Ira Safitri Darwin
Prodi Perencanaan Wilayah Dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Urban

Identifikasi Kondisi Perumahan Krakatau Steel Sebagai Perumahan Pertama di Kota Cilegon Reyhan Rizki Ghifari; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9077

Abstract

Abstract. Region housing Krakatau Steel is housing area the first to be built in Cilegon City For support existence industry iron PT Krakatau Steel . Start built on 1972 housing that has facility social very economic _ complete . Along with walk time , impact business steel weakened nation make non- production sector No Again become priority . Region housing area like experience condition destruction self itself ( self-destruction ), the more decrease quality And the quantity that is House abandoned , road damaged And environment looked slum. This research is interesting to study because the Krakatau Steel housing has the potential to become a BCB (Cultural Heritage Building), while housing data has not been inventoried in detail. In addition, this housing was built with the concept of a company town and has a Russian building style. The research method used is empirical by taking a qualitative approach through observation, field surveys and through company documents. Abstrak. Kawasan perumahan Krakatau Steel merupakan perumahan pertama yang dibangun di Kota Cilegon untuk mendukung keberadaan industri besi baja PT Krakatau Steel. Mulai dibangun pada tahun 1972 perumahan ini mempunyai fasilitas sosial ekonomi yang sangat lengkap. Seiring dengan berjalannya waktu, imbas bisnis baja nasional yang melemah membuat sektor non produksi tidak lagi menjadi prioritas. Kawasan perumahan seperti mengalami kondisi perusakan diri sendiri (self destruction), semakin menurun kualitas dan kuantitasnya yaitu rumah terbengkalai, jalan rusak dan lingkungan tampak kumuh. Penelitian ini menarik untuk diteliti karena perumahan Krakatau Steel berpotensi menjadi BCB (Bangunan Cagar Budaya), sementara itu data – data perumahannya belum terinventarisir dengan detail. Selain itu perumahan ini dibangun dengan konsep company town dan memiliki gaya bangunan Russia. Metode penelitian yang digunakan adalah empiris dengan dengan melakukan pendekatan kualitatif melalui observasi, survey lapangan dan melalui dokumen perusahaan.
Arahan Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya dan Bangunan Diduga Cagar Budaya di Kota Tua Senapelan Kota Pekanbaru Muhammad Shadam Syafsafa Adsya; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9184

Abstract

Abstract. The Senapelan City is an ancient city and the founding nucleus of Pekanbaru, a city that has existed since precolonial times. Its role has transformed over time. In the past, Senapelan served as a strategic trading route and a loading and unloading point for goods conducted by the VOC (Dutch East India Company). During the colonial period, the Dutch established several trading offices towards the south. After Independence, the development of Pekanbaru shifted towards the south, leading to the abandonment of the Senapelan area. Consequently, many historical buildings deteriorated, were left abandoned, and eventually succumbed to the ravages of time. This research is intriguing to be conducted due to the presence of 13 Cultural Heritage Buildings (BCB) managed by the Regional Government and 18 Buildings with Cultural Heritage Potentials (BDCB) with varying conditions, ranging from well-maintained to neglected and even ruined structures. The study aligns with the zoning of the BCB that has been previously conducted in the Old Town of Senapelan. Based on this background, the research aims to formulate guidelines for the revitalization concept of the Old Town of Senapelan. The research adopts a qualitative approach using the hermeneutic method. The research findings indicate that the guidelines for the revitalization of the Old Town of Senapelan should consider the condition of the cultural heritage buildings and their historical value. This can be achieved through reconstruction, consolidation, rehabilitation, restoration, and maintenance approaches.. Abstrak. Kota Senapelan adalah kota tua cikal bakal berdirinya kota Pekanbaru yang sudah ada sejak dari zaman prakolonial. Peran kota ini bertransformasi dari waktu ke waktu. Pada masa lampau Senapelan merupakan jalur perdagangan strategis dan menjadi tempat bongkar muat barang yang dilakukan oleh VOC. Pada masa kolonial, Belanda membangun beberapa kantor dagang ke arah selatan. Pasca Kemerdekaan pembangunan Kota Pekanbaru mengarah ke arah selatan. Sejak saat itu Kawasan Senapelan mulai ditinggalkan, sehingga banyak bangunan bersejarah yang rusak, terbengkalai, hingga hancur dimakan umur. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena terdapat 13 BCB yang di kelola oleh Pemerindah Daerah dan terdapat 18 BDCB dengan kondisinya yang berbeda-beda mulai dari bangunan yang terawat hingga terbengkalai bahkan hancur. Penelitian ini sesuai dengan zonasi BCB yang sudah dilakukan pada kawasan Kota Tua Senapelan. Merujuk latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan dengan tujuan menyusun arahan konsep revitalisasi Kawasan Kota Tua Senapelan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode hermeneutik. Hasil penelitian menunjukan arahan revitalisasi Kawasan Kota Tua Senapelan merujuk pada kondisi bangunan cagar budaya dan nilai sejarah, yaitu dengan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, restorasi dan Pemeliharaan.
Arahan Perluasan Kawasan Pasar Simpang Dago Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Bandung Deby Shafa Anifa; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9189

