Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Eksplorasi Teknik Membuat Pola Pattern Die Cut Pewarnaan dan Finishing Kulit Ikan Nila sebagai Kombinasi Material pada Produk Tas Wanita Bambang Tristiyono; Ellya Zulaikha; Hertina Susandari; Ari Dwi Krisbianto; MY Alief Samboro; Aarifatun Nurul Ilmi
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v20i1.4081

Abstract

Tren fashion berubah dengan cepat, dan merupakan tantangan bagi brand lokal untuk terus berinovasi agar dapat bersaing pada pasar nasional dan internasional. Beberapa inovasi produk dapat dengan menggunakan material yang unik, dan penggunaan teknik produksi yang berbeda. Seperti halnya penggunaan material kulit ikan untuk diaplikasikan pada produk fashion dan lifestyle yang belum banyak diketahui oleh penikmat produk fashion. Kulit ikan adalah material kulit hewan dengan karakter kulit yang berbeda tiap spesies ikan. Seperti kulit ikan Nila, yang memiliki tekstur dan motif sisik pada penampang kulit, dengan ketebalan kulit kurang dari 1 mm. Ikan Nila sendiri merupakan jenis ikan yang mudah dibudidayakan, dan tidak termasuk satwa endemik di Indonesia. Ini merupakan sebuah potensi bagi ikan Nila untuk dapat diaplikasikan pada produk-produk kerajinan kulit. Artikel ini membahas mengenai eksperimental material kulit ikan Nila, untuk membentuk ragam hias, sebagai kombinasi material produk tas wanita Fashion trends change rapidly, and it is a challenge for local brands to continue to innovate in order to compete in national and international markets. Some product innovations can use unique materials, and use different production techniques. Like the use of fish skin material to be applied to fashion and lifestyle products that are not widely known by fashion product connoisseurs. Fish skin is an animal skin material with different skin characteristics for each fish species. Like Tilapia fish skin, which has a texture and scale motif on the skin, with a skin thickness of less than 1 mm. Tilapia itself is a type of fish that is easily cultivated, and is not endemic to Indonesia. This is a potential for tilapia to be applied to leather handicraft products. This journal discusses the experimental material of Tilapia fish skin, to form decorations, as a material combination for women's handbags.
Studi Kebutuhan Desain Wearable Chair untuk Mengurangi Faktor Kelelahan pada Tenaga Medis Nadya Paramitha Jafari; Djoko Kuswanto; MY Alief Samboro; Bambang Tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 20 No. 2 (2021)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v20i2.11597

