Tujuan dari penelitian ini yaitu tidak lain untuk menjustifikasi rupa-bentuk terma “ashâlah†ketika menemui “kerancuan†ilmiah Metode pendekatan yang diketangahkan dalam tulisan ini adalah berdasarkan kaidah kritik evaluatifrekonstruktif tanpa dekontruktif-destruktif (al-naqdu li al-taqwîm wa i’âdat al-binâ la ila al-tafkîk wa al-ifnâ’). Dimana penting untukmerekontruksi dan mencari ide-ide struktural dalam bangunan penafsiran ad-dakhîlah (sesat) yang dianggap penyelewengan untuk membedakan dari penafsiran al-ashâlah (lurus) demi menjaga orisinalitas tafsir. Tulisan ini menyoroti arkeologi dan epsitemologi yang ada dalam narasi pembacaan Infiltratif-Substansif sebagai intrumen penafsiran alQur’an.