Silver scurf merupakan penyakit tular-benih pada tanaman kentang yang disebabkan oleh Helminthosporium solani dan diketahui dapat menyebar melalui pergerakan umbi yang terinfeksi antarwilayah. Di Indonesia, distribusi kentang antarpulau berpotensi berkontribusi terhadap penyebaran patogen ini, namun data pengawasan berbasis pelabuhan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi insidensi H. solani pada umbi kentang yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Sebanyak 32 lot kentang diperiksa menggunakan metode blotter test yang dilanjutkan dengan identifikasi koloni cendawan secara mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H. solani terdeteksi pada 4 lot (12,5%), dengan proporsi tertinggi ditemukan pada sampel yang berasal dari Pare-Pare. Selain H. solani, beberapa cendawan lain yang umum berasosiasi dengan kerusakan pascapanen, seperti Fusarium spp., Aspergillus niger, dan Penicillium sp., juga ditemukan. Keberadaan cendawan-cendawan tersebut mengindikasikan bahwa penanganan dan penyimpanan umbi pascapanen belum sepenuhnya optimal. Analisis statistik menggunakan Uji Fisher Exact menunjukkan bahwa insidensi H. solani tidak berasosiasi secara signifikan dengan asal geografis lot kentang. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya penguatan pengawasan fitosanitari di titik pemasukan serta perlunya pelengkapan metode deteksi konvensional dengan pendekatan molekuler untuk meningkatkan keandalan identifikasi patogen tular-benih.