Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Shaut Al-'Arabiyah

المعرفة واستعمالها في اللغة العربية Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.187

Abstract

المعرفة واستعمالها في اللغة العربيةبقلم: هادينج* ABSTRAK Bahasa termasuk bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi yang dengannya manusia dapat mencurahkan isi hati, pikiran dan perasaannya serta bertukar pikiran dan pandangan antara dua orang atau antar anggota kelompok.Sebagai nikmat pemberian Allah swt. yang terpelihara dengan terpeliharanya al-Qur’an, bahasa Arab memiliki keistimewaan-keistimewaan jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Di antara keistimewaan-keistimewaan itu adalah dijadikanya sebagai bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah sebagi dua sumber utama ajaran Islam, dan sebagai bahasa persatuan dunia Islam.Selain itu, bahasa Arab juga teristimewa dengan aneka macam ilmunya (علوم اللغة العربية) dan kaedahnya, dimana dengannya para penuturnya dan siapa saja yang menggunakannya dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam penggunaannya, baik secara lisan maupun tulisan.Dan di antara   ilmu itu adalah ilmu qawa’id al-Nahwi atau tata bahasa bagaimana menempatkan kata kata serta perubahannya dalam rangka menyusun kalimat dalam bahasa Arab sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing serta ketentuan terkait dengannya secara baik dan benar, termasuk di dalamnya ketentuan atau aturan berkaitan dengan isim-isim makrifah dengan berbagai bentuknya; yaitu makrifah dengan alif dan lam, makrifah dengan isim ‘alam, makrifah dengan isim isyarah, makrifah dengan isim dhamir, makrifah dengan isim mauhshul, dan makrifah karena sandar atau disandarkan kepada isim makrifah.    Kata Kunci: Bahasa Arab, Qawa’id, dan makrifah. المراجعالقرآن الكريم[1] http://arabic1lan.arabblogs.com/archive/2008/2/484791.html, Diakses Senin, 4/11/13 [1]http://www.islamstory.com/diakses, Rabu, 06-08-2013.الأنصاري، جمال الدين عبد الله بن هشام، شرح قطر الندى وبلّ الصدى، (بيروت-لبنان، 2008).ضيف، شوقي ، تجديد النحو(الطبعة الثانية؛ القاهرة: دار المعارف، 1982).عمر، أحمد مختار وأصدقائه، النحو الأساسي, (الطبعة الرابعة؛ الكويت: دار السلاسل، 1994.الغلاييني، الشيخ مصطفى,جامع الدروس العربية، الجزء الأول  (الطبعة الأولى؛ مصر: دار ابن هشام،، 2005).نعمة، فؤاد، ملخص قواعد اللغة العربية (الطبعة الثالثة والعشرون، القاهرة: المكتب العلمي للتاليف والترجمة بدون سنة). النقراط، عبد الله ، الشامل في العربية، (الطبعة الأولى؛ بنغازي – ليبيا: دار الكتب الوطنية، 203).   
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1222

Abstract

Hadis atau Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua seteleh al-Qur’an jika dilihat dari segi periwayatan berbeda dengan al-Qu’an, dimana yang kedua setiap kali ayat ayatnya turun, Rasulullah saw. langsung memerintahkan penulis wahyu untuk menulisnya, sementara untuk hadis Nabi saw., tidak demikian halnya. Periwayatan hadis Nabi saw., dengan demikian lebih banyak berlangsung secara lisan dibandingkan  dengan  tulisan,  akibat  dari  ada  larangan  Rasulullah  saw.  secara umum kepada para sahabat untuk menulis hadis  hingga Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz (salah seorang Khalifah Bani Umayyah) memandang perlunya penulisan dan pembukuan hadis-hadis Nabi saw., dengan mempertimbangkan berbagai faktor, berupa: adanya kekhawatiran akan lenyapnya hadis; munculnya hadis palsu akibat pertentangan politik dan mazhab; berpencarnya para sahabat di beberapa kota, serta banyaknya dianta sahabat  yang meniggal dunia dalam peperangan.   Hasil dari upaya pembukuan hadis  itu  telah  melahirkan kitab-kitab hadis standar  sebagai rujukan  dalam  hal  pengamalan  Sunnah  Nabi  saw.,  dalam  kehidupan  kaum muslimin, serta untuk kepentingan penelitian dan pengkajian.
Musibah Perspektif Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1257

Abstract

Musibah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang menimpa, mencakup hal-hal yang  buruk maupun yang baik., tetapi kebanyakan orang memandang  sesuatu itu sebagai musibah jika dalam bentuk bencana dan malapetaka (yang tidak disukai), dan sedikit orang yang melihat dan menyadari berbagai kenikmatan –yang tidak disikapi dengan baik- sebagai  suatu musibah  yang dapat menggoyahkan dan merusak keimanan.Dari tujuh macam musibah yang dapat menimpa manusia menurut hadis Rasulullah saw., satu yang menyangkut fisik yaitu naṣab, dan  enam lainnya (waṣab, wahm, huzb, ażả, dan al-syaukah yusyảkuha), menyangkut fisik dan non fisik sekaligus. Ketujuh jenis musibah itu pada dasarnya tidak disukai oleh manusia dan tidak disebutkan tentang jenis musibah yang disukai. Rasulullah saw. Hanya menggambarkan sikap muslim yang begitu luar biasa dalam menyikapi kesusahan dan kebahagiaan yang menimpanya., dimana untuk yang pertama yaitu musibah berupa kesusahan dan kesedihan disikapinya dengan kesabaran, dan musibah berupa kesenangan disikapinya dengan kesyukuran, dan kedua sikap itu baik untuknya.Yang dituntut dari seorang muslim manakala ia mendapatkan musibah yang tidak disenangi adalah bersabar pada saat hantaman (saat-saat) pertama  (al-ṣadamat al-ulả), lalu ditindaklanjutinya dengan istirjả’ (inna lillảh wa inna ilaihi rảji’un), bahwa sesungguhnya kita dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya jualah kita akan kembali, sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan secara berlebihan.
Hadis Ḍa’īf (Sebab-Sebab Ke-Ḍa’īf-an dan Ke-Ḥujjah-annya Menurut Ulama Ahli Hadis) Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2683

Abstract

Hadis yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrīr, hal ihwal serta sifat-sifat Nabi Muhammad saw., merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an. Hanya saja, untuk meyakini apakah sesuatu yang dinyatakan bersumber dari Nabi itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, perlu adanya upaya penelitian dan pengkajian  baik menyangkut kuantitas (jumlah) orang yang terlibat dalam periwayatannya berikut kualitas orang perorang yang terlibat dalam proses transformasi maupun terkait keabsahan isi atau materi beritanya itu sendiri agar seseorang tidak salah dalam memberikan penilaian dan menentukan sikap. Dan untuk melakukan pengkajian terkait kualitas suatu hadis,  pengetahuan terkait kriteria maupun syarat-syarat suatu hadis yang layak diterima atau bahkan ditolak untuk selanjutnya diamalkan merupakan suatu keharusan. Hadis ḍa’īf sebagai  salah satu jenis hadis dilihat dari segi kualitasnya menempati tingkat terendah setelah hadis sahih dan hasan dan sebab-sebab ke-ḍa’īf-an dan macam-macamnya serta bagaimana ke-ḥujjah-annya menjadi bahan diskusi dan pembahasan menarik di kalangan ulama ahli hadis antara yang menerima secara mutlak, menolak secara mutlak atau menerima dengan syarat-syarat tertentu, terutama jika dihubungkan dengan faḍā’il al-‘amal atau keutamaan beramal.