cover
Contact Name
Nehru Millat Ahmad
Contact Email
nehru325@gmail.com
Phone
+628112578882
Journal Mail Official
jurnalhalaqah2024@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Soekarno-Hatta Jambearum Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal Jawa Tengah 51319
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : 30905567     DOI : https://doi.org/10.62509/halaqah.v2i1
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies terbit dua kali setahun: yaitu pada bulan Juni dan Desember. Jurnal ini adalah jurnal yang bertemakan Studi Islam dengan manfaat dan tujuan bagi perkembangan Studi Islam, dengan mengedepankan sifat orisinalitas, kekhususan dan kemutakhiran artikel pada setiap terbitannya. Tujuan dari publikasi Jurnal ini adalah untuk memberikan ruang mempublikasikan pemikiran kritis hasil penelitian asli, maupun gagasan konseptual dari para akademisi, peneliti, maupun praktisi yang belum pernah dipublikasikan pada media lainnya. Fokus dan lingkup pada penulisan Jurnal ini meliputi: Studi Islam, Hukum Islam, Ekonomi Islam, Komunikasi dan Dakwah Islam, Sejarah Islam, Tradisi Islam, Tasawuf, Teologi dan Tafsir.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol 3 no 1 (2026): halaqah: journal of multidisciplinary islamic studies" : 5 Documents clear
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM ISLAM DAN INTERKULTURALISME: STUDI KRITIS TANTANGAN MULTIKULTURAL DI ERA GLOBAL Miftahul Khoirin; Khusnul Khotimah; Nawawi Nawawi
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.213

Abstract

The dynamics of interaction in multicultural societies in the era of globalization are often characterized by tensions arising from differences in symbolic codes and cultural perceptions. Communication and culture are two constitutive entities; however, differences in background frequently lead to misunderstandings, stereotypes, and ethnocentrism, particularly in the Indonesian context, which is marked by high ethnic diversity. This study examines intercultural communication from the perspectives of interculturalism and Islamic ethics within the dynamics of multicultural societies in the era of globalization. It is grounded in the increasing issues of misunderstanding, stereotypes, and ethnocentrism resulting from differences in culture, language, and systems of meaning in social interaction. This research employs a qualitative approach using library research through critical analysis of literature on intercultural communication, interculturalism, and Islamic communication ethics. The findings show that intercultural communication cannot be understood merely as a technical competence, but as a process involving cultural awareness, contextual sensitivity, and an ethical framework. The integration of modern intercultural communication theory with Islamic values such as ta’aruf, tasamuh, tabayyun, as well as qaulan sadīda and qaulan layyina produces an Islamic intercultural communication model with an integrative character. The model consists of three layers: cultural competence, contextual awareness, and Islamic ethics as a normative foundation. This study emphasizes that intercultural communication should be understood as a social practice containing ethical and spiritual dimensions in building harmony within multicultural societies.
KONSTRUKSI NILAI TENGGANG RASA DALAM AL-QUR’AN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KOMUNIKASI DIGITAL: STUDI TAFSIR FI ZILAL AL-QUR’AN Dita Nursafitri
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.397

Abstract

This study examines the concept of tolerance in the digital world from the perspective of the Qur'an, focusing on Sayyid Qutb's interpretation in his Fi Zilal Al-Qur’an. Social media often presents challenges in maintaining ethical communication, such as hate speech and intolerance. The research aims to analyze the concept of tolerance as interpreted by Sayyid Qutb and its application to social media. Employing a qualitative descriptive approach, the study adopts a library research method with Fi Zilal Al-Qur'an as the primary source. The analyzed verses include Surah Al-Hujurat, Surah Al-Isra, Surah Al-Baqarah, and Surah An-Nur. The findings reveal that Sayyid Qutb's Fi Zilal Al-Qur’an emphasizes mutual respect, tolerance, polite language, and the preservation of harmony in social interactions, both in the real and digital worlds. Applying these values can foster an inclusive and harmonious social media environment. This study provides ethical guidelines relevant for social media users to uphold ethical communication in accordance with Islamic teachings.
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: KAJIAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS Samsul Maarif Subaer; Mukasyifah Damis; Nurul Qalbi
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.415

