Najwa, Aqila
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Evaluasi peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA di SMK Gelora Jaya Nusantara Agustina, Dewi; Salsabila, Salsabila; Salsabilah, Khairani; Fadillah, Naya Kurnia; Najwa, Aqila; Nasution, Putri Suci Khoirunnisa; Nasution, Riri Andriani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.998

Abstract

Background: HIV/AIDS remains a global health problem in Indonesia, with major barriers being misunderstandings, social stigma, and ineffective educational approaches. The level of knowledge of adolescents about HIV/AIDS is sufficient, but there are still many misconceptions and communication barriers that hinder open and effective education. HIV cases in Indonesia continue to increase, especially in the productive age group, including adolescents. It is essential to provide interactive, contextual, and stigma-free health education to improve adolescents' understanding of HIV/AIDS. Purpose: To evaluate the level of knowledge about HIV/AIDS and attitudes towards PLWHA among vocational high school students. Method: This activity uses a quantitative descriptive survey design that aims to assess the level of understanding and attitudes of students regarding HIV/AIDS at SMK Gelora Jaya Nusantara on January 9, 2025. The population is all students at SMK Gelora Jaya Nusantara, using purposive sampling based on certain criteria to obtain 43 students who were selected as respondents. Data collection used a closed questionnaire that was given directly to respondents. This questionnaire contains questions that measure students' knowledge, attitudes, and views regarding HIV/AIDS. Results: Obtaining data on respondents' knowledge and attitudes about HIV/AIDS transmission due to unsafe sexual intercourse, most of them strongly agree, namely 27 (62.8%), how to avoid HIV/AIDS transmission, most of them strongly agree, namely 23 (53.5%), the comfort of being friends with PLWHA has an opinion of agreeing as many as 13 (30.2%) and disagreeing 13 (30.2%). The majority of respondents strongly agree that HIV/AIDS can attack anyone, namely 27 (62.8%) and about the comfort of being friends with PLWHA based on gender, it shows that most male respondents agree as many as 8 (33.3%), while female respondents disagree and strongly disagree, each of which is 6 (31.6%). Conclusion: The level of understanding and basic knowledge of adolescents in Indonesia regarding HIV/AIDS is in a fairly good position, where most survey participants understand the definition, how it is transmitted, and preventive measures. There are psychosocial and cultural barriers that hinder open dialogue and the effectiveness of education, such as discomfort when discussing the issue and the existence of social stigma against people with HIV/AIDS. Formal information education does not have enough influence in increasing understanding of HIV/AIDS and fostering social empathy. Suggestion: More interactive, relevant, and stigma-free methods are needed so that adolescent knowledge about HIV/AIDS can increase significantly and reduce stigma and discrimination. It is hoped that the findings of this study will be the basis for developing a more effective educational approach that is in accordance with the social context of adolescents in schools and communities. Keywords: Adolescent education; HIV/AIDS; HIV knowledge; Stigma Pendahuluan: HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan global di Indonesia, dengan hambatan utama berupa kesalahpahaman, stigma sosial, dan pendekatan pendidikan yang kurang efektif. Tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS cukup, namun masih banyak miskonsepsi dan hambatan komunikasi yang menghalangi pendidikan yang terbuka dan efektif. Kasus HIV di Indonesia terus meningkat, terutama di kelompok usia produktif, termasuk remaja. Sangat penting untuk memberikan pendidikan kesehatan yang interaktif, kontekstual, dan bebas stigma untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang HIV/AIDS Tujuan: Untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA pada siswa/siswi SMK. Metode: Kegiatan ini menggunakan desain survei deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menilai tingkat pemahaman dan sikap para siswa mengenai HIV/AIDS di SMK Gelora Jaya Nusantara pada tanggal 9 Januari 2025. Populasinya adalah semua siswa/siswi di SMK Gelora Jaya Nusantara, dengan menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu mendapatkan 43 siswa/siswi yang dipilih menjadi responden.  Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang diberikan secara langsung kepada responden. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengukur pengetahuan, sikap, dan pandangan siswa/siswi mengenai HIV/AIDS. Hasil: Mendapatkan data pengetahuan dan sikap responden tentang penularan HIV/AIDS karena hubungan seksual tidak aman sebagian besar adalah sangat setuju yaitu sebanyak 27 (62.8%), cara menghindari penularan HIV/AIDS sebagian besar adalah sangat setuju yaitu sebanyak 23 (53.5%), kenyamanan berteman dengan ODHA memiliki pendapat setuju sebanyak 13 (30.2%) dan tidak setuju 13 (30.2%). Mayoritas responden berpendapat sangat setuju bahwa HIV/AIDS dapat menyerang siapa saja yaitu sebanyak 27 (62.8%) dan  tentang kenyamanan berteman dengan ODHA berdasarkan jenis kelamin menunjukkan sebagian besar responden laki-laki berpendapat setuju sebanyak 8 (33.3%), sedangkan responden perempuan berpendapat tidak setuju dan sangat tidak setuju yang masing-masing sebanyak 6 (31.6%). Simpulan: Tingkat pemahaman dan pengetahuan dasar remaja di Indonesia mengenai HIV/AIDS berada pada posisi yang cukup baik, dimana sebagian besar peserta survei memahami definisi, cara penularan, dan langkah pencegahannya. Terdapat hambatan secara psikososial dan kultural yang menghalangi dialog terbuka dan efektivitas pendidikan, seperti ketidaknyamanan saat membahas isu tersebut dan adanya stigma sosial terhadap orang dengan HIV/AIDS. Pendidikan berupa informasi secara formal tidak memiliki cukup pengaruh dalam peningkatan pemahaman tentang HIV/AIDS dan menumbuhkan empati sosial. Saran: Diperlukan metode yang lebih interaktif, relevan, dan bebas dari stigma agar pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dapat meningkat secara signifikan dan mampu menurunkan stigma serta diskriminasi. Diharapkan, temuan dari penelitian ini akan menjadi landasan untuk pengembangan pendekatan pendidikan yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks sosial remaja di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Gambaran pelaksanaan administrasi pelayanan kesehatan di Puskesmas Nurhayati, Nurhayati; Najwa, Aqila; Nasution, Putri Suci Khoirunnisa; Salsabila, Salsabila; Fadhillah, Naya Kurnia; Andriani, Riri; Salsabilah, Khairani; Khaiyath, Salsabilla Aishya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2124

Abstract

Background: Primary health care is the main foundation of the health system and requires effective administrative support to ensure continuity, quality, and efficiency of services. Community health centers (Puskesmas) as first-level health facilities have a strategic role in the provision of health services, including in the management of service administration. However, limited facilities, infrastructure, and information systems remain a challenge in the implementation of health service administration at the Puskesmas level. Purpose: To describe the implementation of health service administration at Puskesmas and identify obstacles as an effort to support smooth service delivery. Method: The study was conducted at the Mampang Community Health Center, South Labuhan Batu Regency on December 19, 2025. This study involved three administrative officers who met the criteria and had responsibilities as health service administrators at the Community Health Center. The sample was selected purposively by considering their experience and active involvement in the service administration process. This study applied a qualitative approach with a descriptive design to explain how health service administration is carried out at the Community Health Center. Information was collected through in-depth interviews using a semi-structured interview guide. The analysis process was carried out repeatedly to ensure that data interpretation remained consistent and in accordance with established guidelines. The results of the analysis are presented in the form of a narrative that describes the implementation of health service administration at the Mampang Community Health Center. Results: Healthcare services include serving an average of 12 patients per day, preparing and administering medication, preparing referral letters, confirming and coordinating with referral providers. When the network is unstable, patients are asked to wait until the network returns to normal. Emergency patients are directed directly to the referral hospital, and staff continue to serve patients using manual recording to ensure uninterrupted service and input data after the