Sisa penggunaan bahan organik atau bagian bahan organik yang tidak digunakan seperti tulang ikan dan ampas kelapa dapat dimaksimalkan menjadi makanan. Tulang ikan gabus merupakan sisa pengolahan ikan gabus yang belum dimanfaatkan secara optimal pada proses pembuatan makanan olahan khas kota Palembang. Ampas kelapa merupakan sisa dari pengolahan kelapa parut menjadi santan. Tulang ikan gabus dan ampas kelapa akan menjadi limbah organik jika tidak dimanfaatkan, menghasilkan gas pencemar hasil dekomposisi/penguraian bahan organik oleh mikroorganisme berupa gas metana dan gas lainnya yang memperparah pemanasan global serta menambah tonase sampah. Tujuan penelitian untuk mengurangi limbah organik dan memanfaatkan kandungan gizi tulang ikan gabus dan ampas kelapa yang diolah menjadi makanan tradisional khas Sumatera Selatan yang bentuk dan teksturnya menyerupai makanan olahan sambal lingkung (abon). Proses produksi terdiri dari pengumpulan, pembersihan, penghalusan semua bahan, serta penyangraian. Perlakuan dalam penelitian ini adalah uji mikroorganisme (ALT) dengan hasil 0 CFU/gr dan uji organoleptik dengan memberikan sampel kepada 100 panelis konsumen. Hasil penelitian menunjukan 59 panelis suka dengan warna, 60 panelis suka dengan aroma, 65 suka dengan tekstur, dan 49 panelis suka dengan rasa dari sambal lingkung Tulang Ikan Gabus