Media sosial telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan pemuda, termasuk di Kota Tomohon yang memiliki tingkat penggunaan internet untuk media sosial mencapai 85,55%. Penggunaan media sosial yang berlebihan diduga berkaitan dengan gangguan kualitas tidur dan pola pemanfaatan pelayanan kesehatan pada kelompok usia muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecanduan media sosial dengan kualitas tidur dan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada pemuda di Jemaat GMIM Filadelfia Tinoor. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 129 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari populasi 190 pemuda berusia 18–30 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner intensitas penggunaan media sosial, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur, dan kuesioner pemanfaatan pelayanan kesehatan, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori kecanduan media sosial tinggi (60,5%), kualitas tidur buruk (94,6%), dan pemanfaatan pelayanan kesehatan yang baik (72,1%). Uji korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan namun lemah antara kecanduan media sosial dengan kualitas tidur (r = -0,210; p = 0,017), sedangkan hubungan antara kecanduan media sosial dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tidak signifikan (r = -0,033; p = 0,714), begitu pula hubungan antara kualitas tidur dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan tidak signifikan (r = 0,119; p = 0,181). Disimpulkan bahwa kecanduan media sosial berkontribusi terhadap penurunan kualitas tidur pemuda, tetapi tidak berhubungan secara langsung dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan mereka. Diperlukan edukasi digital detox dan skrining kualitas tidur pada pelayanan kesehatan primer bagi kelompok usia muda.