Kegagalan kemitraan dalam agribisnis sering kali disebabkan oleh berbagai kelemahan para pelaku agribisnis, seperti lemahnya aturan, mekanisme, dan manajemen kelembagaan kemitraan. Selain itu, keterbatasan petani dalam permodalan, teknologi, informasi, dan akses pasar menyebabkan mereka kurang mandiri dalam mengelola usahatani, sehingga lebih mudah tersubordinasi oleh pihak yang lebih kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi kemitraan serta jaringan kelembagaan dalam produksi dan pemasaran agrosilvopastura. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam menggunakan metode snowball sampling terhadap 10 informan, termasuk 3 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola interaksi kemitraan yang diterapkan dalam sistem agrosilvopastura adalah Pola Inti Plasma, di mana terdapat hubungan antara petani kecil sebagai mitra dan perusahaan inti sebagai pengelola utama. Selain itu, jaringan kelembagaan dalam kemitraan ini terbagi menjadi dua pola utama yang berperan dalam distribusi dan pemasaran. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kelembagaan masyarakat agar petani lebih mandiri dalam mengelola usahatani serta memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam kemitraan agribisnis.