cover
Contact Name
Aufa Rizka Azzumi
Contact Email
indexsasi@apji.org
Phone
-
Journal Mail Official
Jumadi@apji.org
Editorial Address
Jalan Raya Ajibarang Km 1 , Kab. Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Tadhkirah: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
ISSN : 30639522     EISSN : 30638321     DOI : 10.59841
Core Subject : Religion,
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah, Jurnal ini ditujukan untuk publikasi artikel ilmiah yang diterbitkan oleh STIKes Ibnu Sina Ajibarang. Jurnal ini menggabungkan terapan hukum Islam dengan kajian filsafat syariah. Melalui artikel-artikelnya, jurnal membahas aplikasi praktis hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari serta aspek teoritis dan filosofisnya. Isu-isu yang dibahas mencakup terapan hukum islam dan kajian filsafat syariah. Dengan pendekatan multidisiplin, jurnal ini relevan bagi praktisi hukum Islam, akademisi, dan pembuat kebijakan yang tertarik dalam memahami implikasi hukum dan filsafat syariah dalam konteks kontemporer. Jurnal ini terbit 1 tahun 4 kali (Maret, Juni, September, dan Desember).
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah" : 9 Documents clear
Kebahagiaan Menurut Hamka dan Relavansinya terhadap Upaya Mengatasi Mental Distress Darmawati Darmawati; Abdullah Firdaus; Jaya Jaya
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.278

Abstract

This study, titled “Happiness According to Hamka and Its Relevance to Efforts to Overcome Mental Distress,” is motivated by the increasing mental strain experienced by modern society, which is reflected in rising levels of stress, anxiety, loss of life meaning, and various forms of depression. These symptoms indicate a deeper spiritual and emotional imbalance that cannot be resolved solely through clinical approaches, but requires insights from philosophical and religious thought. The purpose of this research is to reexamine Hamka’s concept of happiness and identify its relevance in supporting efforts to reduce mental distress in contemporary life. Using a qualitative-descriptive method with a library research approach, this study reviews Hamka’s key writings such as Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, and Lembaga Budi alongside literature on psychology and mental health. Through a hermeneutic-philosophical analysis, the study finds that Hamka defines happiness as inner tranquility rooted in faith, sincerity, and spiritual connection with God, rather than material satisfaction or outward pleasures. He emphasizes that true happiness is achieved when intellect, emotion, and faith interact harmoniously, allowing individuals to manage desires, accept destiny, and uphold moral awareness. This perspective is highly relevant for addressing mental distress today, as Hamka highlights the importance of spiritual strengthening and purification of the soul as forms of internal healing capable of fostering resilience and emotional stability.
Etika Keilmuan Islam: Integrasi Nilai Aksiologis dan Maqashid Disca Amalia Prastika; Putri, Ria Julia; Gusti, Kamilia Insani; Maulidya, Aulia; Cantika; Amelia Azura; Kurniawan, Taufiq
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.299

Abstract

Kajian ini membahas aspek-aspek nilai dalam Islam yang berkaitan dengan pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan, dengan penekanan pada pentingnya maqashid al-syariah sebagai dasar etika dalam ilmu. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bahwa ilmu dalam konteks Islam tidak netral dari nilai-nilai, melainkan selalu diarahkan untuk kebaikan bersama, keadilan, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi konsep dasar nilai dalam ilmu Islam seperti ibadah, amanah, kerahmatan, dan tanggung jawab etis, serta bagaimana prinsip-prinsip maqasid yang mencakup hifz al-dīn, hifz al-nafs, hifz al-‘aql, hifz al-nasl, dan hifz al-māl diterapkan dalam praktik ilmiah masa kini. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa penerapan etika ilmu yang didasarkan pada maqasid dapat menyelaraskan kebebasan berpikir dengan tanggung jawab spiritual, sehingga ilmu dapat menjadi media untuk ibadah dan kebaikan yang universal. Penelitian ini menekankan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai dalam Islam ke dalam ilmu pengetahuan merupakan kunci untuk membangun budaya ilmiah yang etis, adil, dan sesuai dengan tantangan era modern.
Hukum Pencurian Perspektif Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Dikriyah Dikriyah; Nikhlah Ziyadaturrohmah; Siti Nur Azizah Azizah; Agus Ali Dzawafi
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.309

