Miftahurrahmah El Hayati
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Sasaran Advokasi Kesehatan Dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting: Studi Literatur Nabila Andini; Nurul Hidayah; Putri Zahrina Zahra; Senja Vellina; Miftahurrahmah El Hayati
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8751

Abstract

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Upaya percepatan penurunan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui advokasi kesehatan yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi advokasi kesehatan dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia melalui metode literature review. Artikel yang dianalisis diperoleh dari Google Scholar berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi advokasi kepada pemerintah dilakukan melalui penguatan komitmen politik, koordinasi lintas sektor, pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), pemanfaatan data sebagai dasar kebijakan, serta penguatan dukungan sumber daya kesehatan. Sementara itu, advokasi kepada masyarakat dilakukan melalui penyuluhan kesehatan, kampanye sosial, konseling gizi, pendampingan keluarga, pemanfaatan media komunikasi, dan pendekatan berbasis budaya lokal. Faktor pendukung keberhasilan advokasi meliputi komitmen pemerintah, keterlibatan kader kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi informasi. Adapun faktor penghambat yang ditemukan antara lain rendahnya literasi kesehatan masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia, kondisi sosial ekonomi yang rendah, serta belum optimalnya koordinasi antarinstansi. Dengan demikian, advokasi kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi strategi penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Literature Review: Peran Stakeholder dalam Upaya Pengendalian Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Miftahurrahmah El Hayati; Chairunnisa; Ikrima Fauziah; Wira Anjani; Muhammad Abdurrozaq
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8758

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia yang memerlukan upaya pengendalian secara komprehensif dan berkelanjutan. Pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada intervensi sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai stakeholder melalui dukungan kebijakan, koordinasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat. Dalam perspektif advokasi kesehatan, keterlibatan stakeholder berperan penting dalam memperkuat pelaksanaan program pengendalian DBD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran stakeholder dalam upaya pengendalian kasus DBD serta mengidentifikasi bentuk keterlibatan, faktor pendukung, dan faktor penghambat pelaksanaan program. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan deskriptif. Penelusuran literatur dilakukan melalui beberapa basis data nasional berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel yang dipilih merupakan penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2021–2025, tersedia dalam bentuk teks lengkap, dan relevan dengan topik penelitian. Hasil seleksi menghasilkan sepuluh artikel untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder yang terlibat dalam pengendalian DBD meliputi pemerintah, Dinas Kesehatan dan Puskesmas, tenaga kesehatan, masyarakat, kader kesehatan/Jumantik, keluarga, dan stakeholder lintas sektor. Pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan dan koordinasi program, sedangkan sektor kesehatan berperan dalam pelaksanaan surveilans, promosi kesehatan, dan kegiatan pengendalian DBD. Masyarakat menjadi salah satu stakeholder utama karena berkontribusi dalam penerapan perilaku pencegahan dan keberlanjutan program. Faktor pendukung keberhasilan meliputi koordinasi antar stakeholder, dukungan sumber daya, dan partisipasi masyarakat, sedangkan hambatan yang ditemukan berupa keterbatasan pendanaan, koordinasi yang belum optimal, dan rendahnya keterlibatan masyarakat. Disimpulkan bahwa pengendalian DBD memerlukan kolaborasi antar stakeholder yang didukung oleh penguatan advokasi kesehatan, koordinasi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat agar program dapat berjalan secara lebih efektif dan berkelanjutan.