Abstract

Operasi membutuhkan gerakan yang tepat menggunakan ketelitian beberapa milimeter, "stabilitas batang tubuh" sangat mempengaruhi stabilitas operasi. Proses operasi dilakukannya mampu mencapai 8 sampai 12 jam lamanya. Proses operasi yang lama dan dilakukan pada postur berdiri selama berjam-jam menyebabkan kasus yaitu beban dalam punggung bagian bawah dan kaki semakin tinggi sebagai akibatnya mengakibatkan kelelahan dan sakit dalam bagian tersebut. Terdapat alasan mengapa tidak disediakan kursi ataupun kursi disediakan hanya terbatas yaitu lingkungan ruang operasi didesain untuk melakukan operasi pada postur berdiri. Ahli bedah bisa mengganti posisi mereka tergantung dalam area dan perawatan yang dilakukan selama operasi. Selain itu, banyak orang bekerja sama pada operasi sementara banyak sekali kabel untuk alat kesehatan terletak pada lantai, sebagai akibatnya tidak terdapat ruang cukup untuk kursi apa pun.. Wearable chair layaknya kursi yang dapat diduduki tetapi tetap melekat pada tubuh saat digunakan untuk kegiatan berjalan ataupun berpindah tempat. Dalam beberapa sumber mengungkapkan bahwa penggunaan wearable chair dapat mengurangi rasa lelah dan sakit ketika berkativitas menggunakan posisi berdiri pada waktu yg lama. Tetapi sayangnya alat ini belum dipakai di Indonesia, padahal kebutuhan akan wearable chair sangat tinggi dan dapat dipakai tidak hanya untuk proses operasi pada rumah sakit tetapi bisa dipakai pula untuk pabrik atau perusahaan yang mempunyai sistem kerja menggunakan posisi berdiri dalam waktu yang lama. Selain belum dipakai di Indonesia, alat yang telah ada mempunyai harga yang relatif mahal dan sulit dijangkau oleh rumah sakit maupun perusahaan yang membutuhkan alat ini. Penulis pada penelitian ini mengembangkan dan menciptakan desain wearable chair yang mempunyai bentuk simple, easy to use, kuat, mempunyai sudut yang dapat dirubah dan memiliki harga yang terjangkau. Surgery requires specific motion with a precision of several millimetres, "balance of the torso" significantly impacts the steadiness of the surgical treatment. The surgical treatment system may be up to eight to twelve hours. The long system of surgical treatment and is done in a standing posture for hours causes problems, namely, the burden at the lower back and legs increased, inflicting fatigue and ache with inside the part. There is a purpose why no seats or chairs are provided only restrained i.e. the working room surroundings is designed to carry out operations in a standing posture. Surgeons can alternate their function relying upon the place and the treatment performed during the surgical treatment. In addition, many humans cooperate with inside the operation while numerous cables for medical devices are positioned on the floor, so there isn't sufficient area for any chair. A wearable chair is sort of a chair that may be occupied however nevertheless connected to the frame while used for on foot or shifting activities. A few sources point out that using wearable chairs can lessen fatigue and ache while advantages with the standing position for a long time. But unfortunately, this device has not been utilized in Indonesia, however, the need for wearable chairs may be very excessive and may be used not only for the operating system in hospitals however may be used additionally for factories or organizations which have a working system with standing positions for a long time. In addition to not yet being utilized in Indonesia, existing tools have a pretty highly-priced charge and are hard to attain by hospitals and organizations that want this device. The authors on this look at advanced and made a wearable chair layout that has a simple shape, clean to use, is strong, has a revamped angle, and has a low-cost price.
Pengolahan Limbah Batok Kelapa Muda Menggunakan Teknik Press sebagai Material Produk Seri Lampu MY Alief Samboro; Linda Monica Hadi Kusuma; Audit Yulard; Primaditya Hakim
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 22 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v22i1.17960

Abstract

Batok kelapa muda kurang dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga menyebabkan penumpukan di beberapa tempat. Padahal karakteristik batok kelapa muda yang tidak keras dan memiliki motif serabut yang khas berpotensi untuk dijadikan bahan pengembangan desain dari produk olahan batok kelapa yang ada di pasaran saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perlakuan yang tepat dalam pengolahan batok kelapa muda menggunakan teknik press. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan inovasi desain yang berbeda dari produk olahan batok kelapa yang sudah ada. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara ke beberapa pengguna dan ahli, lalu dilanjutkan dengan observasi ketersediaan limbah dan produk olahan batok kelapa untuk menemukan karakteristik dan perlakuan yang tepat pada pengolahan limbah batok kelapa muda. Melalui hasil eksperimen ini, diperoleh bahwa karakteristik batok kelapa muda yang tidak keras berpotensi untuk dijadikan material produk lampu dengan teknik pengolahan baru. Teknik pelunakan yang digunakan juga berpotensi untuk menghasilkan desain produk olahan batok kelapa yang unik dan berbeda dari sebelumnya. Di sisi lain, motif khas batok kelapa muda masih bisa dipertahankan, sehingga produk yang dihasilkan nantinya dapat menampilkan kesan natural. Abstract—Young coconut shells are often ignored by the community, which results in the accumulation of waste in several locations. In fact, the characteristics of young coconut shells are soft and have unique fiber patterns and motifs, which have the potential to be used as material for design development in processed coconut shell products that are already circulating on the market. The aim of this research is to determine an effective processing method for young coconut shells using the press technique. Apart from that, this research aims to create design innovations that are different from previously existing processed coconut shell products. Data collection was carried out by conducting interviews with several users and experts, accompanied by direct observation of the availability of waste in the field and existing processed products to identify the characteristics and appropriate treatment in processing this waste. The experiments carried out discovered new processing techniques in processing materials for making hood products. The softening technique used also has the potential to produce designs for processed coconut shell products that are unique compared to existing products. Meanwhile, the typical patterns and motifs of young coconut shells can be maintained, resulting in a product that displays the natural impression of the material.