Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis perempuan lansia yang tidak menikah (berusia 60-70 tahun) di Indonesia, yang menghadapi tantangan unik dalam masyarakat yang sangat menghargai pernikahan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap partisipan yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Penelitian ini mengeksplorasi enam dimensi psychological well-being model Ryff: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki profil kesejahteraan psikologis yang bervariasi, dengan kekuatan khusus pada domain otonomi dan pertumbuhan pribadi dibandingkan dengan rekan yang menikah. Spiritualitas dan dukungan sosial muncul sebagai faktor kunci penguat, dengan partisipan yang mandiri secara finansial menunjukkan penerimaan diri yang lebih positif. Mereka menemukan makna melalui aktivitas sosial dan keagamaan serta mengembangkan strategi koping berbasis spiritualitas. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa pengalaman merawat anggota keluarga dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan psikologis. Implikasinya, program kesejahteraan lansia perlu menekankan aspek spiritualitas dan jaringan dukungan sosial, terutama bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendiri.