cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022" : 5 Documents clear
PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) SEBAGAI PENCEGAHAN DEGRADASI MORAL PADA ANAK Fatkhul Arifin; Edwita Edwita; Zulela M.S; Gusti Yarmi; Yazid Hady
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.30071

Abstract

Abstract. Character Building is a process or effort to foster, improve and or shape human character, character, nature and morals (symbol) to show a good attitude in socialising. This study aims to examine various reports related to negative behaviours carried out by students. Furthermore, researchers want to know what solutions to overcome these problems. The method used in this study is a literature review from relevant sources such as books, journals and mass media related to student problems. The issues researchers study are limited to student violence, bullying cases, brawl culture and student moral degradation. The data analysis technique is a deeper study related to the sources obtained. The results of the researchers' observations regarding negative behaviour carried out by students indicate that most of these behaviours are carried out because students feel satisfaction when they carry out bullying, violence, etc. Parents, such neglect, carry out no early prevention, so children cannot distinguish between right and wrong. Character education is a solution to prevent negative things from being done by students; there needs to be cooperation between parents, teachers and the surrounding environment. The conclusion is that character education needs to be done early on by parents so that children can distinguish between right and wrong. The growth of mutual respect and tolerance will prevent children from doing negative things. Abstrak. Caracter Building merupakan proses atau usaha untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk watak, tabiat, sifat, dan akhlak (budi pekerti) manusia sehingga menunjukkan sikap yang baik dalam bersosialisi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji berbagai peberitaan terkait dengan perilaku-perilaku negatif yang dilakukan oleh siswa. Selanjutnya peneliti ingin mengetahui solusi apa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur dari sumber-sumber relevan seperti buku, jurnal dan media masa yang terkait dengan permasalahan siswa. Masalah yang dikaji peneliti batasi seperti: kekerasan siswa, kasus bullying, budaya tawuran dan degradasai moral siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah kajian lebih dalam terkait sumber-sumber yang didapat. Hasil pengamatan peneliti terakait perilaku negative yang dilakukan oleh siswa menunjukkan bahwa kebanyakan perilaku tersebut dilakukan karena siswa merasa ada kepuasan ketika melakukan perilaku bullying, kekerasan, dll. Tidak ada pencegahan dini yang dilakukan oleh orang tua, seperti ada pembiaran sehingga anak tidak bisa membedakan hal yang benar dan salah. Pendidikan karakter merupakan solusi untuk mencegah hal-hal negative yang dilakukan siswa, perlu ada Kerjasama antara orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Kesimpulannya bahwa Pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini oleh orang tua, sehingga anak bisa membedakan antara yang benar dan salah. Tumbuhnya sikap saling menghargai dan  toleransi akan mencegah anak-anak melakukan hal-hal negative.  
PEMAHAMAN HUKUM USIA PERKAWINAN BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN PARUNG-BOGOR M Nuzul Wibawa; Harun Rasyid; Bisri abd Shomad; Kamarusdiana Kamarusdiana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.32819

Abstract

Abstract. This study analyzes the legal understanding of the age of marriage among santri of Pondok Pesantren Nurul Iman Parung-Bogor, and the efforts of the pesantren academic community to provide legal awareness to santri regarding the age of marriage and the factors that influence santri to marry above the age of 19. Data were obtained through field studies at Pondok Pesantren Nurul Iman with a focus on the knowledge of the age of marriage of the santri. The results showed that the santri's understanding of the age of marriage is good because the curriculum in the pesantren already contains marriage and the factors that influence legal awareness of marriage include legal education, the role of educators, religious teaching, the pesantren environment which is quite supportive of the knowledge of the santri, and the education program that must be passed by santri who must complete college and serve in the pesantren for 2 years to be the main supporting factor for the age of marriage of the santri is above 19 years. This research has important implications in creating a society that complies with marriage law, lives a harmonious family life, and supports fair law enforcement. Cooperation between pesantren institutions, the government, and the community is also important in increasing awareness of marriage law. Abstrak. Penelitian ini menganalisis pemahaman hukum usia perkawinan di kalangan santri Pondok Pesantren Nurul Iman Parung-Bogor, dan uPaya civitas akademika pondok pesantren memberikan kesadaran hukum kepada para santri terkait usia perkawian dan faktor yang mempengaruhi santri menikah di atas usia 19 tahun.. Data diperoleh melalui studi lapangan di Pondok Pesantren Nurul Iman dengan fokus pengetahuan usia perkawinan para santri. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman  para santri tentang usia perkawinan sudah baik karena kurikulum yang ada dipesantren sudah memuat tentang perkawinan serta faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum perkawinan meliputi pendidikan hukum, peran pendidik, pengajaran agama, lingkungan pesantren yang cukup mendukung pengetahuan para santri, dan program Pendidikan yang harus dilalui para santri yang harus selesai kuliah dan mengabdi di pondok selama 2 tahu menjadi Faktor pendukung utama usia menikah para santri sudah di atas 19 tahun. Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam menciptakan masyarakat yang patuh terhadap hukum perkawinan, menjalani kehidupan berkeluarga yang harmonis, dan mendukung penegakan hukum yang adil. Kerjasama antara lembaga pesantren, pemerintah, dan masyarakat juga penting dalam meningkatkan kesadaran hukum perkawinan. 
GENDER SEBAGAI SUMBER POLITIK DALAM KEWARGANEGARAAN SOSIAL (PERAN PEREMPUAN DI PARLEMEN INDONESIA) Mariana Mariana; Aip Piansah; Uu Nurul Huda; Ahmad Rifai
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29039

