This Author published in this journals
All Journal Media Pustakawan
Blasius Sudarsono
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Media Pustakawan

Pustakawan dan Perpustakaan dalam menghadapi tantangan di era global Blasius Sudarsono
Media Pustakawan Vol 18, No 3 (2011): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.766 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i3.824

Abstract

Artikel ini membahas pustakawan dan perpustakaan dalam menghadapi tantangan global. Tangan global pada artikel ini adalah globalisasi. Ruh awal globalisasi adalah hubungan eropa dengan dunia di luar eropa, hubungan ini maksudnya adalah eropa mendominasi perdagangan dan industry di Kawasan di luar eropa. Secara sederhana prinsip globalisasi adalah menghubungkan antar negara sehingga tidak lagi ada batasan, khususnya untuk pergerakan barang, modal dan jasa (tenaga).  Globalisasi membuat penduduk dari negara lain dapat mengikuti isu-isu negara lain dan menyuarakan aspirasinya. Aspirasi ini mensyaratkan program dunia dalam pengembangan atas budaya hak asasi manusia (human right culture). Hal ini menjadi keniscayaan. Dikatakan kita harus belajar menjadi warga dunia (global citizens). Manusia perlu memperlajari kepekaan untuk hidup dalam dunia multikultur. Kewargaduniaan (global citizenship) bukan bawaan genetika namun hanya dapat diper oleh melalui pendidikan dan pelatihan yang ekstensif. Oleh karena itu kita harus mulai terlebih dahulu mendidik diri kita masing­masing dan menghayatinya. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi tantangan sekaligus tulang punggung dalam membangun masyarakat sipil dunia. Perpustakaan sebagai lembaga informasi wajib menyikapi hal tersebut, karena sejalan dengan globalisasi maka web 2.0 menekankan pada partisipasi dari pengguna internet atau web. Web 2.0 memberikan pengaruh dalam penyelenggaraan perpustakaan, atau kita kenal sebagai library 2.0. library 2.0 secara ringkas oleh Blyberg dirumuskan sebagai (koleksi+orang+kepercayaan radikal) x  partisipasi. Partisipasi menjadi kunci, artinya tanpa partisipasi dari pengguna dan pustakawan library 2.0 tidak dapat diwujudkan. Partisipasi tersebut dapat berubah pertanyaan kepada pemustaka mengenai manfaat koleksi yang dipinjamnya, aktif memberikan referensi kepada pemustaka dan kegiatan lain yang memungkinkan terjadi interaksi antara perpustakaan dan pemustaka. Pendayagunaan internet dengan baik dan benar pun menjadi isu yang perlu diperhatikan perpustakaan. Jika perpustakaan adalah pustakawannya maka perubahan menuju library 2.0 harus diawali dengan transformasi pustakawannya.