Sari, Ni Putu Wulan Purnama
Universitas Airlangga

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL NERS LENTERA

Nursing Agency Untuk Meningkatkan Kepatuhan,Self-Care Agency (SCA) Dan Aktivitas Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Mellitus (DM) Sari, Ni Putu Wulan Purnama
JURNAL NERS LENTERA Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : JURNAL NERS LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.931 KB)

Abstract

Pendahuluan: Perawat memiliki peran besar dalam memberi penguatan kepada penderita DM untuk mau dan mampu melaksanakan perawatan diri di rumah demi mencapai kontrol glikemik yang baik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh nursing agency terhadap kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan the one group pretest post-test design. Model perawatan diri Orem digunakan sebagai kerangka teoritis. Populasi adalah seluruh penderita DM di Kelurahan Mojo, Surabaya. Sampel dipilih menggunakan quota sampling, besar sampel minimal 30 orang. Variabel independen adalah nursing agency dalam bentuk kegiatan promosi kesehatan yang diikuti diskusi dan konsultasi; variabel dependen adalah kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri. Instrumen yang digunakan adalah handout, SAP dan beberapa kuesioner yang valid dan reliabel. Analisis data menggunakan paired t test dengan α≤0.05. Hasil: Saat pretest, mayoritas responden memiliki kepatuhan yang cukup dan SCA yang tinggi, namun aktivitas perawatan dirinya belum optimal. Setelah diberi intervensi penelitian, mayoritas responden memiliki kepatuhan dan SCA yang tinggi serta aktivitas perawatan diri yang optimal. Nursing agency dapat meningkatkan kepatuhan sebesar 7,8%, SCA sebesar 14,4% dan aktivitas perawatan diri sebesar 12,9%. Nursing agency terbukti mempengaruhi kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM (p=0,000). Pembahasan: Orem berpendapat bahwa yang menjadikan aktivitas perawatan diri individu adalah pengetahuannya. Kesadaran diri adalah faktor yang paling menentukan kualitas hidup penderita DM. Saat perawat mampu memaksimalkan pengetahuan yang dimiliki penderita DM maka kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan dirinya juga akan meningkat. Kesimpulan: Nursing agency dapat meningkatkan kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM.
Diabetes Mellitus: Hubungan antara Pengetahuan Sensoris, Kesadaran Diri, Tindakan Perawatan Diri dan Kualitas Hidup (Diabetes Mellitus: Correlation between Sensory Knowledge, Self-awareness, Self-care Practice and Quality of Life) Sari, Ni Putu Wulan Purnama
JURNAL NERS LENTERA Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : JURNAL NERS LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.007 KB)

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) memiliki banyak manifestasi klinis dan komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan mengiden-tifikasi dan menganalisis hubungan antara pengetahuan sensoris dan kesadaran diri dengan tindakan perawatan diri dan kualitas hidup pada penderita DM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang menggabungkan model perawatan diri dan Precede Proceed Model sebagai kerangka teoritis. Populasi adalah semua penderita DM di wilayah Kelurahan Keputran, besar sampel 32 yang diambil dengan teknik convenient sampling. Variabel independen: pengetahuan sensoris dan kesadaran diri; variable dependen: tindakan perawatan diri dan kualitas hidup. Instrumen: kuesioner pengetahuan sensoris dan kesadaran diri, Self-Care Inventory-Revised Version dan WHOQOL-BREF. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson; α ≤ 0.05; CI 95%. Hasil: 32 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, proporsi yang sama untuk pria dan wanita (50%); usia rata-rata 54,4 tahun. Mayoritas lulusan SMA, sudah menikah dan masih aktif bekerja. Lama sakit DM rentangnya 1-26 tahun. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan sensoris dan kesadaran diri yang cukup, hanya saja tindakan perawatan diri dan kualitas hidupnya belum optimal. Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan sensoris dan tindakan perawatan diri (p=0,165); antara pengetahuan sensoris dan kualitas hidup (p=0.097); juga antara kesadaran diri dan tindakan perawatan diri (p=0,714). Ada hubungan yang lemah dan signifikan teridentifikasi antara kesadaran diri dan kualitas hidup (r=0.354; p=0.047). Pembahasan: Keberhasilan pengelolaan DM yang menentukan kualitas hidup penderita tergantung pada motivasi dan kesadaran diri penderita untuk melakukan manajemen perawatan diri yang dirancang untuk mengontrol gejala dan menghindari komplikasi. Tindakan perawatan diri tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan sensoris dan kesadaran diri saja, namun ada banyak faktor lain yang tidak diteliti juga mempengaruhi. Kesimpulan: Kesadaran diri terbukti berhubungan dengan kualitas hidup pada penderita DM. Pada variabel yang tidak berhubungan, potensial ada faktor lain yang pengaruhnya lebih kuat.