Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan
Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra, dan Pendidikan, diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, bertujuan untuk menerbitkan berbagai laporan penelitian, studi literatur dan tulisan ilmiah tentang fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, analisis wacana, pragmatik, antropolinguistik, bahasa dan budaya, dialektologi, dokumentasi bahasa, linguistik forensik, linguistik sejarah komparatif, linguistik kognitif, linguistik komputasional, linguistik korpus, neurolinguistik, pendidikan bahasa, penerjemahan, perencanaan bahasa, psikolinguistik, sosiolinguistik, sastra modern dan daerah, sastra lisan, sastra anak, pembelajaran bahasa dan sastra, pengembangan media dan metode pembelajaran bahasa Indonesia dan inggris. Terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan April dan November. Setiap artikel yang dimuat di Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan melalui proses reviwu yang mendalam. Penulis diundang untuk mengirimkan naskah yang termasuk dalam ruang lingkup Kajian linguistik, sastra dan pendidikan Bahasa Indonesia serta Inggris. Silakan baca informasi tentang proses peer-review . Artikel yang diterbitkan di Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan akan melalui proses peer-review double-blind. Oleh karena itu, keputusan diterima atau tidaknya artikel ilmiah tersebut menjadi hak Dewan Redaksi berdasarkan rekomendasi dari peer reviewer.
Articles
25 Documents
Search results for
, issue
"Vol 10 No 1 (2025)"
:
25 Documents
clear
Variasi Kata Sapaan Berdasarkan Gender dalam Konten Promosi Produk Perawatan Kulit di Tiktok
Rahmawati, Rahmawati;
Handayani, Wiwik Retno
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2244
ABSTRAK Variasi kata sapaan mencerminkan heterogenitas komunitas tutur. Variasi kata sapaan dapat mengalami perubahan dan pergeseran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, faktor, dan fungsi kata sapaan berdasarkan perspektif gender dalam konten promosi produk perawatan kulit di TikTok. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan linguistik korpus. Data dalam penelitian ini adalah tuturan penjual produk perawatan kulit yang bersumber dari akun TikTok Kahf dan Scarlett Whitening dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Secara spesifik, jumlah data tuturan penutur laki-laki yang bersumber dari akun TikTok Kahf berjumlah 168 konten video dan data tuturan penutur perempuan yang bersumber dari akun TikTok Scarlett berjumlah 226 konten video. Data tersebut diolah dengan menggunakan perangkat lunak AntConc 4.2.4. Ada tiga temuan utama dalam penelitian ini. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan lebih banyak menggunakan kata sapaan berupa kata ganti. Perbedaannya, laki-laki cenderung menggunakan variasi kata sapaan yang berbasis gender, seperti bro. Sementara itu, wanita cenderung menggunakan kata sapaan yang bersifat uniseks, seperti guys. Kedua, variasi istilah sapaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: (1) jenis produk perawatan kulit, (2) identifikasi mitra tutur yang terbatas, dan (3) upaya kesopanan dan membangun keakraban. Terakhir, fungsi penggunaan istilah sapaan adalah untuk: (1) keakraban atau membangun hubungan emosional, (2) penghormatan, dan (3) identifikasi mitra tutur. Kata Kunci: bahasa dan gender, kata sapaan, linguistik korpus, TikTok, variasi bahasa
Presupposition in The 2024 United States Presidential Debate
Salma, Najla Nazhifah;
Heryono, Heri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2330
This study aims to analyze the types of presupposition and presupposition triggers in The United States Presidential Debate 2024. It focuses on identifying the types of presuppositions and the presupposition triggers used by the candidates during the debate. Utilizing a qualitative descriptive approach, data were collected from official debate transcripts and analyzed based on theories by Yule (1996) and Levinson (1983). The results show that existential, factive, lexical, and structural presuppositions frequently appear in the candidates’ utterances. These are primarily triggered by definite descriptions, factive verbs, change-of-state verbs, and interrogative structures. The findings indicate that candidates strategically employ presuppositions to present opinions as established facts, frame narratives persuasively, and subtly influence public perception. This study contributes to the understanding of political discourse by uncovering how language is used implicitly to construct meaning and persuade audiences in political settings.
