Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : borneo nursing journal

Hubungan Usia Saat Menikah Dan Status Sosial Ekonomi Terhadap Kejadian Stunting Di Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Dwi Oktavia Anggraini; Agrina; Ari Pristiana Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.380

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat serius karena berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Dua faktor yang sering dikaitkan dengan kejadian stunting adalah usia saat menikah dan status sosial ekonomi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia saat menikah dan status sosial ekonomi terhadap kejadian stunting pada balita di Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross- sectional. Sampel sebanyak 98 ibu yang memiliki balita dipilih dengan teknik insidental. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Fisher’s exact test karena uji Chi- square tidak memenuhi syarat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang menikah pada usia < 19 tahun sebanyak 24 orang (24,5%), dengan 13 anak (52,2%) mengalami stunting dan 11 anak (47,8%) tidak mengalami stunting. Responden dengan status sosial ekonomi rendah berjumlah 34 orang (34,7%), dengan 17 anak (50,0%) mengalami stunting dan 17 anak (50,0%) tidak mengalami stunting. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara usia saat menikah dengan kejadian stunting pada balita (p-value < 0,05) dan terdapat hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada balita (p-value < 0,05). usia saat menikah dan status sosial ekonomi yang rendah berkontribusi terhadap peningkatan risiko stunting pada balita.
Gambaran Kualitas Fisik Air Minum Dan Kejadian Diare Pada Keluarga Dengan Anak Stunting Di Wilayah Pesisir Pekanbaru Shaffa Mardinah; Agrina; Aminatul Fitri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.386

Abstract

Buruknya kualitas fisik air minum umumnya dipengaruhi oleh kurangnya pengelolaan air bersih, pembuangan limbah rumah tangga yang tidak tepat, serta kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memadai, sehingga menyebabkan kontaminasi bakteri escherichia coli dan berisiko diare. Diare berulang menjadi faktor risiko penting terjadinya stunting pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas fisik air minum dan kejadian diare pada keluarga dengan anak stunting di wilayah pesisir Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan langsung. Responden dipilih dengan metode total sampling yang berjumlah 74 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan pekerjaan ibu terbanyak IRT, 40 responden (54.1%), berpendidikan terakhir SMP, 31 responden (41.9%), usia anak terbanyak berada di rentang 25-36 bulan, 26 anak (35.1%), lebih dari separuh anak berjenis kelamin perempuan, 39 anak (52.7%), status gizi anak lebih banyak gizi kurang, 41 anak (55.4%), sebagian besar kualitas fisik air minum keluarga memenuhi syarat ditandai dengan tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa sebesar (63.5%), lebih dari separuh anak pernah mengalami diare dalam 3 bulan terakhir sebanyak 38 anak (51.4%) dengan frekuensi 4-6 kali per hari, 23 anak (31.1%). Kualitas fisik air minum pada keluarga dengan anak stunting sebagian besar memenuhi syarat (tidak berwarna, berbau, dan berasa), namun lebih dari separuh anak masih mengalami diare, sehingga faktor lain seperti sanitasi lingkungan tetap perlu diperhatikan untuk mencegah diare dan stunting.