Filter By Year

1945 2024


Found 835 documents
Search RADIOLOGI

PENGARUH KUALITAS FOTO THORAX DEWASA TERHADAP TINGKAT KEPUASAN DOKTER RADIOLOGI DENGAN COMPUTED RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD BENDAN KOTA PEKALONGAN Sudarsih, Kesawa; Jannah, Marichatul; Miranti, Debora Dwi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.657 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v6i2.108

Abstract

Kualitas radiograf adalah kemampuan suatu radiograf dalam memberikan suatu informasi diagnostik dari objek yang diperiksa. Kualitas radiograf dipengaruhi oleh beberapa komponen yaitu Densitas, Kontras, Ketajaman, Detail. Kualitas radiografi yang optimal dapat memberikan informasi diagnosis yang jelas mengenai objek yang diperiksa. Berdasarkan pengamatan peneliti di Instalasi Radiologi RSUD Bendan Kota Pekalongan, pemeriksaan Thorax proyeksi PA menggunakan kaset ukuran 35 X 43 cm dengan system prosessing Computed radiography (CR). Namun pada saat pencetakan film CR menggunakan ukuran 35 X 43 cm untuk 4 proyeksi pada pasien yang berbeda. Kualitas gambar radiograf menjadi menurun dan memungkinkan diagnosis yang diberikan kepada pasien menjadi kurang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kualitas Foto Thorax Dewasa Terhadap Tingkat Kepuasan Dokter Radiologi dan untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kepuasan Dokter radiologi di Instalasi Radiologi RSUD Bendan Kota Pekalongan.Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini sebesar 40 sampel foto thorax. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada Dokter Radiologi. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data dengan cara editing, coding, dan tabulasi, cara menganalisis menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Regresi Berganda dengan melakukan uji hipotesis garis regresi, uji statistic f, uji statistic t, koefisien determinasi untuk kemudian dijadikan pembahasan yang akan ditarik kesimpulan dan saran.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara kualitas radiograf dengan kepuasan Dokter radiologi di Instalasi Radiologi RSUD Bendan Kota Pekalongan dengan hasil yaitu Densitas dengan nilai signifikansi 0.029<0.05 ada pengaruh, kontras dengan nilai signifikansi 0.042<0.05 ada pengaruh, ketajaman dengan nilai signifikansi 0.003<0.05 ada pengaruh dan detail dengan nilai signifikansi 0.007<0.05 ada pengaruh dan faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kepuasan Dokter radiologi adalah variabel detail.?Kata Kunci : Kepuasan Dokter Radiologi, Kualitas Radiograf, Foto Thorax
GAMBARAN FOTO TORAKS EMFISEMATOUS LUNG DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2014 – OKTOBER 2015 Tendean, Elshadday V.; Tubagus, Vonny N.; Loho, Elvie
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10965

Abstract

Abstract: Emphysema is an uplift condition of air space in lung. This disease is needed to be concerned particularly among patients with smoking history. Emphysematous lung diagnosis can be found in chest x-ray imaging. This study aimed to obtain emphysematous lung in chest x-ray imaging. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. Population was all medical record data of chest x-ray at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Samples were medical records of emphysematous lungs according to radiological diagnosis. The results showed that there were 28 patients with radiological diagnosis as emphysematous lung. The most common characteristic feature was hyperaeration. There were also normal and abnormal heart imaging, and flattened diaphragm. Males were more often suffering from emphysematous lung than females, and age over 60 were more susceptible to suffer this emphysematous lung. Keywords: emphysematous, radiology, chest x-ray. Abstrak: Emfisema merupakan kondisi peningkatan ruang udara di dalam paru. Penyakit ini perlu diperhatikan khususnya pada pasien emfisema dengan riwayat merokok. Diagnosis paru emfisematous lung dapat diketahui melalui salah satu pemeriksaan penunjang radiologi yaitu foto toraks. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran paru emfisematous pada pemeriksaan foto toraks. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan rancangan potong lintang. Populasi yaitu semua data rekam medis pemeriksaan foto toraks di bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel yaitu rekam medik yang sudah didiagnosis radiologik paru emfisematous. Hasil penelitian memperlihatkan dari semua pasien yang melakukan pemeriksaan foto toraks dan telah didiagnosis radiologik paru emfisematous berjumlah 28 penderita. Temuan yang paling khas pada gambaran foto toraks paru emfisematous yaitu hiperaerasi; juga terdapat gambaran jantung normal maupun abnormal serta diafragma mendatar. Laki-laki lebih sering terkena paru emfisematous dari pada perempuan dan usia ≥60 tahun lebih rentan terkena paru emfisematous.Kata kunci: emfisematous, radiologi, foto toraks.
GAMBARAN HASIL CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA DENGAN KLINIS STROKE NON-HEMORAGIK DI BAGIAN RADIOLOGI FK. UNSRAT / SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011- DESEMBER 2011 Tjikoe, Mohammad Arswendo; Loho, Elvie; Ali, Ramli H.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.6011

