T. Eka Panny Hadinata
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Rumoh: Journal of Architecture

RUMUSAN KONSEP RUANG EXPERIENTIAL LEARNING PADA PERANCANGAN KAWASAN: Studi Kasus: Sungai Mati Kp. Baru Kec. Baiturrahman, Banda Aceh T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Journal of Architecture Vol. 10 No. 1 (2020): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/7c7kdh96

Abstract

Saat ini metode edukasi berkembang semakin pesat, hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan edukasi yang ingin diajarkan. Metode pengguanaan ruang kelas atau satu arah saat ini sudah menjadi metode yang lama dalam dunia pendidikan, oleh karenanya diperlukan metode yang baru dalam proses edukasi di dunia pendidikan dan edukasi pada masyarakat. Salah satu metode baru tersebut adalah metode Experiential Learning, metode edukasi ini perlu dikembangkan pada masyarakat, sebagaimana kita ketahui saat ini sangat sulit mengedukasi masyarakat dalam hal menjaga lingkungan, tertib lalu lintas, dan lain sebagainya. Metode ini berupaya mengedukasi secara tidak langsung namun memiliki efektifitas yang baik. Experiential Learning merupakan sistem belajar melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakan atau disuguhkan. Sehingga dampaknya lebih kuat dalam penanaman edukasinya. Experiential Learning berfokus pada rekayasa ruang spasial yang mengaitkan dengan sistem biologis manusia seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan perasa/peraba. Skenario yang ada dibuat dengan seksama dengan menanamkan nilai-nilai edukasi yang ingin dimasukkan, sehingga membuat manusia paham akan nilai edukasi tersebut. Rumusan Experiential Learning ini diharapkan menjadi acuan dalam perancangan arsitektur, baik bangunan, raung dalam, luar dan perancangan kawasan. Studi kasus yang diambil adalah kawasan sungai mati Jl. Politeknik Kp. Baru, Kecamatan Baitussalam Kota Banda Aceh dengan luas area sekitar 2 Ha. Kawasan ini saat ini menjadi area belakang dan terbengkalai tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga, sehingga perlu adanya penanganan agar kawasan menjadi lebih baik. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan pada kawasan, rumusan konsep Experiential Learning pada kawasan tersebut berfokus pada dua nilai edukasi yang akan ditanamkan pada kawasan yaitu nilai edukasi lingkungan dan mitigasi bencana. Lingkungan berkaitan dengan edukasi pemahaman masyakarat akan pentingnya menjaga lingkungan, sedangkan mitigasi bencana sebagai edukasi terkait bahaya bencana yang ditimbulkan dan cara menanganinya. Penerapan konsep perancangannya menggunakan empat tipe Experiential Learning yakni audio, visual, kinethic, dan tactile yang diaplikasikan kepada kawasan sungai mati tersebut, baik pada area sungai dan tepi sungainya.
GALERI KOPI DI BANDA ACEH, TEMA: INTANGIBLE METAPHORS: Coffee Gallery in Banda Aceh, Theme: Intangible Metaphors Aurora Vidya Faramita; T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Journal of Architecture Vol. 12 No. 1 (2022): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.168

Abstract

Aceh dan kopi merupakan dua hal yang tak terpisahkan sampai saat ini, menikmati kopi sudah menjadi tradisi yang sangat melekat sebagai gaya hidup masyarakat Aceh. Kebiasaan masyarakat untuk minum kopi memunculkan banyak warung kopi sehingga menghadirkan icon bahwa Banda Aceh terkenal dengan kota “1001 warung kopi”. Kopi Aceh (kopi gayo) juga sudah terkenal di kalangan manca negara, dan terdapat pula jenis kopi lainnya selain kopi gayo yang juga dinikmati oleh masyarakat. Dalam berbagai pameran dan event lainnya, gerai kopi Aceh juga hampir selalu ada, bahkan Festival Kopi Aceh juga turut digelar sebagai event tahunan kota. Dengan berbagai isu pendukung di atas, sudah selayaknya hadir sebuah wadah yang menampung berbagai dari kegiatan tersebut, baik kegiatan untuk pameran kopi, edukasi, dan pusat belanja kopi. Galeri Kopi di Banda Aceh ini direncanakan sebagai media promosi (marketing) kopi, tempat pameran skala nasional maupun internasional serta memberikan edukasi tentang kopi Aceh bagi masyarakat. Tujuan perancangan ini adalah meningkatkan promosi dan nilai jual kopi Aceh di tingkat nasional dan internasional sehingga kopi Aceh semakin dikenal masyarakat Indonesia dan mancanegara. Lokasi rancangan berada di Jalan Prof Ali Hasyimi, Pango, Banda Aceh, Provinsi Aceh. Galeri Kopi di Banda Aceh menggunakan tema Intangible Metaphors yaitu yang berasal dari filosofi circle of life dan mengusung konsep urat nadi yang merupakan sumber kehidupan, layaknya minuman kopi yang selalu menjadi sumber kebiasaan bagi masyarakat Aceh. Bangunan dirancang menggunakan bentuk-bentuk garis lingkaran, lengkungan, naik turun serta finishing fasad dinding yang mewakili wujud dari urat nadi itu sendiri. Galeri kopi dirancang bermassa tunggal dengan daya tamping maksimal 300 orang/hari. Luas lahan 22.791 m² (2.2 Ha) dengan KDB 15.953 m² dan KLB 79.768 m². Fasilitas yang terdapat pada bangunan Galeri Kopi di Banda Aceh yaitu retail, café outdoor, café indoor, area pameran, area display, area roasting, area pembuatan kopi, area tester, ruang seminar, dan ruang pengelola.