Sungadi Sungadi
Universitas Islam Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Buletin Perpustakaan

Kematangan Karir Pustakawan Perguruan Tinggi Di DIY Sungadi Sungadi
Buletin Perpustakaan No. 58 (2017): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang kematangan karir yang dikembangkan oleh D.E. Super (Sharf, 2006) dan Crites (Gonzalez, 2008). Kematangan karir oleh Super ditentukan oleh beberapa komponen antara lain menyangkut perencanaan karir, eksplorasi karir, pengambilan keputusan, informasi kerja dunia, dan pengetahuan tentang kelompok kerja yang diutamakan. Komponen lainnya adalah orientasi karir total, merupakan kombinasi yang menggambarkan dari subskala. Konsep lain merupakan bagian dari definisi Super tentang kematangan karir, tapi itu tidak diuji oleh inventaris pengembangan karir, yaitu realisme. Menurut Crites ada dua dimensi dalam kematangan karir, yaitu dimensi sikap dan dimensi kognitif. Dimensi sikap meliputi: keterlibatan, bimbingan, kebebasan, pilihan, dan komitmen. Sementara dimensi kognitif terdiri dari: penyelesaian masalah, perencanaan, seleksi sasaran, dan penilaian kinerja sendiri. Problematika yang dihadapi Pustakawan Perguruan Tinggi (PPT) Daerah Istimewa Yogyakarta adalah: (1) tidak adanya persiapan sebelum menentukan pilihan menjadi pustakawan; (2) sebanyak 90.63% pustakawan diangkat pertama kali melalui inpassing, sehingga dalam perjalanannya banyak mengalami kendala; (3) terdapat 44,03% Pustakawan PPT DIY lebih dari 4 tahun tidak mengajukan DUPAK, dan 37% diberhentikan sementara dari Jabatan Fungsional Pustakawan, karena tidak mampu mengumpulkan Angka Kredit yang diperlukan; (4) masih adanya pustakawan yang berpendidikan SLTA dan non ilmu perpustakaan sebesar 29,56%.
Pembinaan Karir Perspektif Pengembangan Skill Sungadi Sungadi
Buletin Perpustakaan No. 58 (2017): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembinaan karir melalui pengembangan skill (keterampilan) menjadi modal dasar untuk mencapai puncak karir. Pengembangan skill dapat diperoleh melalui pembelajaran seumur hidup lewat pendidikan formal, non formal, dan informal. Menjaga sikap, melakukan pembelajaran sepanjang hayat adalah kunci sukses di dunia karir. Belajar terus menerus dan mengembangkan keterampilan bagi seorang pegawai memerlukan identifikasi keterampilan yang dibutuhkan untuk pengembangan karir. Pembelajaran. Tulisan ini membahas tentang formasi pembinaan karir yaitu dengan rasio 70:20:10. Tujuh puluh persen (70%) perkembangan karir berasal dari aktivitas di tempat kerja dan aktivitas pembelajaran. Selanjutnya 20% perkembangan karir berasal dari interaksi dengan orang lain. Ini termasuk memiliki mentor, menjadi mentor, coaching, berpartisipasi dalam komunitas profesi, melayani sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi dan staf, dan lain lain. Sementara 10% perkembangan karir berasal dari pelatihan, termasuk lokarya, seminar, workshop, konferensi, dan lain lain.
Perubahan Paradigma Perpustakaan Sungadi Sungadi
Buletin Perpustakaan No. 57 (2017): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpustakaan telah mengalami perubahan dalam 3 zaman antara lain era tradisional, era otomasi, dan era digital. Era tradisional ditandai dengan koleksi berbasis kertas dengan alat temu kembali berupa katalog kartu. Era otomasi, koleksi masih berbasis kertas tetapi ditandai dengan alat bantu temu kembali berupa katalog terpasang di komputer yang dikenal dengan OPAC (Online Public Access Catalog). Era digital bercirikan koleksi berupa file-file digital yang dapat diakses menggunakan internet. Dari sisi layanan, perpustakaan tradisional dalam melayani pemustaka dilakukan secara manual demikian juga perpustakaan terotomasi juga masil manual dalam melayani pengguna. Berbeda dengan perpustakaan digital, segala bentuk layanan dapat dilakukan dengan bantuan komputer, bahkan peminjaman/pengembalian koleksi dapat dilakukan secara mandiri oleh pemustaka. Pertumbuhan informasi oleh Floridi dinyatakan bahwa, pada tahun 2003, para peneliti di Berkeley School of Information Management and Systems dan memperkirakan bahwa manusia memiliki akumulasi sekitar 12 exabyte data (1 exabyte setingkat dengan 10 bytes atau setara dengan pemutaran video selama 50.000 tahun). Mengingat ukuran populasi dunia pada tahun 2002, ternyata hampir 800 megabyte (MB) dari data yang tercatat telah dihasilkan per orang. Hal ini seperti dinyatakan bahwa setiap bayi yang baru lahir datang ke dunia akan membawa buku sepanjang 30 kaki (9 meter), setara dengan 800 MB buku kertas. Dari data tersebut, 92% disimpan di magnetik media, terutama di hard disk, sehingga menyebabkan belum pernah terjadi sebelumnya ‘demokratisasi’ informasi: lebih banyak orang memiliki lebih banyak data daripada sebelumnya. Eskalasi eksponensial tersebut tiada henti. Menurut sebuah penelitian terbaru antara tahun 2006 dan 2010 kuantitas global data digital akan meningkat lebih dari enam kali lipat, dari 161 exabyte ke 988 exabyte.Â