cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "vol. 10 no. 2 (2023): october 2023" : 16 Documents clear
Elementary School Students' Perceptions of STEM-Based Mobile Learning Applications Reza Rachmadtullah; Evita Purnaningrum; Suharni Suharni
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12387

Abstract

AbstractResearch conducted by the "We Are Social" institution shows that Indonesian people are a significant resource in utilizing the internet. The ability of Indonesian elementary school students in using digital technology is quite good; however, its use is primarily for entertainment. Observing this phenomenon, researchers have taken the initiative to harness digital technology to enhance the learning experience, moving away from conventional methods. This study aims to investigate how elementary school students perceive STEM-Based Mobile Learning Application Technology. The research method used for this study is qualitative, emphasizing discourse analysis and conversational analysis. Participants in this study included ten fifth-grade elementary school students in the city of Cirebon. The results of the study have been quite positive, as this application makes it convenient for students to study anywhere and at any time, as long as their smartphones are connected to the internet. Nonetheless, the use of STEM-Based Mobile Learning Application Technology has received feedback regarding its limitations and weaknesses, such as the small screen, which makes it challenging for users to read text.Keywords: mobile learning application, STEM, elementary school students.AbstrakRiset yang dilakukan oleh lembaga We Are Social menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merupakan sumber daya yang sangat besar dalam mendayagunakan internet. Kemampuan siswa Sekolah Dasar Indonesia sudah cukup baik dalam menggunakan teknologi digital. Namun pemanfaatannya masih bersifat hiburan. Melihat fenomena tersebut, peneliti berinisiatif untuk memanfaatkan teknologi digital untuk memfasilitasi pembelajaran sehingga tidak lagi bersifat konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi Siswa Sekolah Dasar terhadap Teknologi Aplikasi Mobile Learning Berbasis STEM. Metode yang digunakan untuk jenis penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. menekankan pada fokus analisis wacana dan analisis percakapan Partisipan dalam penelitian ini yaitu melibatkan sepuluh siswa sekolah dasar kelas lima di kota Cirebon. Hasil penelitian ini yaitu Mendapatkan respon yang postif karena apliaksi ini memberikan kemudahan siswa untuk belajar dimanapun dan kapanpun asalkan smartphone mereka terhubung dengan internet. Namun penggunan Teknologi Aplikasi Mobile Learning Berbasis STEM juga mendapatkan respon terkiat kelemahan atau kekurangannya yaitu memiliki keterbatasan seperti perangkat lainnya diantaranya yaitu layarnya kecil sehingga pengguna kesulitan untuk membaca teks.Kata kunci: aplikasi mobile learning, STEM, siswa sekolah dasar.
The Challenges of Literacy Culture in the Digital Era: The Role of Fairy Tales through the Country in Improving Literacy and Numerical Literacy Bella Monica; Setiawan Edi Wibowo; Arta Mulya Budi Harsono
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12412

Abstract

AbstractThis study aims to uncover (1) the challenges to foster literacy culture in the digital era, (2) the value of literacy conveyed through fairy tales, (3) the role of fairy tales for literacy and numeracy, and (4) the outcomes observed in literacy and numeracy development through fairy tales. The research used the qualitative approach with the case study method. Interviews, observations, and documentation were employed as data collection techniques. The collected data were analyzed through data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that (1) the challenges of literacy culture in the digital era starts with finding and evaluating; (2) the literacy value conveyed through fairy tales includes literacy values encompassing listening, speaking, reading, and writing, while the value of numeracy includes skills in symbols and number, information analysis, and problem solving; (3) the role of fairy tales is as a medium to capture student’s attention. Fairy tales provide entertainment and moral teachings, which are engaging young learners since most children today prefer to see images rather than text. Therefore, the role of fairy tales is considered as a tool to enhance literacy among children.Keywords: fairy tales, literacy culture, numeracy. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) tantangan budaya literasi di era digital, (2) nilai literasi yang disampaikan melalui dongeng, (3) peran dongeng untuk literasi baca tulis dan numerasi, dan (4) hasil literasi dan numerasi melalui dongeng. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian adalah (1) tantangan budaya literasi di era digital dimulai dengan menemukan dan mengevaluasi, (2) nilai literasi yang disampaikan melalui dongeng meliputi nilai literasi, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan nilai literasi numerasi adalah keterampilan simbol dan angka, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah, (3) peran dongeng sebagai media untuk menarik perhatian peserta didik. Dongeng memberikan hiburan dan ajaran moral sehingga akan menarik bagi peserta didik untuk dilihat, karena sebagian besar anak saat ini lebih suka melihat gambar daripada teks. Oleh karena itu, peran dongeng dikatakan sebagai alat untuk meningkatkan budaya literasi kepada anak.Kata kunci: dongeng, budaya literasi, literasi numerasi.
Elementary School Teachers' Understanding of Inquiry Skills and Scientific Attitude Rif'at Shafwatul Anam; Ucu Rahayu; Mestika Sekarwinahyu; Amalis Sapriati
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12844

