Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan keluhan yang sering dialami pasien hemodialisis akibat akumulasi toksin uremik, ketidaknyamanan prosedur, perubahan ritme aktivitas, dan stres psikologis. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, keseimbangan emosional, dan kualitas hidup. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi kombinasi relaksasi autogenik dan sleep hygiene terhadap kualitas tidur pasien hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Sebanyak 44 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan terapi kombinasi relaksasi autogenik dan sleep hygiene dua kali seminggu selama 20 menit setiap sesi. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden pada kelompok perlakuan memiliki kualitas tidur buruk (95,5%). Setelah diberikan terapi, kualitas tidur meningkat menjadi kategori baik (86,4%). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Pada kelompok kontrol, kualitas tidur tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Kesimpulan: Terapi kombinasi relaksasi autogenik dan sleep hygiene berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kualitas tidur pasien hemodialisis, sehingga direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan secara rutin dalam praktik klinik.