Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Lembaran Sejarah

Perspektif Baru tentang Kematian Singamangaraja Kozok, Uli
Lembaran Sejarah Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.100443

Abstract

Ompu Pulo Batu, the last Singamangaraja, died on 17 June 1907, in the Kalasan area of Humbang-Hasundutan Regency, North Sumatra. After being pursued for several weeks by counter-guerrilla forces led by Captain Hans Christoffel, he was ambushed along with his family and a few of his followers. The exact circumstances of his death remain uncertain, leading to several conflicting accounts. In this paper, the existing sources are re-evaluated to provide a clearer understanding of the death of the last Batak priest-king. From the available sources, including archival data, it is also revealed that the prevailing theories about who killed Singamangaraja are incorrect.
Seorang Pangeran Batak di Belanda Kozok, Uli
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.102296

Abstract

Artikel ini menelusuri riwayat Radja Hakim Abinari Tampoebolon, seorang Batak yang memanfaatkan status sebagai “raja” untuk membangun karier yang berawal sebagai mata-mata kepolisian dan kemudian terlibat dalam jaringan dinas intelijen swasta berhaluan kanan di Belanda. Sebagai keturunan keluarga elite kolonial, Hakim menampilkan sikap pro-Belanda dan anti-kemerdekaan. Bersama ayahnya, ia mendukung gagasan pembentukan Negara Tapanuli dalam kerangka federasi Sumatra di bawah kendali Belanda. Di Belanda, Tampoebolon berperan sebagai kolaborator yang terlibat dalam penyelundupan dan jaringan konspiratif, termasuk komplotan pembunuhan. Modal yang diperoleh dari aktivitas ilegal ini digunakannya untuk mendirikan perusahaan di Jakarta dengan cabang di Medan, setelah kembali ke Indonesia pada 1950 bersama istrinya yang berkebangsaan Belanda. Seiring proses dekolonisasi, ia membangun citra baru sebagai pengusaha nasional dengan akses langsung ke lingkaran pejabat tinggi Republik Indonesia. Ia berhasil membangun narasi bahwa dirinya adalah lulusan hukum Belanda, meraih gelar doktor, dan pernah dipenjara karena sikap pro-kemerdekaan—sebuah kisah yang berlawanan dengan jejak kolaborasi kolonialnya. Perjalanan hidup Tampoebolon menunjukkan betapa lenturnya identitas kaum elite kolonial yang mampu merumuskan ulang peran dan legitimasi mereka demi mempertahankan posisi dalam republik pascakolonial.