Desa Genengan memiliki potensi geografis yang mendukung budidaya anggur, namun pengembangannya oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) “Sekar Arum” terkendala oleh keterbatasan pengetahuan teknik budidaya modern dan sistem pemantauan lingkungan yang masih konvensional. Program pengabdian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota KWT mengenai budidaya anggur dan teknik grafting, (2) mengimplementasikan sistem pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT), dan (3) menganalisis efektivitas pelatihan serta kendala adopsi teknologi. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan teoritis dan praktik, implementasi demplot, serta pemasangan perangkat IoT yang memantau suhu, kelembaban tanah, intensitas cahaya, dan pH. Evaluasi menggunakan pretest-posttest dan kuesioner kepuasan. Hasil menunjukkan partisipasi 22 anggota (100%). Terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan dengan nilai rata-rata pretest 71,03 menjadi posttest 93,05 (gain 22,02 poin). Tingkat keberhasilan praktek grafting mencapai 75%. Berdasarkan angket yang telah dibagian diperoleh data bahwa keseluruhan peserta menyatakan materi yang disampaikan bermanfaat. Tingkat ketertarikan pada kegiatan 72,2% menyatakan sangat menarik serta 22,8% menyatakan menarik. Keseluruhan peserta menyatakan tertarik untuk melakukan budidaya anggur di rumah. Sistem IoT beroperasi dengan baik, meski mengalami kendala konektivitas internet. Analisis mengungkap penerimaan yang lebih tinggi terhadap materi budidaya konvensional dibandingkan teknologi IoT, serta ketergantungan pada infrastruktur digital sebagai penghambat utama. Program ini berhasil meningkatkan kapasitas teknis kelompok dan membuka jalan menuju pertanian presisi. Keberlanjutan memerlukan pendampingan lanjutan, penguatan aspek bisnis, dan solusi infrastruktur komunikasi yang adaptif.Kata kunci: budidaya anggur; IoT; kelompok wanita tani; pertanian presisi; pemberdayaan masyarakat