ABSTRAK. Kebudayaan Ternate tentunya memiliki pemahaman, konsep, nilai, serta praktek tersendiri tentang hak perempuan. Konstruksi budaya itu tentunya tidak dapat dilepaskan dari ideologi patriarki yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat secara umum. Konstruksi budaya  patriarki dinilai masih kurang memberi ruang pada perempuan untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia. Akibatnya hak-hak perempuan rentan  terabaikan.  Perempuan dikonstruksi memiliki kewajiaban yang jauh lebih banyak dari pada haknya.   Ideologi patriarki adalah hasil konstruksi budaya sehingga hal itu dapat ditafsir ulang atau direkonstruksi untuk mewujudkan tatanan budaya Ternate baru yang berkeadilan gender (gender equality). Tatanan baru ini diharapkan dapat memenuhi hak-hak perempuan yang sudah didambakan sejak dulu.