Register Used in Safiya Nygaard’s Youtube Channel: Sociolinguistics Study
Putri, Viraneysa Aramintha;
Sujatna, Meita Lukitawati
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2331
This study examines language registers in Safiya Nygaard's YouTube channel from a sociolinguistic perspective, analyzing how she varies her communication style across different social contexts and audiences. As a digital content creator known for beauty and fashion videos, Safiya Nygaard attracts a diverse audience, making her channel an ideal platform for examining digital language variation. The study aims to (1) describe the types of registers used in her videos and (2) identify their functions. Employing a descriptive qualitative approach, it analyzes selected video transcripts using content analysis. The language is classified according to Martin Joos' five register types and Jakobson's six language functions. The findings indicate that the casual register is the most prevalent (60%; 18 out of 30), suggesting a predominantly informal style in her content, followed by the consultative register (40%; 12 out of 30). In terms of language functions, most utterances (83.3%; 25 out of 30) serve a referential function, emphasizing information, while 13.3% (4 out of 30) are emotive, reflecting personal expression, and 3.3% (1 out of 30) are conative, indicating minimal persuasive intent. These findings contribute to the broader understanding of language variation in digital communication, demonstrating how influencers such as Safiya Nygaard maintain a balance between engagement and informativeness.
Perbandingan Latar dalam Novel Perempuan di Titik Nol dan Novel The Baghdad Clock (Kajian Sastra Bandingan)
Fariztina, Alissa;
Ainusyamsi, Fadlil Yani;
Rohanda, Rohanda
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2408
Latar dalam karya sastra memiliki peran penting dalam membangun suasana, menghidupkan tokoh, serta merefleksikan kondisi sosial dan budaya yang melatarbelakangi cerita. Dalam penelitian ini, dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi dan The Baghdad Clock karya Shahad Al-Rawi merupakan karya yang mengangkat konteks sosial dan sejarah yang berbeda, namun sama-sama kuat dalam menghadirkan latarnya. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk membandingkan latar dalam kedua novel tersebut dengan pendekatan sastra bandingan yang berfokus pada latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Pada penelitian ini digunakan pendekatan analitis deskriptif dengan metode kualitatif menguraikan hasil analisis yang diperoleh dari kutipan data berupa narasi maupun dialog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel menggunakan latar untuk memperkuat tema perjuangan perempuan di tengah penindasan struktural dan sosial, meskipun dalam konteks yang berbeda. Latar dalam Perempuan di Titik Nol menggambarkan kekerasan sistemik terhadap perempuan dalam struktur patriarki Mesir, sementara latar dalam The Baghdad Clock merefleksikan trauma kolektif akibat perang di Irak. Studi ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana latar dapat menjadi elemen penting yang membentuk tema dan narasi dalam karya sastra dari berbagai budaya.
