Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren merupakan ironi serius, mengingat pesantren seharusnya menjadi tempat pembinaan akhlak. Penyebab utama terjadinya masalah ini bukan hanya terletak pada individu pelaku, tetapi juga pada struktur relasi kuasa yang tertutup dan minimnya pendidikan kesadaran kritis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan kritis dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren. Melalui pendekatan studi pustaka, ditemukan bahwa pendidikan kritis dapat membongkar relasi kuasa yang patriarki, membangun kesadaran akan hak, dan menciptakan ruang aman bagi korban. Oleh karena itu, pengintegrasian pendidikan kritis dalam kurikulum dan pembinaan pesantren merupakan langkah strategis untuk menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan bermartabat.