Abstract

Abstract: Stroke is the most common of neurologic manifestations and easily recognizable from the other neurologic diseases due to the early onset of sudden in a short time. Stroke as clinical diagnosis was divided to hemorrhagic stroke and ischemic stroke. In hemorrhagic stroke there is a rupture in blood vessel so the blood flow became abnormal and bleeds into surrounding brain and damage it. In ischemic stroke the blood flow heading to the brain is interrupted due to atherosclerosis process. The purpose of this study is to know about description of head CT scan in patient with clinical diagnonis of stroke non hemorrhagic in Department/SMF Radiology Faculty Of Medicine UNSRAT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period on 1st January 2011 – 31st December 2011. Methods: The study design was a retrospective descriptive study. The data are from request form sheet and radiographic response in the Department of Radiology and processed in descriptive. Results: Base on 163 data of stroke patients obtained, 74 patients diagnosed with infarction stroke (45,4%). Male had more (59,5%) than female (40,5%). For age group, 60-79 is the largest with 33 patients (44,6%). Area with most lesion was in parietal dextra lobe with 8 cases (10,8%). Most cases was happened in August with 10 cases (13,5%). Conclusion: Patients with radiology diagnosis infarction stroke, the most common infarction location is in parietal dextra area. Keywords: CT Scan, Infarction Stroke, Parietal Dextra.   Abstrak: Stroke merupakan salah satu manifestasi neurologik yang umum, dan mudah dikenal dari penyakit-penyakit neurologik lain karena mula timbulnya mendadak dalam waktu yang singkat. Stroke sebagai diagnosis klinis terbagi menjadi stroke hemoragik (pendarahan) dan stroke non-hemoragik (iskemik). Pada stroke hemoragik pembuluh darah pecah sehingga aliran darah menjadi tidak normal dan darah yang keluar merembes masuk ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Sedangkan pada stroke non-hemoragik aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah, melalui proses aterosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil CT scan kepala pada penderita dengan klinis stroke non-hemoragik di Bagian Radiologi FK. Unsrat / SMF Radiologi BLU RSUP Prof. dr. R. D Kandou Manado periode Januari 2011- Desember 2011. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa lembaran permintaan & jawaban CT scan kepala yang terdapat di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011. Hasil penelitian: Berdasarkan 163 data pasien yang didapatkan, 74 pasien didiagnosis dengan stroke infark (45,4%). Laki-laki lebih banyak (59,5%) dari perempuan (40,5%). Kelompok umur 60-79 merupakan kelompok umur terbanyak yaitu 33 pasien (44,6%). Daerah lesi terbanyak adalah pada daerah parietalis dextra dengan 8 kasus (10,8%). Kasus terbanyak terjadi pada bulan agustus dengan 10 kasus (13,5%). Simpulan: Pada pasien dengan diagnosis radiologi stroke infark, lokasi infark yang paling banyak muncul adalah terdapat pada daerah parietal dextra. Kata kunci: CT Scan, Stroke Infark, Parietal Dextra.
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA STROKE HEMORAGIK DI BAGIAN RADIOLOGI FK. UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Parinding, Novita T. A.; Ali, Ramli Haji; Tubagus, Vonny N.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6746