Abstract

Science and religion are two essential elements in human life that are closely related and complementary. In Islam, science occupies a crucial position as a means of understanding reality, knowing Allah SWT, and realizing the welfare of humanity. This article aims to examine the meaning of Islam and science and analyze their relationship from the perspective of the philosophy of science. This research uses a qualitative approach with a literature study method. Data were obtained through the analysis of various written sources, such as books and relevant scientific articles, then analyzed descriptively and analytically. The results of the study indicate that science from the perspective of the philosophy of science is understood through three main aspects: ontology, epistemology, and axiology. Islam views science not only as a rational and empirical activity, but also as a spiritual means based on the value of monotheism. Ontologically, Islam recognizes reality that encompasses empirical and metaphysical dimensions. Epistemologically, Islam integrates revelation, reason, and empirical experience as complementary sources of knowledge. Axiologically, science is directed towards moral values, justice, and human welfare. Thus, the relationship between Islam and science is harmonious and complementary, so that the integration of the two becomes an important foundation in building a civilization that is scientifically advanced and morally and spiritually dignified.
MODEL TABAYYUN DIGITAL: LITERASI MEDIA QUR'ANI UNTUK MENANGKAL HOAKS DAN RADIKALISME DI KALANGAN MUSLIM INDONESIA Lilik Aminah; Ahmad Faiz Maulana
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.427

Abstract

Peredaran hoaks dan konten radikal di media sosial menjadi tantangan serius bagi masyarakat Muslim Indonesia, sementara model literasi media yang berlandaskan epistemologi Al-Qur'an masih terbatas dan umumnya berhenti pada tataran normatif. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi Model Tabayyun Digital sebagai kerangka pembelajaran literasi media berbasis nilai-nilai Qur'ani untuk memperkuat kemampuan peserta didik dalam memverifikasi informasi dan menghadapi hoaks serta radikalisme di ruang digital. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA yang dipadukan dengan analisis konseptual-kritis terhadap lima belas artikel primer yang mewakili empat rumpun kajian, yaitu tafsir tabayyun, literasi digital keagamaan, pedagogi dakwah digital, dan literasi media kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Tabayyun Digital tersusun atas empat tahapan kompetensi yang saling berkaitan, yaitu Talaqqī al-Ma'lūmāt (penerimaan informasi secara kritis), Taḥqīq al-Maṣdar (verifikasi sumber), Taqyīm al-Muḥtawā (evaluasi konten berdasarkan nilai-nilai Islam), dan Nashr al-Ṣidq (penyebaran informasi yang telah terverifikasi). Keempat tahapan tersebut membentuk suatu proses pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis, etika verifikasi informasi, dan tanggung jawab moral dalam aktivitas bermedia digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model pembelajaran yang mengoperasionalkan epistemologi tabayyun Qur'ani ke dalam tahapan kompetensi yang sistematis, sehingga menjembatani kesenjangan antara kajian tafsir normatif, penelitian empiris literasi digital keagamaan, dan teori literasi media kritis. Model ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan teori literasi media Islam sekaligus menawarkan kerangka pedagogis yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan Islam formal, pesantren, maupun pendidikan nonformal untuk memperkuat ketahanan digital masyarakat Muslim.
RELASI HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM DALAM PENGATURAN POLIGAMI: ANALISIS PASAL 402 DAN PASAL 403 KUHP NOMOR 1 TAHUN 2023 Danial Achmad; Zainal Arifin
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.428

Abstract

Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Nomor 1 Tahun 2023 melalui Pasal 402 dan Pasal 403 menimbulkan diskursus mengenai hubungan antara legalitas poligami menurut hukum positif dan keabsahannya menurut hukum Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi ketentuan tersebut dengan prinsip-prinsip poligami dalam Al-Qur'an. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur'an, hadis, kitab tafsir, literatur fikih, serta peraturan perundang-undangan mengenai perkawinan di Indonesia. Analisis dilakukan melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an membolehkan poligami dengan syarat keadilan dan kemampuan memenuhi tanggung jawab terhadap istri dan anak, sedangkan hukum positif Indonesia menambahkan persyaratan administratif berupa izin pengadilan dan mekanisme perlindungan hukum. Pasal 402 dan Pasal 403 berorientasi pada penegakan ketertiban hukum serta perlindungan hak perempuan dan anak, sementara hukum Islam menitikberatkan pada terpenuhinya rukun, syarat, dan tujuan perkawinan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua sistem hukum memiliki orientasi yang berbeda, namun saling melengkapi dalam mewujudkan kemaslahatan keluarga, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap anggota keluarga.

Page 1 of 1 | Total Record : 5