Abstract

Abstract. Traditional markets are synonymous with negative stigma, such as dirty, disorderly places, minimal facilities, and the character of places that are prone to fraud. Simpang Dago market in the city of Bandung, which has a negative stigma, is also affected by the problems of irregular street vendors, traffic, and trade zoning. Simpang Dago Market revitalization has been carried out several times, but has not produced a significant impact. In fact, the revitalization in 2015 and 2019 has not resolved the problem of irregular street vendors, traffic, and trade zoning. The planned outputs in the Bandung City RDTR 2015–2035 and Bandung City RTRW 2022–2042 direct the expansion of the trade and service area in the Simpang Dago area. This has the potential to deal with problems that have not ended yet, by expanding Simpang Dago Market area inward which currently has an area of 3,610.05 m². The expansion of the Simpang Dago Market area has not been determined and studied further, so this research is important to overcome the irregularity problem. Calculations for the expansion of the Simpang Dago Market area in Bandung City used a mixed methods approach with descriptive and spatial (GIS-based) analysis methods. The results showed that Simpang Dago Market area could be planned for an inward expansion of 10,680 m² with an increase in the market classification to type II according to SNI 8152:2021 Public Market. Abstrak. Pasar tradisional identik dengan stigma negatif, seperti tempat yang kumuh, kotor, tidak beraturan, fasilitas yang minim, serta karakter tempat yang rawan terjadi kecurangan. Pasar Simpang Dago Kota Bandung dengan stigma negatif tersebut turut terdampak permasalahan ketidakteraturan PKL, lalu lintas, serta zonasi perdagangan. Revitalisasi Pasar Simpang Dago sudah beberapa kali dilakukan, tetapi belum menghasilkan dampak yang signifikan. Bahkan, revitalisasi di tahun 2015 dan 2019 belum mengatasi permasalahan ketidakteraturan PKL, lalu lintas, serta zonasi perdagangan tersebut. Keluaran rencana dalam RDTR Kota Bandung Tahun 2015–2035 dan RTRW Kota Bandung Tahun 2022–2042 mengarahkan perluasan kawasan perdagangan dan jasa di kawasan Simpang Dago. Hal ini menjadi potensi untuk menangani permasalahan yang selama ini belum berakhir, yakni dengan perluasan kawasan Pasar Simpang Dago ke arah dalam yang secara eksisting memiliki luas sebesar 3.610,05 m². Perluasan kawasan Pasar Simpang Dago belum ditentukan dan diteliti lebih lanjut, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk mengatasi permasalahan ketidakteraturan tersebut. Perhitungan untuk perluasan kawasan Pasar Simpang Dago Kota Bandung menggunakan pendekatan mixed methods dengan metode analisis deskriptif dan spasial (GIS-based). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Pasar Simpang Dago dapat direncanakan perluasan ke arah dalam sebesar 10.680 m² dengan peningkatan klasifikasi pasar menjadi tipe II sesuai SNI 8152:2021 Pasar Rakyat.
Evaluasi Kondisi Alun-Alun Kabupaten Subang Berdasarkan Persepsi Pengunjung dan Pemerintah Kemal Ismail Dwi Putra; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9244

