Artikel ini membahas strategi dakwah kultural yang dilakukan oleh Walisongo dalam proses Islamisasi di Jawa dengan meninjau aspek historis serta otentisitas ajaran Islam yang disampaikan. Islam tidak disebarkan melalui pendekatan koersif, melainkan melalui strategi dakwah yang persuasif dan adaptif terhadap budaya lokal masyarakat Jawa. Saluran utama Islamisasi meliputi perdagangan, perkawinan, dan seni budaya, yang masing-masing berperan penting dalam membentuk penerimaan sosial terhadap ajaran Islam. Para Walisongo memanfaatkan interaksi ekonomi, hubungan sosial melalui perkawinan, serta media seni seperti wayang, gamelan, dan tradisi lokal sebagai sarana dakwah yang efektif. Pendekatan kultural ini menunjukkan kemampuan Walisongo dalam mengakomodasi nilai-nilai lokal tanpa menghilangkan substansi ajaran Islam. Dengan metode historis-analitis, artikel ini menegaskan bahwa dakwah kultural Walisongo tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan Islamisasi di Jawa, tetapi juga menjaga otentisitas ajaran Islam dalam bingkai budaya lokal. Strategi dakwah persuasif yang diterapkan menjadi model penting dalam pengembangan dakwah Islam yang moderat dan kontekstual hingga masa kini