Dalam operasional pertambangan, pengelolaan stockpile batu bara penting untuk menjamin akurasi pelaporan keuangan dan efisiensi produksi. Salah satu kendala utama adalah pengukuran volume yang kurang efisien. PT Putra Perkasa Abadi saat ini masih menggunakan Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang meskipun akurat, memiliki kekurangan seperti biaya tinggi dan risiko keselamatan. Sebagai alternatif, teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) menawarkan solusi yang lebih efisien, namun akurasinya sangat dipengaruhi oleh tinggi terbang dan jumlah Ground Control Point (GCP). Studi ini bertujuan menentukan konfigurasi optimal GCP dan tinggi terbang untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengukuran volume stockpile. Studi dilaksanakan pada Februari 2025 dengan variasi GCP (0, 3, 4, 5, dan 6) dan tinggi terbang (60 m, 70 m, dan 80 m) dengan GSD masing-masing 1,55 cm/piksel, 1,78 cm/piksel, dan 2,09 cm/piksel. Data diproses melalui tahapan align photos, georeferencing, dan build dense cloud. Volume dihitung menggunakan metode cut and fill dan dibandingkan dengan data TLS untuk memperoleh deviasi. Hasil menunjukkan bahwa semakin banyak GCP, deviasi volume semakin kecil dan stabil, dengan hasil terbaik pada 6 GCP (deviasi -0,871% hingga -1,495%). Deviasi terbesar terjadi pada 3 GCP di ketinggian 70 meter sebesar 1,941%. Tinggi terbang juga berpengaruh, di mana 60 meter menghasilkan deviasi paling rendah dan konsisten di semua konfigurasi GCP. Sebaliknya, tinggi 70 meter menunjukkan deviasi besar dan tidak konsisten meskipun RMSE rendah.