Abstract

Abstract. Women's political presence in the public sphere, including their political participation and representation, is an important, though not equal element for Indonesian citizens in their capacity as participatory and sufficient in multiple strategies to create gender equality. This paper aims to find out about gender as a political source in social citizenship, especially the role of women in the Indonesian parliament. Researchers use normative legal research methods (Normative Legal Research), a type of qualitative research The legal materials used in this study include primary, secondary, and tertiary legal materials. The collection of secondary legal materials is carried out by literature studies. The existence of women in parliament gives a new spirit in the gender equality order as policy makers on governance issues. In its existence, affirmative action is still a problem for women in improving the quality of their representation in parliament. Abstrak. Kehadiran politik perempuan di ranah publik, termasuk partisipasi dan keterwakilan politik mereka, merupakan elemen penting, meskipun tidak sama bagi warga Negara Indonesia dalam kapasitasnya sebagai partisipatif dan cukup dalam strategi berganda untuk menciptakan kesetaraan gender. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui terkait gender sebagai sumber politik Dalam kewarganegaraan sosial khususnya peran perempuan di parlemen Indonesia. Peneliti menggunakan metode penelitian hukum normatif (Normative Legal Research),jenis penelitian kualitatif. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Pengumpulan terhadap bahan hukum sekunder dilakukan dengan studi kepustakaan. Keberadaan perempuan dalam parlemen memberikan semangat baru dalam tatanan kesetaraan gender sebagai pengambil kebijakan terhadap isu-isu pemerintahan. Dalam keberadaannya tindakan afirmasi masih menjadi persoalan bagi perempuan dalam meningkatkan kualitas keterwakilannya di parlemen.   TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack//   This page is in English Translate to Indonesian    AfrikaansAlbanianAmharicArabicArmenianAzerbaijaniBengaliBulgarianCatalanCroatianCzechDanishDutchEnglishEstonianFinnishFrenchGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHebrewHindiHungarianIcelandicIndonesianItalianJapaneseKannadaKazakhKhmerKoreanKurdish (Kurmanji)LaoLatvianLithuanianMalagasyMalayMalayalamMalteseMaoriMarathiMyanmar (Burmese)NepaliNorwegianPashtoPersianPolishPortuguesePunjabiRomanianRussianSamoanSimplified ChineseSlovakSlovenianSpanishSwedishTamilTeluguThaiTraditional ChineseTurkishUkrainianUrduVietnameseWelsh Always translate English to IndonesianPRO Never translate English Never translate journal.uinjkt.ac.id
KETIMPANGAN GENDER DI BALI: ANALISIS BUDAYA PATRIARKI, PERAN ADAT DAN AGAMA, SERTA RELEVANSINYA DI DUNIA MODERN Galuh Anissa Sekar Ayu; Putra Ardiansyah; Royhan Ahmad Danarlie
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29268