Alih Kode dan Campur Kode dalam Akun Instagram @affarmakarim_
Luluil Azminah, Gitsna;
Dayudin, Dayudin;
Mardiansyah, Yadi
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2414
Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi fenomena kebahasaan, khususnya alih kode dan campur kode pada penutur bilingual. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana fenomena alih kode dan campur kode termanifestasi dalam konteks komunikasi digital lintas budaya Indonesia-Arab. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk alih kode dan campur kode dalam akun Instagram @affarmakarim_ dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fenomena tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat untuk mengumpulkan data percakapan dalam video reels periode Juni 2023-Mei 2024. Analisis data dilakukan menggunakan metode agih untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode, serta metode padan untuk menganalisis faktor-faktor penyebabnya berdasarkan konteks sosial dan situasional. Hasil penelitian menunjukkan dominasi alih kode ke luar (external code switching) antara bahasa Indonesia-Arab, serta campur kode ke luar (outer code mixing) dan ke dalam (inner code mixing). Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi lawan tutur, kehadiran orang ketiga, perubahan topik pembicaraan, penutur, dan peralihan situasi formal-informal. Implikasi penelitian ini memperkaya kajian sosiolinguistik digital dengan memberikan pemahaman tentang penggunaan bahasa bilingual dalam media sosial, yang bermanfaat untuk strategi komunikasi lintas budaya dan pembelajaran bahasa kedua di era digital
Simbolisme Politik dan Narasi Keberlanjutan: Studi Analisis Wacana Kritis Pidato Presiden RI Ke 7 Joko Widodo
Harmoko, Danang Dwi;
Purwaningrum, Prapti Wigati
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2415
Penelitian ini menganalisis pidato Presiden RI ke-7 Joko Widodo pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 menggunakan analisis wacana kritis model Fairclough. Penelitian ini mengisi gap berupa kurangnya kajian yang membahas bagaimana pidato kenegaraan membentuk legitimasi politik dan narasi keberlanjutan di tengah transisi kekuasaan. Metode yang digunakan mencakup tiga dimensi analisis: (1) analisis teks yang menelaah diksi, repetisi, dan struktur retoris; (2) praktik wacana yang mengeksplorasi proses produksi pidato oleh tim komunikasi presiden dan distribusinya di media; dan (3) praktik sosiokultural yang menempatkan pidato dalam konteks politik transisi. Temuan menunjukkan bahwa pidato menggunakan diksi inklusif ("kita", "bersama") dan repetisi untuk memperkuat citra keberhasilan pemerintah dan kesinambungan kebijakan. Strategi retoris ini berfungsi membentuk opini publik yang mendukung stabilitas politik dan memperkuat legitimasi kekuasaan di akhir masa jabatan. Penelitian ini berkontribusi pada studi wacana politik dengan menunjukkan bahwa pidato kenegaraan bukan hanya laporan pencapaian, melainkan instrumen politik strategis untuk mengatur persepsi publik dan memastikan kesinambungan kekuasaan di tengah dinamika politik
Students' Challenges and Strategies in Practicing English - Indonesian Sight Translation
Putri, Nandira Aulya;
Listiani, Toneng;
Budiarti, Dian
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2433
This study aims to find out the challenges faced by students when they practice English-Indonesian sight Translation. In addition to the challenges, this study also explains the students’ strategies to pass the challenges. To find the same or similar answers and different answers related to this research, this study interviewed the students as the respondents so that this study categorized respondents into three categories in terms of grade. There are 2 high-achiever students, 2 middle-achiever students, and 2 low-achiever students who will be interviewed concerning their tips and approaches. The scores were obtained from the lecturer who taught the Simultaneous Interpreting course at the English Literature department of the State Islamic University in Bandung, in the 2024 academic year. The study found that there are three dominant challenges mentioned by the respondents and two dominant strategies mentioned. Many of them seemed to have difficulties in practicing English-Indonesian Sight Translation, such as lack of vocabulary knowledge, being rushed due to time limits, and unfamiliar types of documents. It is assumed that the strategies they used to minimize the mistake when they practice were the guess word meaning method, stay focused, and keep interpret the document, so that the students can minimize the mistake shown in front of the audience. The challenges faced and the strategies used by high achiever students are different from middle achiever and lowest achiever students. High achiever students use more strategies to deal with challenges so that the challenges faced are not too difficult.
Figurative Language In “Four” Album By One Direction : Semantic Analysis
Kayla, Salsabila;
Simatupang, Ervina Cm
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2418
This research investigates figurative language in song lyrics, specifically focusing on One Direction's ‘Four’ album, to uncover deeper meanings and evoke emotional responses. Using a qualitative method, the research collected and analyzed data based on Johnson and Arp’s classification of figurative language, which consists of twelve types. The data were collected through careful listening and textual analysis of the album’s official lyrics, with findings cross-verified using multiple sources..The findings reveal a total of 66 instances of figurative language in the album, distributed as follows: irony (7 instances, 10.6%), personification (6 instances, 9.1%), symbol (17 instances, 25.75%), metaphor (23 instances, 34.84%), and hyperbole (13 instances, 19.7%). The results indicate that metaphor is the most frequently used type of figurative language in the album. This study highlights the role of popular music as a creative medium for literary expression and provides insight into how figurative language can enhance listener engagement. The findings may serve as a reference for educators and students in the fields of linguistics, literature, and music studies.
