Perceraian orang tua dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap masalah mental remaja, terutama mereka yang broken home. Persoalan psikologis yang sering muncul dalam konteks ini adalah resiliensi dan kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan tingkat resiliensi dengan kesepian pada remaja yang broken home akibat perceraian. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasionl cross-sectional. Sebanyak 87 orang yang menjadi partisipan penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling. pengukuran penelitian menggunakan The Resiliency Attitudes and Skills Profile (α = 0,890) dan R-UCLA (University of California Los Angeles) Loneliness Scale Version 3 (α = 0,883). Penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan negatif signifikan antara resiliensi dan kesepian. Artinya, ketika terjadi peningkatan maupun penurunan kesepian, bukan disebabkan oleh penurunan maupun peningkatan resiliensi.