Artikel ini menganalisis relasi antara Daud dan Yonatan dalam 1 Samuel 18:1-5 melalui pendekatan eksegesis-teologis untuk menanggapi pembacaan homo-erotis yang berkembang dalam studi biblika kontemporer. Teks ini oleh beberapa pakar ditafsirkan sebagai legitimasi relasi sesama jenis yang menekankan intensitas afeksi di antara kedua tokoh tersebut. Penelitian ini berargumen bahwa pembacaan semacam itu cenderung mengabaikan konteks historis, budaya Timur Dekat Kuno, serta struktur naratif-teologis kitab Samuel secara keseluruhan. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan, artikel ini melakukan analisis kata terhadap istilah Ibrani utama, seperti ahav (kasih) dan berith (perjanjian), serta menempatkannya dalam konteks sastra dan teologi providensi atas pengurapan Daud sebagai raja. Hasil analisis menunjukkan bahwa relasi Daud dan Yonatan lebih tepat dipahami sebagai persahabatan autentik yang didasarkan pada kasih persaudaraan, kesetiaan, dan komitmen bersama terhadap Allah dan bangsa Israel. Bingkai utamanya adalah hubungan tersebut berfungsi sebagai sarana providensial yang melaluinya Allah memelihara Israel dengan melindungi Daud pada perjalanan kepemimpinannya sebagai raja yang diurapi. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa narasi Daud-Yonatan tidak mendukung interpretasi erotis, melainkan dinamika kasih persahabatan dalam kerangka providensi ilahi dan sejarah keselamatan Israel.