat self-limiting disease dan akan mengalami pemulihan spontan dalam waktu beberapa minggu hingga bulan dengan pengobatan simtomatik topikal maupun sistemik. Penyakit ini relatif jarang mengalami kekambuhan. Dari keseluruhan kasus PR, terdapat beberapa kasus yang memerlukan terapi tambahan, seperti pada kasus lesi yang luas, pruritus berat, dan pasien yang dalam masa kehamilan. Tata laksana PR terbagi ke dalam tiga lini. Tata laksana lini pertama terdiri dari pemberian corticosteroid topikal, emolien, dan antihistamin oral. Lini kedua yaitu fototerapi narrow-band ultraviolet B (NBUVB) dan fototerapi ultraviolet A1 (UVA1). Kemudian lini ketiga terdiri dari terapi prednisone oral, erythromycin, acyclovir, dan dapsone.

Page 1 of 1 | Total Record : 9