Abstract

AbstractThis study aims to assess elementary school teachers' inquiry skills and scientific attitudes related to science. The instrument used in this study evaluates four groups of skills: conceptualizing and planning design, implementation, analysis, interpretation, and communication. Additionally, it assesses six categories of scientific attitudes: the nature of science, the basis of science, characteristics of scientists, goals of science, benefits of science, and responses regarding scientists. This research instrument underwent validation by two experts in the field of science. Validation results using Kendall's Tau calculations showed a value of 0.853 for the inquiry ability instrument and 0.807 for scientific attitude, and both falling into the ‘very high’ category. The study involved 49 elementary school teachers. Findings revealed that teachers' inquiry skills were categorized as 'weak', indicated by an average percentage below 50% in each skill group. Regarding scientific attitude, respondents' responses varied significantly between positive and negative statements, despite similarities found in two categories: 'basic science' and 'purpose of science'. This study highlights the necessity to consider the the learning process science, particularly emphasizing the development of inquiry skills and fostering positive scientific attitudes, from elementary school through university education.Keywords: inquiry skills, scientific attitudes, elementary teacher.                                                             AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterampilan inkuiri guru baik dari sisi proses maupun sikap ilmiah terkait dengan sains. Proses yang diujikan dalam instrument ini terdiri dari empat kelompok keterampilan: mengkonsepsi dan merencanakan desain, implementasi, analisis dan interpretasi, serta mengkomunikasikan. Pada sikap ilmiah terdiri dari enam kategori yaitu: sifat dari ilmu sains, dasar ilmu sains, hal yang dimiliki ilmuan, tujuan ilmu sains, manfaat ilmu sains, dan tanggapan mengenai ilmuan sains. Instrumen penelitian ini telah dilakukan validasi pada dua orang doktor pada bidang sains. Berdasarkan hasil validasi menggunakan perhitungan Kendall’s Tau memiliki nilai sebesar 0,853 untuk instrument kemampuan inquiry dan nilai sebesar 0,807 untuk sikap ilmiah serta keduanya termasuk ke dalam kategori sangat tinggi. Responden dalam peneitian ini terdiri dari 49 orang guru sekolah dasar yang didapatkan bahwa keterampilan inkuiri berada pada kategori “lemah” hal ini ditunjukkan dengan persentase rata-rata responden pada setiap kelompok dibawah 50%. Sedangkan pada sikap ilmiah didapatkan bahwa respon responded terhadap pernyataan sikap ilmiah antara pernyataan positif dan negatif cukup berbeda walaupun ada dua kategori sikap ilmiah yang sama responnya. Dua kategori itu adalah pada “dasar ilmu sains” dan “tujuan dari sains”. Studi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran sains dari SD sampai dengan perguruan tinggi perlu untuk diperhatikan terutama hal yang berkaitan dengan keterampilan inkuiri dan sikap ilmiah.Kata kunci: kemampuan inkuiri, sikap ilmiah, guru sekolah dasar
Improving Social Science Learning Outcomes of Class V Elementary School Students through the TPACK Approach Desak Made Dharmawati; Nur Busyra; Ervin Azhar
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12980

