Syamsul Wathoni
Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Community Development and Disaster Management

Pemberdayaan Jamaah Masjid Agung Raden Mas Ageng Aryo Tjokronegoro Kabupaten Ponorogo Dalam Peningkatan Keagamaan Rizky Wahyuliana; Syamsul Wathoni
Journal of Community Development and Disaster Management Vol 1 No 1 (2019): JCD: Journal of Community Development and Disaster Management
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.841 KB) | DOI: 10.37680/jcd.v1i1.725

Abstract

Abstract Houses of Worship such as mosques, musalla or langgar is a place to carry out worship activities. Therefore, the house of worship functions as a center of worship, community development and improvement of community welfare. The Great Mosque of R.M.A.A Tjokronegoro, Ponorogo Regency is one of the mosques in Ponorogo which functions as a place for community guidance. The purpose of this study was to determine the impact of the programs carried out by Ta'mir Masjid Agung R.M.A.A. Tjokronegoro, Ponorogo Regency in the development of the people. The research sample was Jama'ah Masjid Agung R.M.A.A. Tjokronegoro Ponorogo Regency using qualitative and quantitative research. This can be seen from the data collection procedures that the writer did through observation, interview, questionnaire, and documentation techniques. Abstrak Rumah Ibadah seperti masjid, musalla atau langgar adalah suatu tempat untuk melaksanakan kegiatan ibadah. Karena itu, rumah ibadah berfungsi sebagai pusat ibadah, pembinaan umat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Masjid Agung R.M.A.A Tjokronegoro Kabupaten Ponorogo adalah salah satu masjid di Ponorogo yang difungsikan sebagai tempat untuk pembinaan umat . Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Dampak prpgram yang dilakukan oleh Ta’mir Masjid Agung R.M.A.A. Tjokronegoro Kabupaten Ponorogo dalam pengembangan umat. Sampel penelitian adalah Jama’ah Masjid Agung R.M.A.A. Tjokronegoro Kabupaten Ponorogo dengan menggunakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ini terlihat dari prosedur pengumpulan data yang penulis lakukan melalui teknik observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi.
Peran Kiai Dalam Perlindungan Sosial (Studi Kegiatan Yatiman Di Pondok Pesantren Al-Kholily Ma’unah Sari Pilang Sampung Ponorogo) Binti Masruroh; Syamsul Wathoni
Journal of Community Development and Disaster Management Vol 1 No 2 (2019): JCD: Journal of Community Development and Disaster Management
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.261 KB) | DOI: 10.37680/jcd.v1i2.740

Abstract

Abstrak Kegiatan yatiman di Pondok Pesantren Al-Kholily Ma’unah Sari dilaksanakan setiap tangal 10 muharram. Yang langsung di pimpin oleh seorang kiai, Kiai adalah orang yang mengajarkan pengetahuan agama dengan cara berceramah, menyampaikan fatwa agam kepada masyarakat luas. Kiai secara etimologis (lughotan) menurut adaby darba kata kiyai berasal dari bahasa jawa kuno “kiya-kiya” yang artinya orang yang dihormati. Selain itu ada pula yang mengartikan man balagha sinnal arbain, yaitu orang-orang yang sudah tua umumya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan. Sedangkan secara terminology Kiai menurut Manfred Ziemek adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren yang sebagai muslim terpelajar, telah membaktikan hidupnya demi Allah serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran, padangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Kiai Pondok Pesantren Al-Kholily Ma’unah Sari yang bernama Kiai Agus Mahmud Isa Mudzofar selain pandai ilmu beliau juga dikenal arif dan karismatik, berkat kearifan dan karismatik beliau mampu menarik para donator-donatur yatiman. Abstract Compensation activities at the Al-Kholily Ma'unah Sari Islamic Boarding School are held every 10 muharrams. Directly led by a kiai, Kiai is a person who teaches religious knowledge by giving lectures, conveying religious fatwas to the wider community. Etymologically kiai (lughotan) according to adaby darba the word kiyai comes from the ancient Javanese language "kiya-kiya" which means people who are respected. In addition, there are also those who interpret man balagha sinnal arbain, namely people who are generally old or people who have advantages. Meanwhile, in terms of Kiai, according to Manfred Ziemek, he is the founder and leader of an Islamic boarding school who, as an educated Muslim, has dedicated his life to Allah and disseminates and deepens the teachings of Islam through Islamic education activities. The Kiai of Al-Kholily Ma'unah Sari Islamic Boarding School named Kiai Agus Mahmud Isa Mudzofar, apart from being good at knowledge, is also known as wise and charismatic, thanks to his wisdom and charismatic ability to attract Yatiman donors.
Pemberdayaan Umat Di Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Ponorogo (Studi Atas Bintang Swalayan) Suwangsit Suwangsit; Syamsul Wathoni
Journal of Community Development and Disaster Management Vol 2 No 1 (2020): JCD: Journal of Community Development and Disaster Management
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.802 KB) | DOI: 10.37680/jcd.v2i1.993

