Anak yang menyalahgunakan NAPZA tidak hanya menimbulkan dampak negatif bagi dirinya saja, namun juga berdampak bagi keluarganya, terutama ibu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman ibu yang memiliki anak eks-penyalahguna NAPZA. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dengan kriteria partisipan merupakan ibu yang berusia 30-40 tahun, memiliki anak yang pernah menyalahgunakan NAPZA dan sedang menjalani program pasca rehabilitasi, serta berdomisili di Kota Semarang dan sekitarnya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur dan menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis sebagai metode analisis data. Penelitian ini menghasilkan empat tema induk, yaitu (1) dampak traumatis, terdiri dari respon terhadap penyalahgunaan oleh anak, mekanisme pertahanan diri, penyalahgunaan oleh anak adalah ujian, hubungan dengan orang lain, (2) upaya pemulihan, terdiri dari upaya pemulihan melalui ahli dan upaya pemulihan di rumah, (3) pengasuhan, terdiri dari tantangan pengasuhan dan strategi pengasuhan, (4) penguat untuk tangguh, terdiri dari pandangan tentang diri, coping stress, dan dukungan orang terdekat. Penyalahgunaan NAPZA yang pernah dilakukan oleh anak memunculkan dampak traumatis bagi partisipan. Meskipun partisipan merasakan dampak traumatis ini, partisipan tetap berusaha untuk menjalankan perannya dalam pengasuhan dan berusaha mengurangi stres yang muncul akibat tantangan pengasuhan.