Abstract

AbstractThe main problem in this study is the low learning outcomes of fifth grade students in social studies at a private elementary school in East Jakarta, Indonesia. This is because the learning approach used in these schools is still conventional. The purpose of this study was to improve social studies learning outcomes for fifth grade students using the technology pedagogical content knowledge (TPACK) approach. By using classroom action research, this research was conducted in three cycles involving 10 students. Each cycle consists of planning, implementing, acting, observing, and reflecting. Data collection was carried out using a test consisting of a pre-test and post-test. The test results data were then analyzed using descriptive statistics. The results showed that based on the post-test results in cycle I, only 6 students or 60% fulfilled the KKM. In cycle II the percentage of student learning completeness increased to 70% or 7 students fulfilled the KKM. In cycle III, student learning completeness again increased to 82%. Therefore, it can be concluded that the use of the technology pedagogical content knowledge (TPACK) approach in social studies learning is effective in improving student learning outcomes.Keywords: social science learning outcomes, TPACK approach, elementary school students. AbstrakMasalah utama dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa kelas V IPS di salah satu sekolah dasar swasta di Jakarta Timur, Indonesia. Sebab, pendekatan pembelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah tersebut masih konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V dengan menggunakan pendekatan technology pedagogi konten pengetahuan (TPACK). Dengan menggunakan penelitian tindakan kelas, penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dengan melibatkan 10 siswa. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes yang terdiri dari pre-test dan post-test. Data hasil pengujian kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil post-test pada siklus I, hanya 6 siswa atau 60% yang memenuhi KKM. Pada siklus II persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 70% atau 7 siswa yang memenuhi KKM. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa kembali meningkat menjadi 82%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan teknologi pedagogi konten pengetahuan (TPACK) dalam pembelajaran IPS efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.Kata kunci: hasil belajar IPS, pendekatan TPACK, siswa sekolah dasar.
Software and Hardware Development of Madrasah Ibtidaiyah Student's Fitness Evaluation based on Hexagonal Obstacle Microcontroller (Evabugar Mikrohexo) Adi Wijayanto; Muhamad Zaini
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13115

Abstract

Abstract One area of testing, measuring, and evaluating sports fitness components is agility. This field of agility really needs a touch of technological information, such as software and computer hardware, to help overcome problems that arise in this development. With the existence of agility tests, measurements, and evaluations, it is hoped that the agility scores obtained will be more objective. This research aims to develop an evaluation of student software and hardware based on a hexagonal resistance microcontroller (evabugar microhexo). This research design uses a research and development plan. The stages in this development research go through several stages, namely: (1) initial needs analysis and information gathering; (2) planning; (3) product development; (4) preparation for small group trials; (5) first product revision; (6) field trials; (7) second product revision; (8) field trials; (9) third product revision; (10) dissemination and implementation. The results of the agility test in small group trials were 61.90%. This is because the operational method is not yet user-friendly, and there are still many confusing commands. The use of Evabugar Mikrohexo in large group trials has improved. The level of ease of carrying out measurement tests and reading results is 80.95%. In general, the level of ease of designing the Evabugar Mikrohexo and ease of use reaches 80.95%. Keywords: agility, fitness, hexagonal, microcontroller.AbstrakSalah satu bidang tes, pengukuran, dan evaluasi komponen kebugaran olahraga adalah kelincahan. Bidang kelincahan ini sangat membutuhkan sentuhan teknologi informasi seperti perangkat lunak dan keras komputer untuk membantu mengatasi permasalahan yang timbul dalam perkembangan tersebut. Dengan adanya tes, pengukuran dan evaluasi kelincahan, maka diharapkan nilai kelincahan yang didapat semakin objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan software dan hardware evaluasi kebugaran mahasiswa berbasis mikrokontroler hexagonal obstacle (evabugar mikrohexo). Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan. Tahapan dalam penelitian pengembangan ini melalui beberapa tahapan, yaitu (1) analisis kebutuhan awal (need assement) serta pengumpulan informasi; (2) perencanaan; (3) pengembangan produk; (4) persiapan uji coba kelompok kecil; (5) revisi produk pertama; (6) uji coba lapangan; (7) revisi produk kedua; (8) uji coba lapangan; (9) revisi produk ketiga; (10) desiminasi dan implementasi. Hasil tes kelincahan pada uji coba kelompok kecil sebesar 61,90%, hal ini dikarenakan cara pengoperasionalannya belum user friendly dan masih banyak perintah yang membingungkan. Penggunaan Evabugar Mikrohexo pada uji coba kelompok besar sudah semakin membaik, tingkat kemudahan melakukan tes pengukuran serta membaca hasil sebesar 80.95%. Secara umum tingkat kemudahan desain Evabugar Mikrohexo dan kemudahan dalam menggunakannya mencapai 80.95%.Keywords: kelincahan; kebugaran; hexagonal, mikrokontroler.
An Innovative Approach to Environmental Literacy: The Sustainable RADEC Learning Model for Elementary Schools Hana Lestari; Ima Rahmawati; Mohammad Ali; Wahyu Sopandi; Ana Ratna Wulan
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13123