Abstract

Abstract. This research is motivated by the patriarchal culture that is strongly embedded in the Balinese cultural system. The patriarchal culture that penetrates into the life of the Balinese people is predicted to be the biggest cause of gender inequality in various areas of people's lives. Gender inequality in the province of Bali can be found in the social, economic, cultural, political, and demographic fields. The main objective of this research is to provide answers to the formulation of the problem " How is the patrilineal system in Bali, the geographical location influencing patriarchal culture, and the roles of customs and religion contribute to gender inequality in the realms of family and society, and its relevance in the present day? The formulation of the problem will be answered using the concepts of liberal feminism, gender equality, and patriarchal culture with qualitative research methods. We argue that the patrilineal system is the biggest cause of imperial patriarchal culture and gender inequality in Bali. The research results indicate that the patrilineal system is closely related to the customs and norms of Balinese society. Moreover, the geographical location also contributes to the establishment of a patriarchal dominance in Bali. However, some Balinese communities perceive that the culture causing this gender imbalance is no longer relevant. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh budaya patriarki yang melekat kuat dalam sistem kebudayaan masyarakat Bali. Budaya patriarki yang menelisik masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bali digadang-gadang menjadi penyebab terbesar ketimpangan gender dalam berbagai bidang kehidupan masyarakatnya. Ketimpangan gender di Provinsi Bali banyak ditemui pada bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga kependudukan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberi jawaban atas rumusan masalah “Bagaimana kentalnya sistem patrilineal di Bali, lokasi geografis yang mempengaruhi budaya patriarki, dan peran adat serta agama menyebabkan ketimpangan gender pada ranah keluarga dan sosial serta relevansinya saat ini?" Rumusan masalah tersebut akan dijawab menggunakan konsep feminisme liberal, kesetaraan gender, dan budaya patriarki dengan metode penelitian kualitatif. peneliti berargumen sistem patrilineal menjadi penyebab terbesar kekaisaran budaya patriarki dan ketimpangan gender di Bali. Hasil penelitian menunjukkan sistem patrilineal berkaitan erat dengan adat dan norma masyarakat Bali. Pun letak geografis turut menentukan kekisaran patriarki di Bali. Beberapa masyarakat Bali menilai budaya yang menyebabkan ketimpangan gender ini dinilai sudah tidak relevan. 
MELACAK BIAS GENDER DALAM PENAFSIRAN KEMENTERIAN AGAMA RI PADA AL-QUR’AN SURAH AN-NISA DAN AL-BAQARAH Nur Laili Nabilah Nazahah Najiyah; Abdul Hamid; Asa Ade Muliana
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 18(2), 2022
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v18i2.29662

Abstract

Abstract. Gender bias is an injustice in the division of positions and roles between men and women. Factors that cause bias are the values and norms of society which tend to limit women's space for movement. These understandings of gender bias often get support from patriarchal readings of the Qur'an. Therefore, this research specifically presents a gender-biased form of interpretation of Qur'anic verses in the Interpretation of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. These verses are QS. an-Nisa: 34 and QS. al-Baqarah: 282. There are two formulations of the problem that are discussed in this study, namely first, what is the nature of the concept of gender bias; and second, the form of gender bias in the interpretation of the book of commentary "Al-Qur`an and its Interpretations" written by the Commentary Team of the Indonesian Ministry of Religion. Analysis of the study is carried out with several steps of activities simultaneously, namely condensation and presentation of data, as well as verification (conclusion). In addition, explanatory analysis is needed to find out and at the same time clarify in depth the content/meaning contained in the QS. an-Nisa: 34 and QS. al-Baqarah: 282. The result is that a biased understanding often gets support from a patriarchal reading of the Koran. In his interpretation of QS. al-Nisa': 34 and QS. al-Baqarah: 282, there is an interpretation of these verses where there is a hierarchical (position) which seems to indicate the wife's position is under (control) of the husband and reflects an attitude of subordination. Abstrak. Bias gender merupakan suatu ketidakadilan dalam pembagian posisi dan peran antara laki-laki dan perempuan. Faktor penyebab adanya bias adalah nilai dan norma masyarakat yang cenderung membatasi ruang gerak perempuan Pemahaman-pemahaman bias gender ini seringkali mendapat dukungan dari pembacaan al-Qur`an secara patriarkis. Karenanya, penelitian ini secara khusus menyajikan bentuk penafsiran ayat-ayat al-Qur`an yang bias gender dalam Tafsir Kementrian Agama RI. Ayat-ayat tersebut yaitu QS. an-Nisa: 34 dan QS. al-Baqarah: 282. Ada dua rumusan masalah yang menjadi bahasan dalam penelitian ini, yaitu pertama, bagaimana hakikat konsep bias gender; dan kedua, bentuk bias gender dalam penafsiran kitab tafsir “Al-Qur`an dan Tafsirnya” yang ditulis oleh Tim Mufasir Kementrian Agama RI. Analisis kajian dilakukan dengan beberapa langkah kegiatan secara bersamaan, yakni kondensasi dan penyajian data, serta verifikasi (kesimpulan). Selain itu, analisis eksplanatoris dibutuhkan untuk mengetahui sekaligus memperjelas secara mendalam kandungan/makna yang terkandung dalam QS. an-Nisa: 34 dan QS. al-Baqarah: 282. Hasilnya, bahwa pemahaman yang bias seringkali mendapat dukungan dari pembacaan al-Qur`an secara patriarkis. Dalam penafsirannya pada QS. al-Nisa’: 34 dan QS. al-Baqarah: 282, terdapat sebuah tafsir atas ayat-ayat tersebut terdapat sebuah hierarkis (kedudukan) yang seakan menunjukkan posisi istri berada di bawah (kendali) suami dan mencerminkan adanya sikap subordinasi. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5