Zulkifli Zulkifli
Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS SOSIOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM Zulkifli Zulkifli
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 9, No 1, April (2022)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v9i1, April.1376

Abstract

Perencanaan sebuah kurikulum pada aspek pembelajaran harus mempertimbangkan aspek sosial. Sudah seyogyanya aspek sosiologis perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum agar peserta didik tidak salah dalam pegangan dan tidak salah dalam berperilaku di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis aspek secara sosiologis dari pengembangan kurikulum. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research), yang bertujuan untuk mendapatkan teori-teori ataupun konsep-konsep sebagai bahan penguat terhadap temuan dalam penelitian ini. Hasil analisis diperoleh bahwa landasan sosiologis sangat penting ada dalam pengembangan kurikulum. Pada prinsipnya  dalam pengembangan kurikulum  di satuan pendidikan harus  mencerminkan keinginan, cita-cita tertentu dan kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kalau pendidikan memperhatikan aspirasi masyarakat, dan pendidikan mesti memberikan jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari kekuatan sosio-politik-ekonomi yang dominan. Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologis yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Landasan ini didasari bahwa pendidikan adalah proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Setidaknya terdapat dua pertimbangan sosiologis yang dijadikan landasan dalam pengembangan kurikululm, yaitu: (1) setiap orang dalam masyarakat selalu berhadapan dengan masalah anggota masyarakat yang belum dewasa dalam kebudayaan, maksudnya manusia yang belum mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan kelompoknya; dan (2) kurikulum dalam setiap masyarakat merupakan refleksi dari cara orang berfikir, merasa dan bercita-cita atau kebiasaan. Oleh karena itu untuk membina struktur dan fungsi kurikulum diperlukan pemahaman terhadap budaya.