Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Nutrix Journal

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Posyandu Kabupaten Pulang Pisau Anantha, Rizka Aqnesia; Widiyarti, Sapti Heru
NUTRIX Vol 9 No 2 (2025): Volume 9, Issue 2, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i2.1426

Abstract

Mother’s understanding of nutrition plays a crucial role in maintaining and improving the nutritional status of toddlers. However, in Indonesia, cases of malnutrition among children remain prevalent, largely due to mothers’ limited awareness and insufficient knowledge about proper nutrition. This research aimed to examine the correlation between mothers’ nutritional knowledge and the nutritional status of toddlers at the Posyandu area in Pulang Pisau. The study employed a quantitative cross-sectional design, involving 55 mother–toddler pairs selected through convenience sampling. Mothers’ knowledge was assessed using a validated questionnaire that demonstrated strong reliability (Cronbach’s Alpha = 0.898). Meanwhile, the toddlers’ nutritional status was determined by measuring their body weight and classifying it according to the weight-for-age index. Data were analyzed using the Spearman Rho correlation test to determine the relationship between the two variables. Findings revealed that the majority of mothers possessed a high level of nutritional knowledge, and most toddlers were within the normal or good nutritional range. Nonetheless, statistical analysis indicated no significant correlation between maternal nutritional knowledge and toddlers’ nutritional status (p = 0.859; r = -0.025), suggesting that other factors beyond maternal knowledge may influence child nutrition outcomes. It is suggested that health cadres give more nutrition education so mothers can apply it in daily meals practices. Pengetahuan ibu tentang gizi berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan status gizi balita. Namun, di Indonesia, kasus gizi buruk pada anak masih marak, terutama karena terbatasnya kesadaran ibu dan kurangnya pengetahuan tentang gizi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita di wilayah kerja Posyandu Kabupaten Pulang Pisau. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dan pendekatan cross-sectional, yang melibatkan 55 pasangan ibu-balita yang dipilih melalui convenience sampling. Pengetahuan ibu dinilai menggunakan kuesioner tervalidasi yang menunjukkan reliabilitas tinggi (Cronbach's Alpha = 0,898). Sementara itu, status gizi balita ditentukan dengan mengukur berat badan mereka dan mengklasifikasikannya menurut indeks berat badan menurut usia. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rho untuk menentukan hubungan antara kedua variabel. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi yang tinggi, dan sebagian besar balita berada dalam kisaran gizi normal atau baik. Meskipun demikian, analisis statistik menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara pengetahuan gizi ibu dan status gizi balita (p = 0,859; r = -0,025), yang menunjukkan bahwa faktor lain di luar pengetahuan ibu dapat memengaruhi hasil gizi anak. Disarankan agar kader kesehatan meningkatkan edukasi gizi kepada ibu agar pengetahuan yang dimiliki dapat diterapkan dalam praktik pemberian makan sehari-hari.
Evaluasi Diri Mahasiswa Keperawatan S1 tentang Penerapan Komunikasi Terapeutik setelah Praktik Klinis Zalukhu, Damai Zaya; Widiyarti, Sapti Heru
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1541

Abstract

Therapeutic communication is a fundamental skill that nurses must possess to support the patient healing process and improve the quality of healthcare services. However, communication competence among nursing students still requires continuous evaluation, especially during clinical practice. This study aimed to describe the self-evaluation of undergraduate nursing students in applying therapeutic communication during the orientation, working, and termination phases after clinical practice. This study used a quantitative method with a descriptive design involving 75 third-year nursing students selected through purposive sampling. Data were analyzed using descriptive statistics with median values through SPSS version 26. The results showed that the implementation of therapeutic communication in all phases was categorized as good. The most dominant aspect was the use of therapeutic greetings at the beginning of the interaction (100%), while the less dominant aspects were explaining the duration of procedures and planning follow-up meetings with patients. Overall, nursing students were able to apply therapeutic communication effectively, indicating the success of clinical practice learning. The study implies that educational institutions and clinical instructors need to strengthen clinical guidance, particularly in time contracting and follow-up planning, and encourage students to conduct continuous self-reflection to improve therapeutic communication skills. Komunikasi terapeutik merupakan keterampilan dasar yang penting bagi perawat dalam mendukung proses penyembuhan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, namun kompetensi komunikasi mahasiswa masih perlu dievaluasi setelah praktik klinis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan evaluasi diri mahasiswa keperawatan dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase orientasi, kerja, dan terminasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif terhadap 75 mahasiswa tingkat tiga yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner evaluasi diri dan dianalisis dengan statistik deskriptif menggunakan nilai median. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komunikasi terapeutik pada seluruh fase berada dalam kategori baik, dengan aspek paling dominan adalah pemberian salam terapeutik, sedangkan aspek yang masih kurang adalah penjelasan durasi tindakan dan perencanaan pertemuan lanjutan. Disimpulkan bahwa mahasiswa mampu menerapkan komunikasi terapeutik dengan baik, sehingga diperlukan penguatan bimbingan klinis dan refleksi diri berkelanjutan.