Abstract

Pemenuhan kebutuhan ekonomi merupakan masalah pelik bagi sebagian orang khususnya bagi orang yang tidak mempunyai penghasilan tetap. Sedangkan sandang, pangan, papan yang merupakan kebutuhan primer manusia harus terpenuhi dengan jalan apapun. Di era globalisasi seperti saat ini dimana persaingan untuk memperoleh pekerjaan semakin ketat, jalan keluar yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan ekonomi adalah berwirausaha untuk menuju kemandirian. masyarakat pada umumnya tidak mempunyai keberanian untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri karena khawatir akan mengalami kerugian yang di sebabkan kurangnya pengetahuan dalam menejemen suatu usaha. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Ponorogo melalui badan otonomnya “Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama” mencoba memberdayakan umat maupun organisasi dengan membuka usaha bersama dengan cara reksadana saham. Pt. Karya sembilan bintang ponorogo merupakan realisir dari usaha tersebut. sebuah kewirausahaan yang bergerak di bidang perdagangan umum dengan sub usahanya penjualan barang secara ritel dan grosir “Bintang swalayan” milik warga Nahdliyin kabupaten ponorogo. Masalah penelitian ini adalah bagaimana Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Ponorogo memberdayakan warga dan organisasi melalui usaha bersama dengan model investasi saham, dan menggambarkan bagaimana keberhasilan lembaga tersebut dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui usaha bersama . Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulitatif, dimana prosedur penelitian ini menghasilkan data deskriptif kata-kata tertulis atau lisan orang-orang yang diamati Berdasarkan hasil temuan- temuan dan analisis peneliti, dapat diambil kesimpulan bahwa Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Ponorogo belum berhasil memberdayakan ekonomi warga Nahdlliyin di kabupaten ponorogo, dengan beberapa tahap dan tujuan pemberdayaan masyarakat menurut para ahli belum bisa tercapai. Kata Kunci: Pemberdayaan Umat, Usaha bersama, Investasi Saham. ABSTRACT Meeting economic needs is a complicated problem for some people, especially for people who do not have a steady income. Meanwhile, clothing, food, shelter which are primary human needs must be met in any way. In the current era of globalization where competition for jobs is getting tougher, the most appropriate way out to overcome economic problems is entrepreneurship towards independence. people in general do not have the courage to open their own jobs for fear of experiencing losses caused by lack of knowledge in the management of a business. The Ponorogo Nahdlatul Ulama Branch Management through its autonomous body “Nahdlatul Ulama Economic Institution” tries to empower people and organizations by opening a joint business by means of a stock mutual fund. Pt. The work of the nine Bintang Ponorogo is the realization of this effort. an entrepreneur engaged in general trading with a sub-business of selling goods in retail and wholesale, "Star self-service" owned by a resident of Nahdliyin, Ponorogo district. The problem of this research is how the Nahdlatul Ulama Ponorogo Economic Institute empowers citizens and organizations through joint ventures with a stock investment model, and describes how the institution's success in empowering the people's economy through joint efforts. The approach used in this study is qualitative, where the research procedure produces descriptive data written or spoken by the people being observed. Nahdlliyin in ponorogo district, with several stages and objectives of community empowerment according to experts, has not been achieved. Keywords: Community Empowerment, Joint Venture, Stock Investment.