Perundungan merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dapat memicu tekanan psikologis serius dan berdampak jangka panjang pada korban, termasuk munculnya gejala gangguan stres pascatrauma (GSPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gejala GSPT akibat perundungan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Sam Ratulangi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online kepada 462 mahasiswa semester 3 dan 5, menggunakan instrumen Olweus Bully Victim Questionnaire (OBVQ) untuk menilai tingkat perundungan dan PTSD Checklist for DSM-5 (PCL-5) untuk menilai gejala GSPT. Dari seluruh responden, diperoleh 26 mahasiswa (5,63%) yang memenuhi kriteria penyintas perundungan tingkat sedang dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 dari 26 mahasiswa penyintas perundungan (50%) memiliki indikasi gejala GSPT dengan nilai PCL-5 ≥ 33. Klaster gejala yang paling dominan adalah hyperarousal, seperti kewaspadaan berlebih, kesulitan konsentrasi, dan gangguan tidur. Temuan ini mengindikasikan bahwa perundungan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis mahasiswa dan berpotensi mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu meningkatkan langkah pencegahan, deteksi dini, dan dukungan terhadap korban perundungan untuk meminimalkan risiko berkembangnya GSPT.