Kundrat Kundrat
Kontributor Utama. Program Studi Agribisnis Universitas Bale Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Agro Tatanen

KARAKTERISTIK TANAH DI BAWAH VEGETASI ALBASIA DAN ANALISIS NILAI TAMBAH KAYU SENGON DI KECAMATAN TEGALWARU KABUPATEN KARAWANG Kundrat Kundrat; putro Hairutomo Setiko
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 1 No. 2 (2019): AGROTATANEN Edisi APRIL 2019 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.25 KB) | DOI: 10.55222/agrotatanen.v1i2.173

Abstract

Kayu merupakan salah satu hasil hutan yang utama dan diperlukan oleh masyarakat guna memenuhi berbagai keperluan papan, diluar kebutuhan sandang dan pangan. Hasil pohon Albasia berupa penjualan kayu bulat semakin diminati petani, namun sedikit yang mengetahui nilai tambah untuk produk tersebut. Seiring dengan meningkatnya permintaan kayu, maka referensi mengenai karakteristik tanah di bawah vegetasi Albasia di Kecamatan Tegalwaru dapat memudahkan petani dalam praktik budidaya. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian deskriptif kuantitatif guna mengetahui karakteristik tanah, sekaligus melakukan analisis nilai tambah (metode studi kasus). Adapun karakteristik tanah diinventarisasikan berdasarkan Peta Jenis Tanah Indonesia skala 1:250.000. Sedangkan pada studi kasus nilai tambah, sampel dikategorikan dalam dua kelompok usaha berdasarkan penggunaan jumlah kapasitas mesin yang digunakan (total 11 responden). Tanah di bawah vegetasi Albasia pada Kecamatan Tegalwaru merupakan jenis tanah Ultisol, dengan karakteristik fisik berwarna merah, kemiringan ±12 %; penciri kimia seperti C-organik 2,2 %; pH (H2O) 5,43; KTK 28,3 c mol/kg; dan kandungan N-total 0,1 %. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kayu menjadi kayu olahan pada Industri Penggergajian Kayu (IPK) skala usaha kecil sebesar Rp. 108.730,30/m3 bahan baku, dengan rasio nilai tambah sebesar 19,56 %. Sedangkan nilai tambah pada IPK skala usaha besar adalah Rp. 119.897,60/m3 bahan baku, dengan rasio nilai tambah 16,30 %.
ANALISIS UJI KELAYAKAN BUDIDAYA JAMBU BIJI KRISTAL (Psidium guajava L) DI DESA CIWARINGIN KECAMATAN LEMAHABANG KABUPATEN KARAWANG Kundrat, Lily Sumarti, dan Umar Sumarna
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 4 No. 1 (2022): AGROTATANEN EDISI Januari 2022 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.169 KB) | DOI: 10.55222/agrotatanen.v4i1.661

Abstract

Crystal guava cultivation is widely developed in Ciwaringin Village, Lemahabang District, so that the development of crystal guava is in great demand by farmers, this development aims to meet market demand for crystal guava which is quite high with low supply from farmers and other reasons that are the basis is a pretty good market opportunity because it has been able to enter big markets in urban areas. Minim of information for farmers related to the research conducted in Ciwaringin Village is one of the factors for the lack of information for the development of crystal guava cultivation, thus making researchers want to analyze how technical and financial feasibility is on crystal guava farming in Ciwaringin Village, Lemahabang District, Karawang Regency.The business feasibility analysis carried out on crystal guava cultivation is the financial feasibility aspect includes the calculation of NPV, Gross B/C, Net B/C, IRR, Profitability Ratio, and the calculation of the length of the payback period (Payback Period), with the results of the NPV study of Rp.770.335.968, Gross B/C = 1.41, Net B/C = 2.27, IRR = 47,13%, PR = 1.27, and the rate of return on investment business investment PP (Payback Period) for 2.3 years, based on the results of the analysis, the cultivation of crystal guava in Ciwaringin Village, Lemahabang District, Karawang Regency can be said to be feasible