Wasita Wasita, Wasita
Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Naditira Widya

SENI KRIYA DAYAK DALAM KANCAH INDUSTRI Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.163

Abstract

Proverb:life goes on constant change is inevitable; therefore, it is necessary to transfer distinguish values of the continuously-fading-Dayak-legacy by revitalizing and presenting the Dayak craftsmanship into the life of the present day Dayak. The Dayak craft will be founded on industrial-cultural-based consept to uplift the Dayak distinguish value to reinforce their cultural identity and honor, and be able to open up entrepreneurship possibilities. Similar transfer may be also applied delivering education, unity, and bestowing finance. This article discusses strategic possibility to transfer distinguish values and simultaneously reinforce the Dayaks cultural identity and honor in forms of souvenirs production.
PERMASALAHAN HASIL PERTANGGALAN RADIOKARBON PADA SITUS PATIH MUHUR DAN POSISINYA DALAM SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI KALIMANTAN SELATAN Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 9, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v9i1.118

Abstract

Kadang-kadang hasil analisis pertanggalan absolut, tidak sepenuhnya menuntaskan persoalan kronologi situs.Tidakjarang hasil pertanggalan absolut justru menimbulkan persoalan baru, contohnya di situs Patih Muhur. Berkaitan denganitu, tujuan kajian ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangan pemikiran mengenai penempatan situs Patih Muhur dalamkerangka sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik. Aplikasinyadilakukan dengan mendeskripsikan tahapan pengambilan sampel, analisis yang dilakukan, dan membandingkan hasilpertanggalan absolut dan relatif. Kajian yang dilakukan menghasilkan temuan bahwa terdapat ketidaksinkronan antarapertanggalan absolut dan relatif. Berdasarkan temuan tersebut disimpulkan bahwa validitas hasil pertanggalan absolut tidakcukup dilakukan hanya dalam satu kali uji pertanggalan dan kemudian dianggap final. Idealnya, kajian pertanggalanabsolut dilakukan terhadap beberapa sampel dan akan lebih baik jika analisis dilakukan dengan radiokarbon modern.Setelah itu, seluruh hasilnya dikaji lagi dengan metode Bayesian untuk mendapatkan durasi aktivitas yang meyakinkanyang pernah terjadi di situs.Terakhir, kritisi kembali cara mendapatkan pertanggalan relatif.
PELESTARIAN SITUS-SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN SELATAN: MASALAH DAN SOLUSI PEMECAHANNYA Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v10i1.177

Abstract

Realitas di lapangan terdapat beberapa kepentingan yang berbeda terhadap situs arkeologi. Akibat kepentingandi luar arkeologi menyebabkan beberapa situs mengalami kerusakan. Tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalahmengetahui sebab-sebab munculnya berbagai kepentingan terhadap situs yang mengakibatkan kerusakan dan caramengatasinya. Metode yang digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah deskriptif analitis. Deskripsidilakukan terhadap berbagai hal yang terjadi pada situs. Deskripsi itu akan membantu memahami penyebab munculnyaberbagai kepentingan terhadap situs dan kerusakan yang ditimbulkan, sehingga dapat diperoleh solusinya. Hasilnyadiketahui bahwa adanya perbedaan kepentingan karena cara pandang terhadap situs yang berbeda. Solusinya diraihdengan menggunakan cara pelestarian yang melibatkan masyarakat dengan pendekatan ekonomi dan budaya. Cara inidiharapkan akan menjadi sistem pelestarian yang dapat berjalan dengan sendirinya, karena pelestarian dilakukan denganmemperhatikan sistem kehidupan masyarakat yang sedang berlangsung. Kajian yang dilakukan membuktikan bahwapelestarian yang sistemik dapat terwujud jika tinggalan arkeologi itu memiliki relevansi dengan masyarakat, baik dalam aspekekonomi maupun identitas.
MENGUNGKAP PENELITIAN DI BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN: SEBAGIAN BESAR BELUM FINAL Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i2.110

Abstract

Tulisan ini akan membahas tema dalam penelitian arkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin yang dianggap belum tuntassehingga perlu dikaji dengan menggunakan perspektif yang berbeda. Data yang digunakan adalah laporan penelitian yang mengkajisitus hanya dari satu sudut pandang tanpa mencoba untuk melanjutkan penelitiannya dengan menggunakan perspektif yang berbeda.Oleh karena itu, sebuah penelitian belum bisa dikatakan telah tuntas apabila keluasan perspektif kajian pada sebuah situs belumkomprehensif. Selanjutnya, tulisan akan disusun dengan melihat realitas penelitian arkeologi pada Balai Arkeologi Banjarmasin untukkemudian dipetakan. Dengan cara ini akan terlihat adanya kecenderungan model atau tema penelitiannya. Dari sini kemudian perludilihat pengembangan yang masih mungkin dilakukan.Sementara itu, dari model penelitian yang pernah dan telah dilakukan, jugadievaluasi untuk menemukan langkah-langkah yang semestinya dijalankan. Kajian ini diharapkan dapat menghasilkan peta kecenderunganmodel penelitian arkeologi sehingga dapat direncanakan bentuk penelitian lanjutan yang bersifat memperdalam pengetahuan. Dengandemikian akan dapat dihasilkan penelitian arkeologi yang komprehensif.
PERANAN PATUNG BUAYA, NILAI UPACARA ANSAL, DAN PERGESERAN NILAI DALAM MASYARAKAT DAYAK TAHOL DI KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v7i2.97