Abstract

AbstractThis study aims to design and develop an Education of Sustainable Development-oriented RADEC learning design model for enhancing the environmental literacy of elementary school students. The research approach employed consists of four key stages: (1) problem identification, (2) defining various objectives, (3) design and development, and (4) product validation. The research sample was selected using purposive sampling and comprised six elementary school teachers from various grade levels, ranging from grade 1 to grade 6. Data collection involved the use of scaled questionnaires and interviews. The collected data were then analyzed using the Explanatory Sequential Mixed Method. The results indicate that the curriculum design for the ESD-oriented RADEC learning model is suitable for implementation in elementary schools. This conclusion is supported by the mean score of 3.98 and a standard deviation of 0.22, showing a consistent range of responses among experts. In other words, the experts unanimously agree that the product design is appropriate for classroom learning. To further assess the validity of the design, a one-way ANOVA test was conducted to determine if there were significant differences in the opinions of experts across various domains (ESD, RADEC, Environmental Literacy, and Basic Education). The results revealed that the F score and p-value exceeded α = 0.05, indicating no significant differences in the perceptions of the experts involved in the study. In summary, the experts reached a consensus that the product design exhibits a high level of feasibility, earning a "proper" rating in each component developed.Keywords: environmental literacy, ESD, RADEC learning model. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan model pembelajaran RADEC berorientasi Education of Sustainable Development (ESD) untuk mengembangkan literasi lingkungan siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan penelitian design and development. Prosedur Design and Development yang terdiri dari beberapa langkah yaitu : (1) identifikasi masalah, (2) mendeskripsikan berbagai tujuan, (3) rancangan dan pengembangan artefak, (4) uji validasi artefak.  Penelitian ini melibatkan enam orang guru sekolah dasar dari kelas 1 sampai 6 dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tertutup berskala likert dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Explanatory Sequential Mixed Method yaitu metode analisis data yang menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain kurikulum model pembelajaran RADEC berorientasi ESD layak diterapkan di sekolah dasar, hal ini ditunjukkan dari skor mean (3,98) dan standar deviasi (0,22) dengan rentang yang tidak jauh berbeda. Dapat diartikan persepsi ahli bersifat homogen (setuju) bahwa desain produk layak diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Selanjutnya dilakukan uji one way ANOVA untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pendapat para ahli yang signifikan dari para ahli (ahli ESD, RADEC, Literasi lingkungan dan Pendidikan Dasar). Didapatkan hasil skor F dan p-value lebih besar dari α = 0,05 dari uji tersebut. Hasil ini menunjukkan persepsi para ahli yang terlibat dalam penelitian ini tidak berbeda nyata. Artinya, para ahli sepakat bahwa desain produk yang dikembangkan memiliki kriteria tingkat kelayakan dengan kategori “layak” untuk setiap komponen produk yang dikembangkan.Kata kunci: literasi lingkungan, ESD, model pembelajaran RADEC.
Why is Normative Commitment Invalid? An Empirical Study on Principals of Public Elementary Schools Kamaludin Kamaludin
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13467