Abstract

A comparison between classical and contemporary interpretations regarding the law of theft contained in Surah Al-Mā’idah verse 38, which stipulates the punishment of hand amputation for theft. This verse has long been the basis of Islamic jurisprudence, but its interpretation has evolved over time. The method used is qualitative with a literature study approach, which examines classical sources of interpretation such as Tafsīr al-Qurṭubī and contemporary interpretations such as al-Mishbāḥ. The research findings show that classical interpretations view this verse textually and normatively, with a focus on the application of hudud law as a form of justice and protection of property rights, as well as the imposition of strict conditions to avoid misuse. Meanwhile, contemporary interpretations view this verse contextually and humanistically, paying attention to social, economic, and humanitarian conditions. The punishment of hand amputation is understood not only as physical punishment, but also as a tool for moral education, crime prevention, and protection of community welfare. Although both share the same goal of upholding justice and safeguarding the welfare of the people, contemporary interpretations emphasize a more flexible application of law to align with the values ​​of social justice in the modern era. Thus, this study emphasizes the importance of contextualizing the understanding of Islamic law without neglecting the principles of sharia, which balance justice, humanity, and the welfare of the people.
Hukum Merokok dalam Islam: Analisis Perbandingan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Fathurrohman Nur Hidayat; Rendy Aprilio Sulaiman; Jelita Tibyana Shidqy; Nazwa Angrraeni; Ester Aprilia Diyan Sari; Baidhowi
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.325

Abstract

This study examines the comparative fatwas of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU) regarding the Islamic legal ruling on smoking in the Indonesian context. The research employs a qualitative method through a literature-based analysis of official documents, academic journals, and decisions from Bahtsul Masā’il and the Majelis Tarjih dan Tajdid. The findings indicate that Muhammadiyah declares smoking as prohibited (ḥarām) because it contradicts the objectives of Islamic law (maqāṣid al-syarī‘ah), particularly in preserving life (ḥifẓ al-nafs) and wealth (ḥifẓ al-māl). Conversely, NU categorizes smoking as reprehensible (makrūh) on the basis that no definitive textual evidence explicitly forbids it, while also considering socio-economic factors within society. Muhammadiyah adopts a normative-preventive approach, whereas NU emphasizes a cultural-educational one. The difference between the two fatwas reflects not a contradiction but a constructive ikhtilāf, enriching the diversity of Islamic jurisprudence in Indonesia.
Simbol Keagamaan dalam Menggambarkan Kesenjangan Sosial di Masyarakat Perkotaan: Analisis Teori Karl Marx Sofyan, Uswatun Hasanah; Muhamad Ridwan Effendi
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.327

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran simbol keagamaan dalam merefleksikan maupun menutupi kesenjangan kelas sosial di masyarakat perkotaan, dengan menggunakan perspektif teori Karl Marx mengenai agama sebagai ideologi dan alat legitimasi kekuasaan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara semi-struktural terhadap warga kota dari kelas sosial menengah ke atas dan kelas menengah ke bawah, serta tokoh agama setempat. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk melihat pola relasi antara simbol agama, posisi kelas, dan akses terhadap kekuasaan sosial-ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol agama kerap digunakan oleh kelas atas sebagai sarana pembentukan citra, legitimasi status, dan penguatan struktur sosial, sedangkan bagi kelas bawah agama berfungsi sebagai sumber harapan dan solidaritas sosial, namun tidak selalu membuka akses terhadap mobilitas ekonomi. Secara umum, agama dapat berfungsi ganda: menjadi media pemersatu sosial sekaligus cermin ketimpangan kelas yang tersembunyi dalam praktik keagamaan sehari-hari. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca agama tidak hanya secara teologis, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi makna, kekuasaan, dan distribusi sumber daya.
Konsep Pendidikan Humanistik dalam Perspektif Tafsir Tarbawi QS. An-Nahl Ayat 125 dan Implikasinya bagi Guru Madrasah Ibtidaiyah Nia Andriani; Syauqiyatul Latifah; Mochammad Indra Yumanto
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.353

Abstract

Pendidikan humanistik menekankan pengembangan potensi manusia secara utuh dan menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut memiliki landasan normatif dalam Al-Qur’an, salah satunya QS. An-Nahl (16):125. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan nilai-nilai pendidikan humanistik yang terkandung dalam QS. An-Nahl (16):125 ditinjau melalui pendekatan tafsir tarbawi, serta menganalisis implikasinya terhadap pengembangan konsep pendidikan humanistik. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan sumber data utama berupa Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir, serta literatur tarbiyah dan jurnal ilmiah relevan. Analisis data dilakukan dengan model maqāṣid-interpretatif untuk mengungkap tujuan dan nilai pendidikan dalam ayat yang dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nahl (16):125 memuat tiga prinsip utama, yaitu bil ḥikmah, mau‘izhah ḥasanah, dan mujādalah bi-allatī hiya aḥsan, yang mencerminkan nilai rasionalitas, empati, dan dialog edukatif. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan humanistik memiliki dasar konseptual yang kuat dalam Al-Qur’an dan relevan untuk pengembangan pendidikan Islam yang humanis dan dialogis.
Strategi Pencegahan Inses dalam Perspektif Hukum Islam dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Muhammad Achwan; Dyah Erlina Sulistyaningrum; Suryadi Suryadi; Ucik Ernawari; Jibril Olaniyi Ayuba; Maria Endah Yosepin Listyowati
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.371