Abstract

Patung buaya adalah perlengkapan upacara Ansal, sekaligus sebagai cara untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutanadalah orang berani. Namun ketika pengayaun dilarang, pelaksanaan upacara mengalami pergeseran makna, yaitu untuk meraihstatus sosial yang tinggi. Kajian patung buaya dalam upacara Ansal ditujukan untuk dapat mendeskripsikan latar belakang pergeseranmakna upacara dan nilai-nilai positifnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan metode ini, upaya mendeskripsikanperan patung buaya, artefak, dan situs purbakala, ditempatkan dalam konteks sosial dan peristiwa yang diungkap melalui interpretasiatas penggalian data memori kolektif masyarakat Dayak Tahol. Sementara itu, dalam kaitannya dengan pergeseran makna danpemahaman nilai-nilai positif di dalamnya, dilakukan dengan menempatkan artefak dan situs dalam proses interaksi, yang akan terusdiproduksi oleh manusia dan masyarakat melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitiannya adalah patung buayamemiliki peran dalam upacara Ansal (pasca mengayau) untuk menunjukkan keberanian seseorang dan untuk meraih strata sosial yangtinggi (pasca pengayauan dilarang). Ternyata pergeseran makna tersebut juga disertai adanya nilai-nilai positif di dalamnya, yaituadanya pelajaran untuk kerja keras dan upaya mempertahankan kehormatan keluarga.
ELEMEN PENTING DALAM LOGIKA PENELITIAN ARKEOLOGI KEBINEKAAN (IMPORTANT ELEMENT IN THE LOGIC OF DIVERSITY IN AN ARCHAEOLOGICAL RESEARCH) Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v12i1.253

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang operasional penelitian arkeologi dengan perspektif kebinekaan. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan deskriptif-analitis. Deskripsi untuk menggambarkan langkah-langkah penelitian dan pengumpulan data, sedangkan analisis untuk mengetahui logika pemikiran dan operasional penelitian keragaman. Hasilnya, penelitian arkeologi dengan perspektif kebinekaan harus dilaksanakan berdasarkan variabel penelitian kebinekaan yang berbobot, dan dilakukan terhadap lebih dari satu situs yang mengandung temuan keragaman, yang berasal dari kronologi yang setara, serta terdapat relasi di antaranya. Oleh karena penelitian kebinekaan didasarkan pada rancangan induk dan program prioritas pemerintah di bidang kebudayaan, maka hasilnya ditujukan untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosial dan berbangsa masa sekarang. This study focuses on establishing an archaeological research protocol which based on a perspective of diversity. The method used in this investigation was a descriptive-analytical approach. Such descriptive approach was applied to illustrate the research steps and data collection, whereas analytical method might suggest the logic of thinking and research operational in a perspective of diversity. As a result, archaeological research with a diversity perspective should be conducted by valid variables of diversity perspective research, and performed on multiple sites containing diversity findings, originating from equivalent chronology, and existing relationships among them. Since diversity research was proposed based on the master plan and government priority programs of culture, the results are intended to be implemented in the social life and nation of the present.
USULAN MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA: PEMIKIRAN BERDASARKAN KASUS-KASUS DI KALIMANTAN Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v6i2.171

Abstract

Tulisan ini membahas sejumlah kasus pengelolaan sumber daya budaya di Kalimantan yang tidak sesuaidengan Undang-Undang Cagar Budaya dan menyusun gagasan tentang sebuah model pelestarian cagar budayaberbasis pemanfaatan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengidentifkasi dan mengevaluasi implemantasi peraturandan kegiatan pelestarian yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan kebudayaan di Kalimantan. Hasilevaluasi menunjukkan adanya standar ganda penerapan peraturan pelestarian cagar budaya di Kalimantan.Selain itu, persepsi subyektif-afektif dan kepentingan stakholders ternyata juga mempengaruhi tujuan dan aktivitaspengelolaan cagar budaya. Dengan demikian, model pelestarian yang diajukan adalah menginduksikan perspektifpemanfaatan cagar budaya dalam konteks sistem, yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam aktivitaspelestariannya, serta memposisikan instansi arkeologi sebagai fasilitator, mediator, dan pengawas pelestariancagar budaya.
INFORMAN DALAM PENELITIAN ETNOARKEOLOGI PADA BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN Wasita, Wasita
Naditira Widya Vol 5, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.71

Abstract

Abstrak. Tulisan ini dibahas berdasarkan pada laporan penelitian etnoarkeologi Balai ArkeologiBanjarmasin yang disimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta, utamanya berkaitandengan pemilihan informan dan pemanfaatan data wawancara. Fokus studi ini adalah menemukansiapa saja informan dalam penelitian tersebut dan informasi apa yang diberikan. Caramengetahuinya dengan melihat hasil penggalian data yang terekam dalam laporan penelitian.Dengan melihat paparan data dan memperhatikan sinkron tidaknya dengan masalah penelitian,dapat diukur seberapa besar dukungan data tersebut dalam membantu meraih tujuan. Oleh karenaitu, data dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu, relevan, kurang relevan, dan tidak relevandengan masalah penelitian. Sementara itu, siapa informannya akan dibedakan berdasarkanidentitasnya, sehingga muncul kategori informan sebagai pelaku budaya (penganut agama nenekmoyang,para pemimpin upacara, dan para pejabat kademangan), dan penerima warisan budaya(bukan pemeluk agama nenek-moyang dan bukan pejabat kademangan). Pemilihan informandan informasinya penting dilakukan, karena itu akan mempengaruhi hasil penelitian. Hal inilahyang akan dicemati dalam laporan penelitian etnoarkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin untukdiketahui langkah-langkah yang telah dilakukan. Dengan demikian, diharapkan di masa-masamendatang data informan dapat lebih mendukung analisis dan pembahasan tema penelitian.