system returns to normal. Administrative services include recording and documenting each stage of the activity, inputting data into a PC application, and archiving documents. Conclusion: This activity illustrates that healthcare administration activities have been carried out in accordance with established procedures, from patient registration to medication distribution. However, various challenges remain in the implementation of healthcare administration, particularly related to administrative equipment, internet networks, and communication media, which contribute to speed and accuracy of service delivery, thus optimizing service administration. Suggestion: The Mampang Community Health Center is expected to improve the facilities and infrastructure that support healthcare administration, particularly by adding computers and providing better internet connections. Furthermore, it is important to enhance the capabilities of human resources in the administrative field through training and skills development to ensure better and more efficient healthcare administration processes. Keywords: Community health center; Healthcare administration; Health management; Primary healthcare Pendahuluan: Pelayanan kesehatan primer merupakan fondasi utama dalam sistem kesehatan dan memerlukan dukungan administrasi pelayanan yang efektif untuk menjamin kesinambungan, mutu, dan efisiensi layanan. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk dalam pengelolaan administrasi pelayanan. Namun, keterbatasan sarana, prasarana, dan sistem informasi masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan administrasi pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas. Tujuan: Untuk menggambarkan pelaksanaan administrasi pelayanan kesehatan di Puskesmas dan mengidentifikasi kendalanya sebagai upaya mendukung kelancaran pelayanan. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Mampang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan pada tanggal 19 Desember 2025. Studi ini melibatkan 3 petugas administrasi yang memenuhi kriteria dan memiliki tanggung jawab sebagai administrasi pelayanan kesehatan di Puskesmas. Sampel dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan pengalaman serta keterlibatan aktif mereka dalam proses administrasi pelayanan. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk menjelaskan bagaimana administrasi pelayanan kesehatan dilaksanakan di Puskesmas. Pengumpulan informasi dilakukan melalui wawancara mendalam dengan menggunakan panduan wawancara yang bersifat semi-terstruktur. Proses analisis dilakukan secara berulang untuk memastikan bahwa interpretasi data tetap konsisten dan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan. Hasil analisis disajikan dalam bentuk narasi yang menggambarkan pelaksanaan administrasi pelayanan kesehatan di Puskesmas Mampang. Hasil: Kegiatan dalam pelayanan kesehatan    meliputi melayani pasien rata-rata 12 orang per hari, menyiapkan dan memberikan obat kepada pasien, membuat surat rujukan, konfirmasi dan koordinasi dengan pihak rujukan. Tindakan ketika jaringan tidak stabil, pasien diminta menunggu hingga jaringan kembali normal, sedangkan pasien gawat darurat diarahkan langsung ke rumah sakit rujukan dan petugas tetap melayani pasien dengan pencatatan manual agar pelayanan tidak terhenti dan melakukan input data setelah sistem kembali normal. Sedangkan untuk pelayanan administrasi meliputi pencatatan dan dokumentasi setiap tahap kegiatan, menginput data ke aplikasi di PC, dan arsip dokumen               Simpulan: Kegiatan ini memberikan gambaran kegiatan administrasi pelayanan kesehatan telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, mulai dari pendaftaran pasien hingga distribusi obat. Meskipun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi dalam implementasi administrasi pelayanan kesehatan, terutama terkait dengan masalah peralatan administrasi, jaringan internet dan media komunikasi untuk mendapatkan kecepatan dan akurasi pelayanan, sehingga administrasi pelayanan menjadi optimal. Saran: Diharapkan kepada pihak Puskesmas Mampang untuk memperbaiki fasilitas dan infrastruktur yang mendukung administrasi layanan kesehatan, terutama dengan menambah perangkat komputer dan menyediakan koneksi internet yang lebih baik. Selain itu, penting untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia di bidang administrasi melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan agar proses administrasi layanan kesehatan dapat berjalan dengan lebih baik dan efisien.