Abstract

Abstract. Subang square serves as an open space where people carry out socio-economic activities. This decrease in function is suspected because the management and supervision system is not optimal, so that many plaza facilities are damaged. In 2023 the alun – alun Subang is revitalized, but the academic study of the evaluation of the square based on public perception has not been studied. Therefore this research is needed so that it can be used by the government in carrying out revitalization. The analytical method used to answer the first target in this study is descriptive analysis and a rasch model for evaluating the alun – alun Subang based on visitor perceptions. The facilities and infrastructure in alun – alun Subang consist of: 71.43 garden lights, trash bins 41.67 and park benches 66.67, and children's playgrounds are included in the category of facilities and infrastructure that are in bad condition. The reliability coefficient value of Cronbach Alpha is 0.84, Person Reliability is 0.84, and Person Separation is 2.28.b. Based on the interpretation of Item Measure, Guttman Scalogram, and Variable Wright Maps, it is stated that the highest item difficulty level is item number 4 which discusses the availability of adequate public toilets. 1. Repairing the facilities and infrastructure of alun – alun Subang, especially facilities and infrastructure that are in poor condition, including: garden lights, trash cans, park benches, and children's playgrounds. 2. Arrange parking zones and trading activities in areas outside the Subang Regency Square, bearing in mind that the parking and trading zones are supporting sectors of Subang Regency Square in facilitating visitors so that further management and supervision is needed. Abstrak. Alun – alun Subang berfungsi sebagai ruang terbuka tempat masyarakat melakukan aktifitas sosial ekonomi. Penurunan fungsi ini diduga karena sistem pengelolaan dan pengawasan yang tidak optimal, sehingga banyak fasilitas alun – alun yang mengalami kerusakan. Tahun 2023 alun – alun Subang kembali di revitalisasi, namun kajian akademis terhadap evaluasi alun – alun berdasarkan persepsi masyarakat belum dikaji. Oleh karena itu penelitian ini di perlukan agar bisa menjadi bagi pemerintah dalam melakukan revitalisasi. Metode analisis yang dipergunakan untuk menjawab sasaran yang pertama pada penelitian ini merupakan analisis deskriptif dan rasch model untuk evaluasi alun – alun Kota Subang berdasarkan persepsi pengunjung ini.Sarana dan prasarana yang terdapat di Alun-Alun Kabupaten Subang terdiri dari: lampu taman 71,43, tempat sampah 41,67 dan bangku taman 66,67, dan taman bermain anak termasuk ke dalam kategori sarana dan prasarana yang memiliki kondisi buruk.a. Nilai koefisien realibilitas Cronbach Alpha sebesar 0,84, Realibilitas Person bernilai 0,84, dan Separation Person sebesar 2,28.b. Berdasarkan interpretasi Item Measure, Guttman Scalogram, dan Variable Wright Maps, menyatakan bahwa tingkat kesulitan item paling tinggi adalah item nomor 4 yang membahas mengenai ketersediaan toilet umum yang sudah memadai. 1. Memperbaiki sarana dan prasarana Alun-Alun Kabupaten Subang, terutama sarana dan prasarana yang memiliki kondisi buruk, meliputi: lampu taman, tempat sampah, bangku taman, dan tempat bermain anak. 2. Melakukan penataan zona parkir dan kegiatan perdagangan di kawasan luar Alun-Alun Kabupaten Subang, mengingat bahwa zona parkir dan perdagangan merupakan sektor pendukung Alun-Alun Kabupaten Subang dalam memfasilitasi pengunjung sehingga diperlukan pengelolaan dan pengawasan lebih lanjut.