Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fanatisme Penggemar K-Pop dan Perilaku Konsumtif dalam Komunitas NCTzen Palembang Nurhaliza; Gita Isyanawulan; Yulasteriyani; Yosi Arianti; Lisya Septiani Putri; Jati Arifiyanti
Electronic Journal of Social and Political Sciences (E-SOSPOL) Vol. 12 No. 2 (2025): Governance, Democracy, and Political Institutions
Publisher : Rumah Jurnal, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/e-sospol.v12i2.53787

Abstract

Fanatisme merupakan fenomena umum yang ditemukan di kalangan penggemar K-Pop, terutama pada penggemar boyband NCT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fanatisme terhadap perilaku konsumtif anggota komunitas NCTzen di Palembang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring kepada 90 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fanatisme berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa fanatisme memberikan kontribusi sebesar 57,5% terhadap perilaku konsumtif, sedangkan 42,5% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain.
Komodifikasi Identitas di Era Digital: Studi Literatur tentang Personal Branding di Media Sosial: Ainul Zulqoifah Asmawati; Nabila Tahira; Lisya Septiani putri; Mallia Hartani; Suci Wahyu Fajriani
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i6.11947

Abstract

Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka komprehensif mengenai komodifikasi identitas di media sosial dengan fokus pada fenomena personal branding. Melalui sintesis literatur dari komunikasi, sosiologi, dan pemasaran, penelitian ini menelaah bagaimana identitas individu dikonstruksi, direpresentasikan, dan dikomodifikasi menjadi entitas yang dapat diperdagangkan dalam ruang digital. Analisis menunjukkan bahwa fenomena ini berakar pada Teori Dramaturgi, Ekonomi Politik, dan Kritik Budaya, serta difasilitasi oleh algoritma, metrik, dan sistem kurasi konten pada platform digital. Temuan utama menyoroti adanya paradoks antara pencarian otentisitas dan tuntutan pasar, yang berdampak pada implikasi psikologis seperti objektifikasi diri dan krisis mental, serta konsekuensi sosial berupa reproduksi ketidaksetaraan dan kolonialisme digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komodifikasi identitas melalui personal branding merupakan isu multidimensi yang kompleks dengan kesenjangan penelitian yang perlu ditindaklanjuti, khususnya terkait dampaknya terhadap keragaman budaya, struktur sosial, dan relasi kuasa dalam masyarakat digital.
Strategi Berbasis Komunitas dalam Pengelolaan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Pusur di Kabupaten Klaten Yuanita Dwi Hapsari; , Deni Aries Kurniawan; Ghina Reftantia; Lisya Septiani Putri; Mallia Hartani
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i3.5920

Abstract

Community-based programs and activities aimed at watershed management have been widely promoted and implemented. Social control within the community plays a crucial role in regulating and transforming public behavior in managing rivers. This study aims to explore the strategies employed by community groups in managing the Pusur Sub-Watershed. This research uses a qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The results show that the strategies used by the community in managing the Pusur Sub-Watershed include the establishment of conservation field schools through both vegetative methods and the formation of plant cultivation groups in the upstream areas; the Clean River Program (Program Kali Bersih or Prokasih) through optimized waste management via Waste Banks; the River Care Program through the development of river tubing tourism in the midstream area of the Pusur River; environmentally friendly agriculture through agricultural clinics; irrigation management in the downstream area through the formation of the Combined Association of Water-User Farmers (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air or GP3A); and the emergence of collective actions in managing the Pusur Sub-Watershed through the establishment of the Pusur Institute.
Kemiskinan Pekerja Informal Lansia Di Pasar 16 Ilir Palembang Dalam Ketidakpastian Pendapatan Nazhifa Mulya Kinasih; Widyawati Hafsari; Nadya Difriana; Davit Saputra; Cantika; Rudy Kurniawan; Suci Wahyu Fajriani; Lisya Septiani Putri
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4977

Abstract

Kemiskinan perkotaan masih menjadi permasalahan sosial yang kompleks, terutama bagi kelompok pekerja informal lansia yang memiliki keterbatasan dalam akses kerja dan perlindungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemiskinan pekerja informal lansia di kawasan Pasar 16 Ilir, Kota Palembang dalam konteks ketidakpastian pendapatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup lansia yang bekerja di sektor informal. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria berusia di atas 60 tahun dan bekerja sebagai pedagang atau penyedia jasa informal. Data dikumpulkan melalui wawancara bahwa pendapatan pekerja informal lansia bersifat fluktuatif dan sangat bergantung pada kondisi pasar, jumlah pembeli, serta kemampuan fisik untuk bekerja, sehingga menimbulkan kerentanan ekonomi yang berkelanjutan. Keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal dan perlindungan sosial menyebabkan lansia tetap bekerja di usia lanjut sebagai bentuk keterpaksaan ekonomi. Dalam menghadapi ketidakpastian pendapatan, para lansia mengembangkan berbagai strategi bertahan hidup, seperti menunda pembayaran sewa rumah, berhutang, serta melakukan negosiasi terhadap biaya pendidikan anggota keluarga. Selain itu, makna hidup berkecukupan bagi langsia cenderung berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari, seperti makan dan tempat tinggal, tanpa adanya jaminan ekonomi jangka panjang. Temuan ini menunjukkan bahwa kemiskinan pada pekerja informal langsia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh keterbatasan struktural dalam akses terhadap layanan sosial dan perlindungan kerja diwilayah perkotaan.
Pergeseran Pola Interaksi Sosial dalam Kelompok Ruang Publik Kawasan Taman Kambang Iwak Palembang Agung Permadi; Ananda Meylisha; Haniifa Rahmah; Nesya Dwi Ramadhani; Venny Salsabela Wijaya; Rudy Kurniawan; Suci Wahyu Fajriani; Lisya Septiani Putri
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4995

Abstract

Ruang publik memiliki peran penting sebagai wadah interaksi sosial masyarakat. Seiring dengan perubahan pola kehidupan sosial, terjadi pergeseran dalam bentuk interaksi yang berlangsung di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran pola interaksi sosial dalam kelompok di kawasan Taman Kambang Iwak Palembang serta mengidentifikasi karakter interaksi yang terbentuk di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Kambang Iwak Palembang masih berfungsi sebagai ruang publik yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas seperti olahraga, rekreasi, berkumpul bersama keluarga, pertemuan komunitas, serta aktivitas ekonomi informal. Pengunjung berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, pola interaksi sosial yang terjadi cenderung berlangsung dalam kelompok-kelompok yang telah memiliki hubungan sebelumnya, seperti keluarga, teman sebaya, atau komunitas tertentu. Interaksi antar kelompok yang berbeda relatif terbatas dan umumnya hanya berupa kontak sosial singkat tanpa komunikasi yang berkelanjutan. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola interaksi sosial di ruang publik, di mana komunikasi lebih banyak berlangsung dalam lingkup kelompok masing-masing meskipun ruang tersebut bersifat terbuka dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.