Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metal Indonesia

POTENSI BAJA KARBON RENDAH SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PEMBUATAN DODOS (ALAT PANEN BUAH KELAPA SAWIT ) winda sri jaman
Jurnal Metal Indonesia Vol 39, No 1 (2017): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.795 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2017.v39.27-32

Abstract

ABSTRAK         Dodos merupakan salah satu jenis alat panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Permasalahan yang ada sekarang adalah keterbatasan bahan baku pembuatan alat panen TBS kelapa sawit jenis dodos . Dodos di pasaran Indonesia selama ini masih banyak yang dimpor dari luar negeri. Penelitian pembuatan dodos dan bahan baku alternatif untuk pembuatan dodos sangat diperlukan untuk mendukung kebutuhan dalam negeri dan memajukan Indsutri Kecil Menengah (IKM) untuk membuat produk logam yang berkualitas. Metoda pembuatan dodos di Indonesia masih tradisional, dimana parameter proses tidak dapat terkontrol sehingga produk yang dihasikan memiliki kualitas yang berbeda-beda. Akibatnya, sifat mekanis dari produk lokal memiliki kekerasan yang lebih tinggi tetapi keuletanya rendah, mudah patah dan masa pakainyarendah. Untuk mengatasinya diperlukan penelitian mengenai parameter proses, supaya dihasilkan produk dengan sifat mekanis yang optimal. Penelitian ini memilih metoda karburisasi padat untuk perbaikan proses dan kualitas kekerasan produk. Parameter metoda karburisasi padat yang divariasikan adalah temperatur, waktu penahanan,  dan komposisi bahan. Kondisi optimum didapat pada kondisi temperatur 9500C, waktu penahanan 30 menit, komposisi arang 50% dan barium karbonat 50 % yang menghasilkan kekerasan 55,49±3,74  HRC.  Kondisi minimum pada kondisi temperatur 9000C, waktu penahanan 15 menit, komposisi arang batok70% dan barium karbonat 50 % didapatkan kekerasan 42,63 HRC ±5,29. Kata kunci : Dodos, Karburisasi Padat,Pengerasan Permukaan
STUDI AWAL SOLVENT DEBINDING FEEDSTOCK METAL INJECTION MOLDING FE2%NI Winda Sri Jaman; Shinta Virdhian Alty; Eva Afrilinda
Jurnal Metal Indonesia Vol 40, No 1 (2018): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.147 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2018.v40.10-16

Abstract

Metal Injection Molding (MIM) merupakan proses manufaktur yang mempunyai 4 tahapan proses utama yaitu mixing, injection, debinding dan sintering. MIM telah banyak diterapkan diberbagai bidang industri manufaktur seperti automotive, tool steel cutting, komponen elektronik, alat-alat kesehatan atau kedokteran, komponen  senjata, fashion dan lain-lain. Proses Debinding merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam proses MIM, dengan berbagai keragamannya. Solvent debinding adalah cara memisahkan/ekstrasi atau menghilangkan polimer dari serbuk logam/ feedstock. Kelebihan dari solvent debinding ini adalah larutan yang digunakan dapat di daur ulang sehingga mengurangi biaya produksi produk MIM.                Maka penelitian ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri dan memperkaya proses-proses debinding dengan berbagai larutan (solvent) kima. Studi awal solvent debinding pada feedstock Fe2%Ni hanya dibatasi untuk menhilangkan binder jenis paraffin wax, karena penggunaannya hampir di setiap feedstock MIM terdapat paraffin wax. Parafin Wax dilarutkan dan direndam dengan menggunakan ethanol, n-hexane, heptana dengan parameter waktu 2,3,4 jam dan temperatur 40,45,50°C untuk ethanol dan n-hexane, heptana dengan temperatur 50,55 dan 60°C.                Kelarutan ethanol terhadap kehilangan berat sangat rendah, pada waktu 2 jam dan temperatur 40°C mempunyai kehilangan berat terendah 0,269% dengan kehilangan berat tertinggi pada waktu 4 jam dan temperatur 50°C dengan kehilangan berat 0,86%. Kelarutan n-hexane terhadap kehilangan berat, pada waktu 3 jam dan temperatur 40°C mempunyai kehilangan berat terendah 2,094% dengan kehilangan berat tertinggi pada waktu 4 jam dan temperatur 50°C dengan kehilangan berat 2,284%. Kelarutan heptana terhadap kehilangan berat tertinggi dibandingkan dengan ethannol dan n-hexane, pada waktu 3 jam dan temperatur 50°C mempunyai kehilangan berat terendah 1,703% dengan kehilangan berat tertinggi pada waktu 4 jam dan temperatur 60°C dengan kehilangan berat 4,884%. Kondisi feedstock yang sudah di debinding terlihat masih terdapat sisa-sisa binder selain paraffin wax, keragaman bentuk pada serbuk menjadikan kehomogenan pada feedstock.Kata kunci: Solvent Debinding, Ethanol,N-Hexane,Heptana