Abstract

Incest is a form of sexual violence that not only violates social and religious norms but also causes serious physical and mental health impacts on victims. In the context of Islamic law, incest is considered a heinous act that violates sharia and may be subject to hudud or ta'zir punishment. Meanwhile, in public health, incest is viewed as an issue that poses long-term risks, such as genetic disorders, psychological trauma, and socio-economic consequences. This study aims to examine prevention strategies for incest through a holistic approach combining Islamic legal principles and public health perspectives. The method used is qualitative research with a normative literature review and descriptive-analytical approach. The findings indicate that incest prevention can be achieved through strengthening religious values within families, sharia-based sexual education, and improving mental health services and case reporting systems in the community. The implications of this study highlight the importance of synergy between religious institutions, healthcare professionals, and public policy in establishing effective and sustainable incest prevention systems.
Penerapan Prinsip Hukum Islam dalam Pengelolaan Sampah di Makassar Muhaemina Muhaemina; Nur Aisyah; Kurniati Kurniati
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.372

Abstract

Solid waste management in Makassar City constitutes a strategic issue that extends beyond technical and administrative concerns to encompass legal, ethical, and socioreligious dimensions. Although the local government has established regulatory frameworks and policy instruments for waste management, empirical conditions reveal a persistent gap between legal norms and their implementation, as reflected in high waste generation rates, weak source segregation, limited public participation, and increasing pressure on landfill capacity. This study aims to analyze the effectiveness of waste management in Makassar City from the perspective of Islamic law and to examine the potential integration of Sharia principles in strengthening sustainable environmental governance. The research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical design based on policy analysis, literature review, and theoretical synthesis of Islamic legal doctrines, particularly maqāṣid al-sharīʿah and fiqh al-bī’ah. The findings indicate that, despite the existence of adequate local legal instruments, waste management practices remain ineffective due to insufficient internalization of ethical values, weak law enforcement, and limited behavioral change within society. From the perspective of Islamic law, these conditions demonstrate the incomplete realization of the principles of amanah (trust and responsibility), maslahah (public interest), and the prevention of harm (lā ḍarar wa lā ḍirār) in both governmental practice and public conduct, thereby undermining the objectives of protecting human life and the environment. The implications of this research highlight the importance of synergizing positive law and Islamic legal principles to promote environmentally sustainable governance oriented toward long-term public welfare.  
Pseudo-Patriarki dalam Kitab Uqūd al-Lujjayn: Analisis Kritis atas Tuduhan Bias Gender terhadap Syekh Nawawi al-Bantani Azis Faturokhman; Hikmatullah Hikmatullah; Hapizul Ahdi
TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/tadhkirah.v2i4.386

Abstract

The book Uqūd al-Lujjayn fī Bayān Ḥuqūq az-Zaujayn by Sheikh Nawawi al-Bantani is one of the classical texts that is very popular among Islamic boarding schools and the Muslim community of the archipelago. However, in contemporary discourse, this book is often the target of criticism from Muslim feminists who accuse it of being full of gender bias and patriarchal. This criticism arises because of discussions about the wife's obligation to obey her husband, the prohibition of leaving the house without permission, and the husband's permissibility to reprimand his wife who is considered nusyūz. This paper attempts to conduct a philological and hermeneutic analysis of the text Uqūd al-Lujjayn by reviewing the historical, methodological, and fiqh reference sources of Sheikh Nawawi al-Bantani. This study found that the patriarchal character in the book is pseudo (pseudo), not ideological. Sheikh Nawawi actually wrote this book within the tradition of Islamic jurisprudence (fiqh akhlaqiyyah), not as a legitimation of male power over women. Through a philological approach, it was found that the text's structure and selection of hadith in this book aimed to educate household morals, not to reinforce the patriarchal system. Therefore, accusations of gender bias against Sheikh Nawawi require methodological reexamination to avoid falling into ahistorical ideological readings.

Page 1 of 1 | Total Record : 9