Pemetaan Grafem Fonem : Kasus Membaca Blok Aksara Bali Konsonan Vokal di Sekolah Dasar Negeri 1 Bantiran
Anti, Nkomang Juni;
Paramarta, I K.;
Rai, Ida Bagus
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2435
Banyaknya aturan dalam menulis aksara Bali membuat siswa bingung dalam belajar aksara Bali. Permasalahan membaca aksara Bali tidak hanya pada tataran kata saja akan tetapi juga pada tataran sub leksikal dalam sruktur blok aksara Konsonan vokal (CV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pemetaan siswa dalam memetakan grafem fonem kosakata dasar pada simbol blok Konsonan Vokal (CV). Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif dengan menggunakan teori dasar sistem tulisan abugida yakni blok aksara Bali, dimana tata cara pembagian ruang segmental dalam tulisan aksara Bali tidak sama dengan tata cara pembagian ruang segmental tulisan latin dimana segmentasi tulisan aksara Bali tidak dibagi berdasarkan ruang linier saja akan tetapi setiap ruang segmental harus disubsegmentasi secara tersendiri. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas 4,5 dan 6 yang berjumlah 20 orang sedangkan objek yang diteliti adalah pemetaan grafem fonem dalam simbol blok konsonan vokal (CV). Hasil dari penelitian ini yaitu pemetaan grafem fonem dalam simbol blok konsonan vokal (CV) dan faktor yang menjadi penyebab perbedaan pemetaan siswa dalam memetakan grafem fonem simbol blok konsonan vokal (CV). Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan memperoleh hasil pemetaaan siswa dalam blok aksara Bali yang seharusnya < ᬘᬸ>/cu/, <ᬲᬶ>/si/, < ᬍ > /le/, dan < ᬓᬸ >/ku/ namun dipetakan oleh siswa menjadi <ᬲᬸ>/su/, <ᬘᬶ>/ci/, <ᬗᬸ>/ngu/ dan <ᬦᬸ>/nu. Faktor yang menjadi penyebab ketidak sesuaian pemetaan grafem fonem oleh siswa dikarenakan bentuk grafem yang mirip. Penelitian ini membawa dampak bagi siswa dan guru terkait tatacara belajar pemetaan aksara Bali menggunakan simbol blok aksara Bali yang sebelumnya belum pernah diterapkan pada pembelajaran dikelas.
An Analysis Of Moral Value Found In The Movie Series The Summer I Turned Pretty
Yusmitha, Ni Made Yudek;
Marantika, I Made Yogi
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2267
Nilai-nilai moral adalah pelajaran penting yang dipelajari dari pengalaman, peristiwa, atau cerita yang membimbing apa yang baik dan jahat dalam keberadaan manusia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip moral yang ditawarkan dalam film “The Summer I Turned Pretty”. Menggunakan teknik kualitatif deskriptif, ia berusaha untuk mengidentifikasi dan menjelaskan banyak bentuk ideal moral dalam dua episode pertama dari seri ini. Studi ini menerapkan teori nilai moral Linda dan Eyre (1993). Serial film “The Summer I Turned Pretty” adalah fokus studi ini, dengan cita-cita moral sebagai objek penyelidikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa film ini menyajikan dua jenis nilai; nilai menjadi dan nilai memberi. Moral memberikan mencakup cinta dan kasih sayang, hormat, kebaikan, dan persahabatan. Sementara itu, moral menjadi termasuk kepercayaan diri, keberanian, disiplin diri, dan kejujuran.Karakter paling menonjol mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Semua data dalam seri ini dianalisis berdasarkan konteks situasi mereka.