Abstract

The purpose of this study is to assess the construct validity of the principal's commitment to the proposed theory so that it can be seen that the observation variable can form a latent variable. The research approach used in this study uses a quantitative approach with a measurement model in the form of First Order Confirmatory Factor Analysis. The sample in this study amounted to 233 principals of State Elementary Schools. The location in this study is Brebes Regency, Central Java Province, Indonesia. The data analysis in this research is starting by developing a theoretical model, making a causal relationship path diagram, choosing an input matrix and getting a model estimate, assessing the identification of structural models, and assessing the criteria for Goodness of Fit. The research findings in this study are the dimensions of the principal's commitment measurement include affective, sustainability, and normative commitment, indicating that the normative dimension is invalid and insignificant in measuring the principal's commitment. This proves that commitment does not arise only because of concerns about the bad opinions of colleagues if the principal does not stay in school.
An Analysis of Student’s Difficulties in Learning Mathematics at Madrasah Ibtidaiyah Atin Supriatin; Aeni Latifah; Siti Annisah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13718

Abstract

AbstractThis study aims to describe the level of difficulty of students in solving story problems in mathematics learning at Madrasah Ibtidaiyah. This research is a descriptive-analytical study. The participants of the study were third-grade students at one Madrasah Ibtidaiyah in Palangka Raya City, which numbered 34 people and fifth-grade students at one Ibtidaiyah Madrasah in East Lampung City, which amounted to 40 people. Data collection techniques use tests in the form of 10 questions. The tests given to the research sample have met the criteria of validity and reliability. Data analysis techniques use descriptive statistics in the form of tables and graphs through the calculation of averages and percentages. The results of this study explain that, in general, students have difficulty solving story problems. The most difficulty experienced by third graders is associating mathematics with daily life problems, which is 83.82%. In comparison, the most difficulty experienced by fifth-grade students is changing the language of everyday problems into the language of mathematics (making mathematical models or making a solution plan), which is 82%. This research produced a novelty in describing the difficulty of students solving story problems in mathematics learning by linking mathematics to daily life problems in Madrasah Ibtidaiyah.Keywords: analysis of difficulty levels, story problems, mathematics learning. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kesulitan siswa dalam memecahkan masalah cerita dalam pembelajaran matematika di Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Subjek penelitian adalah siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Kota Palangka Raya yang berjumlah 34 orang dan siswa kelas lima Madrasah satu Madrasah Kota Lampung Timur yang berjumlah 40 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes berupa 10 pertanyaan. Tes yang diberikan kepada sampel penelitian telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa tabel dan grafik, melalui perhitungan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah cerita. Kesulitan yang paling banyak dialami oleh siswa kelas tiga adalah mengaitkan matematika dengan masalah kehidupan sehari-hari, yaitu 83,82%. Sedangkan kesulitan yang paling banyak dialami oleh siswa kelas V adalah mengubah bahasa soal sehari-hari menjadi bahasa matematika (membuat model matematika atau membuat rencana solusi) yaitu 82%. Penelitian ini menghasilkan kebaruan berupa deskripsi kesulitan siswa memecahkan masalah cerita dalam pembelajaran matematika dengan mengaitkan matematika dalam masalah kehidupan sehari-hari di Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: analisis tingkat kesulitan, permasalahan cerita, pembelajaran matematika.
Primary School Students’ Analogical Reasoning in Solving Open-ended Word Problems Egitayanti Aulia Rochman; Mohammad Faizal Amir
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13769

