Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Warta Perkaretan

PEMUPUKAN DISKRIMINATIF-SELEKTIF: SUATU USULAN MEMPERTAHANKAN PERFORMA TANAMAN MENGHASILKAN DI TENGAH RENDAHNYA HARGA KARET Priyo Adi Nugroho
Warta Perkaretan Vol. 40 No. 1 (2021): Volume 40, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v40i1.703

Abstract

Pemupukan dan tenaga kerja (penyadapan dan pengolahan) adalah dua komponen utama yang membutuhkan biaya besar dalam usaha agribisnis karet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemupukan secara nyata dapat meningkatkan produktifitas tanaman dan meningkatan ketahanan terhadap penyakit daun. Beberapa kajian juga menunjukkan bahwa outbreak penyakit daun pestalotiopsis sp pada tiga tahun terakhir berkorelasi erat dengan defisiensi hara akibat tidak adanya pemupukan. Di perkebunan besar pemupukan sudah dilakukan secara diskriminatif artinya telah mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti kesehatan tanaman, capaian produktifitas, lingkungan (tanah dan iklim) serta hasil-hasil percobaan pemupukan. Hal ini sangat berbeda dengan perkebunan karet rakyat yang pemupukannya masih menggunakan dosis umum (generik). ketika tren harga karet alam menunjukkan fluktuasi yang sangat dinamis, pemupukan diskriminatif sesuai dengan rekomendasi untuk semua tahun tanam cukup berat untuk dilaksanakan. Pemilihan areal yang dipupuk menjadi penting pada kondisi ini. Pemilihan areal harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal lain seperti analisa ekonomi, proyeksi produksi dan tentunya dengan tidak mengabaikan kesehatan tanaman. Pemupukan yang mempertimbangkan faktor di atas disebut dengan diskriminatif-selektif. Terdapat tiga output yang akan dihasilkan dalam rekomendasi pemupukan diskriminatif-selektif yaitu (1) tanaman dipupuk sesuai dosis anjuran; (2) pengurangan dosis; dan (3) Penundaan pemupukan. Ketepatan dalam pengambilan kebijakan pada pemupukan diskriminatif-selektif sangat ditentukan oleh akurasi dalam perhitungan rekomendasi pemupukan, analisis ekonomi dan kecermatan dalam memproyeksikan kestabilan produksi berdasarkan kondisi tanaman.    
EMISI GAS RUMAH KACA DI PERKEBUNAN KARET Priyo Adi Nugroho
Warta Perkaretan Vol. 35 No. 2 (2016): Volume 35, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.967 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v35i2.95

Abstract

Carbon dioxide (CO2) and nitrous oxide (N2O) and methane (CH4) are three of the major greenhouse gas (GHG). Agricultural sector accounts for 10-14% of global athropogenic GHGs. The research of GHGs in rubber plantation has been started in several rubber producer countries including Indonesia however the progress is not as fast as in other agricultural commodities. Carbon stock and carbon balance in rubber plantation is the trending research topic. Biometric and eddy coveriance are the two methods that are used for investigating carbon emission. The results of some study using those two methods indicate that the similar result i.e. the amount carbon that is released by rubber plantation ecosystem is tended to be smaller than carbon absorption. The amount of CO2 that absorbed by rubber plantation is approximately 29-40 tons CO2 ha/year. Commonly the previous studies are mostly conducted in establish area, which mean the study is not designed with some treatments such as fertilizer and organic matter dosage, time of application, soil tillage. The deeply study of carbon emission, related to field management to carry out the best management practices and environmental friendly is still needed. The similar study concerning other gas like N2O in rubber plantation is also important to be conducted. It is due to the application of nitrogen fertilizer and organic matter in rubber plantation is high enough. There are some opportunities to conduct research consortium with other research institutions and universities in order to solve the high cost in GHGs research.