April 2025, rencana dalam memperlakukan kembali sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA mulai tahun pengajaran 2025/2026 diumumkan oleh Kementian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebagai pembalikan dari kebijakan yang sebelumnya yang sudah dihapus dalam Kurikulum Merdeka. Keputusan tersebut telah mendapatkan kritik dari beberapa pihak dikarenakan dianggap tergesa-gesa dan belum didukung dari landasan akademik yang kuat. Artikel ini memiliki tujuan guna melakukan analisis permasalahan tersebut dengan menggunakan pandangan dari teori konstruktivisme sosial dari Lev Vygotsky, dengan menekankan pada perbedaan secara konseptual antara pembelajaran dan pembelajaran sebagai kerangka analisis utama. Metode yang digunakan adalah studi kasus berbasis data sekunder dari pemberitaan media massa dan literatur akademis. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan penjurusan bekerja pada level pembelajaran (instruction) sebagai rancangan eksternal, tetapi berpotensi menghambat proses belajar (learning) yang bersifat internal apabila struktur sosial yang terbentuk mempersempit Zone of Proximal Development siswa. Artikel ini merekomendasikan agar desain penjurusan tetap memberi ruang bagi kolaborasi lintas rumpun ilmu dan scaffolding yang kontekstual.