Abstract

AbstractThis study aims to identify primary school students' analogical reasoning in solving open-ended word problems. This is qualitative research with a case study approach. The participants in this study were 25 fifth-grade primary school students selected using the purposive sampling technique to represent each category of analogical reasoning based on analogical reasoning tasks. Research instruments comprised of tests in analogical reasoning tasks and interview guidelines. Data analysis techniques included data reduction, presentation, and verification. Research results showed that there were three categories of students' analogical reasoning in solving word problems with close-ended source problems and open-ended target problems: (1) open comprehensive analogy, where students successfully solved the close-ended source problem and the open-ended target problem; (2) semi-open comprehensive analogy, where students successfully solved the close-ended source problem but did not successfully solve the open-ended target problem; and (3) failure in close-open analogy, where students did not successfully solve the close-ended source problem and the open-ended target problem. The results of this study suggest that educators, especially at the primary level, deepen students' ability to solve close-ended problems first so that students can solve open-ended problems with analogical reasoning.Keywords: analogical reasoning, problem-solving, open-ended, primary school. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penalaran analogi siswa sekolah dasar dalam memecahkan word problems berbasis open-ended. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 25 siswa kelas lima sekolah dasar, untuk memilih subjek penelitian menggunakan teknik purposif yang mewakili setiap kategori penalaran analogi berdasarkan tugas penalaran analogi. Instrumen penelitian meliputi tes berupa analogical reasoning tasks dan pedoman wawancara. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga kategori penalaran analogi siswa ketika memecahkan word problems dengan masalah sumber close-ended dan masalah target open-ended, yaitu: (1) Analogi open comprehensive, siswa berhasil memecahkan masalah sumber close-ended dan masalah target open-ended; (2) Analogi semi-open comprehensive, siswa berhasil memecahkan masalah sumber close-ended tetapi tidak berhasil memecahkan masalah target yang open-ended; (3) Kegagalan analogi close-open, siswa tidak berhasil memecahkan masalah sumber close-ended dan masalah target open-ended. Hasil penelitian ini menyarankan kepada para pendidik khususnya di tingkat dasar untuk memperdalam kemampuan siswa dalam memecahkan masalah close-ended terlebih dahulu agar siswa bisa memecahkan masalah open-ended dengan penalaran analogi.Kata kunci: penalaran analogi, pemecahan masalah, open-ended, sekolah dasar.
The Implementation of Merdeka Curriculum in Piloting Madrasa; A Case Study at State Madrasah Ibtidaiyah of Semarang City Ali Imron
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.14749

Abstract

AbstractThis research examines the implementation of the Merdeka Curriculum at State Madrasah Ibtidaiyah (MIN) of Semarang City, Central Java, Indonesia. This type of research is qualitative research with a descriptive-analytical approach. The Data of this study are collected through interviews and documentation, while the analysis technique used is the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusions. The results showed that the implementation of the Merdeka Curriculum at MIN of Semarang City has been effective despite facing obstacles. Some obstacles are a lack of experience in implementing the Merdeka Belajar approach, the references and access to learning resources, the facilities and the amenities, and the understanding of scoring and assessment. However, these obstacles can be overcome with several supporting actors, including the active participation of teachers and madrasahs, the use of Merdeka Belajar platforms, the continuity of evaluation and improvement, and assistance from supervisors. The impact of implementation, including the changes in learning methods, innovation, the development of student independence, increased creativity and initiative, the relevance of learning, and increased student collaboration, bring positive impacts in improving the quality of learning and the outcomes of the student.Keywords: implementation of merdeka curriculum, madrasa piloting, continuous improvement.AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang implementasi kurikulum merdeka di MIN of Semarang City, Jawa Tengah, Indonesia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sehingga pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan deskriptif-analitis.. teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisisnya menggunakanmodel Miles dan Huberman yang mencakup tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di MIN of Semarang City telah berjalan efektif, meskipun menghadapi kendala seperti kurangnya pengalaman dalam menerapkan pendekatan merdeka belajar, keterbatasan referensi dan akses ke sumber belajar, keterbatasan sarana dan fasilitas, dan keterbatasan pemahaman dalam penilaian dan asesmen. Akan tetapi hambatan tersebut dapat diatasi dengan beberapa faktor pendukung yang meliputi partisipasi aktif guru dan madrasah, pemanfaatan platform merdeka belajar, evaluasi dan perbaikan terus-menerus, dan pendampingan dari pengawas. Dampak implementasi termasuk perubahan metode pembelajaran, inovasi, pengembangan kemandirian siswa, peningkatan kreativitas dan inisiatif, relevansi pembelajaran, dan peningkatan kolaborasi siswa, membawa dampak positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa secara keseluruhan.Kata kunci: Implementasi kurikulum merdeka; Madrasah percontohan; perbaikan berkelanjutan.

Page 1 of 2 | Total Record : 16