Luturmas, Hermanus Jonathan
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Edukasi pencegahan anemia dan pemberdayaan konselor sebaya berbasis sekolah pada remaja putri Luturmas, Hermanus Jonathan; Kogoya, Alvionita; Sinaga, Evi Susanti; Kartika Putri Pertiwi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2250

Abstract

Background: Adolescent girls are a group vulnerable to anemia, with a global prevalence rate reaching 29.9%. Low adherence to iron supplementation is a major contributing factor, despite targeted distribution. Anemia in adolescent girls can impair concentration and impact future reproductive health. Therefore, ongoing intervention and guidance efforts are needed to strengthen anemia prevention in this group. Purpose: To increase knowledge about anemia and empower peer counselors as an effort to prevent anemia in adolescent girls. Method: This community service activity was carried out in December 2025 at a high school in Tebet District, South Jakarta. Participants in this activity were 119 female students in grades X and XII. The implementing team consisted of lecturers and students of the Faculty of Medicine, Trisakti University, who collaborated with the school and received assistance from Community Health Center staff. The material on anemia was delivered directly and followed by discussions and questions and answers as an effort to increase knowledge in participants, which included assessing the analysis of risk factors for anemia, and empowering peer counselors as an effort to prevent anemia. Evaluation of the level of knowledge and understanding of participants was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Data were analyzed using the Wilcoxon test and Chi-square test to see the relationship between risk factors and the incidence of anemia. Results: Obtaining data that the average age of participants is 16.87 years with a standard deviation of 1.02 years in the range of 14-18 years and most participants are at the age of 17 years as many as 49 people (41.2%). Most are grade XII students as many as 85 people (71.4%), the majority have normal nutritional status as many as 49 people (41.2%), and the educational status of the mothers of the participants is the majority of high school-college graduates as many as 96 people (80.7%). While most of the parents' monthly income is ˂Rp. 5,396,761 as many as 81 people (68.1%), most are not identified as anemia as many as 87 people (73.1%), and the majority do not routinely consume iron tablets once a week as many as 78 people (65.5%). There is an increase in the level of knowledge of respondents after the implementation of health counseling which gets pValue=0.001. Meanwhile, the average value of respondents' knowledge before the counseling (pre-test) was 6.30 points and increased to 9.37 points after the counseling (post-test). Conclusion: Health education activities contribute to increasing adolescents' knowledge about anemia and its prevention. Adherence to iron supplementation plays a significant role in reducing the risk of anemia in adolescent girls. Furthermore, the implementation of school-based peer counselors is an effective promotive and preventive strategy because it facilitates increased knowledge, attitudes, and behaviors related to anemia prevention through a participatory approach. Suggestion: Anemia prevention activities for adolescent girls are expected to be carried out sustainably through increasing IBT compliance, health education, and supporting the ongoing role of peer counselors as health promotion agents. Active collaboration programs are also expected between community health centers, adolescents, and schools. Keywords: Adolescent girls; Anemia prevention; Health education; Peer counselors Pendahuluan: Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia, dengan angka prevalensi secara global mencapai 29.9%. Rendahnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) menjadi faktor utama, meskipun distribusi telah berjalan sesuai target. Anemia pada remaja putri dapat mengganggu kemampuan konsentrasi belajar dan berdampak pada kesehatan reproduksi di masa mendatang, sehingga diperlukan upaya intervensi dan pembinaan yang berkesinambungan untuk memperkuat pencegahan anemia pada kelompok ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Responden dalam kegiatan ini adalah siswi kelas X dan XII yang berjumlah 119 orang. Tim pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang berkolaborasi dengan pihak sekolah serta mendapat pendampingan dari staf Puskesmas. Materi tentang anemia disampaikan secara langsung dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya-jawab sebagai upaya peningkatan pengetahuan pada responden yang meliputi penilaian analisis faktor risiko kejadian anemia, dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan anemia. Evaluasi tingkat pengetahuan dan pemahaman responden, diukur menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Data dianalisa dengan uji Wilcoxon dan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara faktor risiko dan kejadian anemia. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.87 tahun dengan standar deviasi 1.02 tahun dalam rentang 14-18 tahun dan sebagian besar responden berada di usia 17 tahun sebanyak 49 orang (41.2%). Sebagian besar merupakan siswi kelas XII sebanyak 85 orang (71.4%), mayoritas memiliki status gizi normal sebanyak 49 orang (41.2%), dan status pendidikan ibu dari responden adalah mayoritas lulusan SMA-Perguruan Tinggi sebanyak 96 orang (80.7%). Sedangkan sebagian besar penghasilan orang tua per bulan (UMR) adalah ˂Rp.5.396.761 yaitu sebanyak 81 orang (68.1%), sebagian besar tidak teridentifikasi anemia sebanyak 87 orang (73.1%), dan mayoritas tidak rutin konsumsi tablet tambah darah 1x seminggu yaitu sebanyak 78 orang (65.5%). Adanya peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah pelaksanaan penyuluhan kesehatan yang mendapatkan pValue=0.001. Sedangkan nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum penyuluhan (pre-test) sebesar 6.30 poin dan terjadi peningkatan menjadi 9.37 poin setelah penyuluhan (post-test). Simpulan: Kegiatan penyuluhan kesehatan berkontribusi terhadap peningkatan tingkat pengetahuan remaja mengenai anemia dan upaya pencegahannya. Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) memiliki peran signifikan dalam menurunkan risiko anemia pada remaja putri. Selain itu, implementasi konselor sebaya berbasis sekolah merupakan strategi promotif dan preventif yang efektif karena mampu memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan anemia melalui pendekatan partisipatif. Saran: Diharapkan, kegiatan pencegahan anemia pada remaja putri untuk dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kepatuhan TTD, edukasi kesehatan, dan untuk mendukung keberlanjutan peran konselor sebaya sebagai agen promosi kesehatan serta diharapkan juga mengadakan program kolaborasi aktif dari puskesmas, remaja dan sekolah.