Abstract

Abstract: Hemorrhagic stroke is a spontaneous blood vessel bursts inside the brain. The main cause is chronic hypertension and the presence of degeneration of cerebral blood vessels. Bleeding can occur in the brain and the subarachnoid space due to rupture of an artery or rupture of the aneurysm. At a stroke, a CT scan is the gold standard examination to distinguish infarction with bleeding, because CT scan can give a very clear picture of the head of the intracranial space persisted as cerebral infarction, intracranial hemorrhage, and hemorrhagic stroke. So it can be helpful to diagnose the disease and neurological disorders. The purpose of this study is to cognize the distribution of hemorrhagic stroke patients who performed a head CT scan at The Department of Radiology of FK UNSRAT / SMF Radiology of BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This is a retrospective descriptive study by using secondary data coming from hemorragic stroke patients medical records in the Department of Radiology of BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado on the period time from May to October 2014. Patients admitted inclusion criteria age between 30-80 years old, proven hemorrhagic stroke based on history, physical examination and investigations of doctors. The results showed that the total number of head CT Scans are 296 patients and more showed abnormal picture (58.1%) compared with the normal picture (41.9%), there are 64 patients with abnormal CT Scan picture results of hemorrhagic stroke (37.2% ), patients with hemorrhagic stroke are more common in males (65.6%), most in the age group of the early elderly betweeb 46-55 years old (40.6%) with most bleeding type of intracerebral hemorrhage (87.5%). Conclusion: Patient that comes with hemorrhagic stroke case or recurrent stroke should undertake a CT Scan of head to assist diagnose and later on can identify the type of bleeding caused by the stroke.Keywords: head CT scan, haemorrhagic strokeAbstrak: Stroke hemoragik adalah perdarahan spontan di dalam otak. Penyebab utamanya adalah hipertensi kronik dan adanya degenerasi pembuluh darah cerebral. Perdarahan dapat terjadi di dalam otak dan ruang subaraknoid karena ruptur dari arteri atau ruptur dari aneurisma. Pada penyakit stroke, CT Scan merupakan pemeriksaan baku emas untuk membedakan infark dengan perdarahan, karena CT Scan dapat memberikan gambaran kepala yang sangat jelas tentang proses desak ruang intrakranial seperti infark otak, perdarahan intrakranial, dan stroke hemoragik. Sehingga dapat membantu penegakan diagnosis penyakit dan kelainan neurologik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi penderita stroke hemoragik yang dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala di Bagian Radiologi FK UNSRAT/SMF Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa rekam medik pasien stroke hemoragik di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Mei-Oktober 2014. Pasien yang masuk kriteria inklusi yaitu usia 30-80 tahun, terbukti stroke hemoragik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang oleh dokter. Hasil pemeriksaan CT Scan kepala berjumlah 296 pasien dan lebih banyak menunjukkan gambaran abnormal (58,1%) dibandingkan gambaran normal (41,9%), pada gambaran abnormal terdapat 64 penderita dengan hasil CT Scan gambaran stroke hemoragik (37,2%), penderita stroke hemoragik lebih banyak terjadi pada laki-laki (65,6%), paling banyak pada kelompok umur lansia awal 46-55 tahun (40,6%) dengan tipe perdarahan paling banyak yaitu perdarahan intraserebral (87,5%). Simpulan : Penderita yang datang dengan keluhan stroke hemoragik atau stroke berulang sebaiknya melakukan pemeriksaan CT Scan kepala untuk membantu diagnosis dan dapat diketahui tipe perdarahan dari stroke tersebut.Kata kunci : CT scan kepala, stroke hemoragik
Hasil pemeriksaan CT scan pada penderita stroke non hemoragik di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2015 – Agustus 2016 Elim, Christian; Tubagus, Vonny; Ali, Ramli Hadji
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14398

Abstract

Abstract: CT-scan is used to analyze the structures of specific body parts, mainly to confirm the diagnosis of non-hemorrhagic stroke. Stroke is a neurological deficit that occurs suddenly and caused by the interruption of blood flow to the brain. The symptoms are corresponding to the location of the stroke. This study was aimed to obtain the CT-scan examination of non-haemorrhagic stroke patients. This was a retrospective descriptive study using secondary data such as request letter and data of head CT-scan performed from August 2015 to August 2016. The results showed that there were 89 cases of non-hemorrhagic stroke. The majority were males (60 patients; 67%), elderly ≥65 years old (27 patients; 30%), and location of lesion in the right hemisphere (38 patients; 43%). Conclusion: In this study most patients diagnosed as non-hemorrhagic stroke with CT-scan were males, over 65 years old, and location of lesion in right hemisphere.Keywords: non-haemorrhagic stroke, CT-scan Abstrak: CT scan digunakan untuk menganalisis struktur dalam dari beberapa bagian tubuh tertentu, antara lain untuk memastikan diagnosis dari stroke non hemoragik, Stroke merupakan suatu defisit neurologik yang terjadi secara tiba-tiba diakibatkan oleh adanya gangguan aliran darah ke otak dan gejala yang terjadi sesuai dengan lokasi dari stroke tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pemeriksaan CT scan pada penderita stroke non hemoragik. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa lembar permintaan dan data hasil CT scan kepala yang dilaksanakan sejak Agustus 2015 sampai Agustus 2016. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 89 kasus didiagnosis stroke non-hemoragik dengan CT-scan, terbanyak ialah jenis kelamin laki-laki berjumlah 60 orang (67%); golongan usia manula (≥65 tahun) berjumlah 27 orang (30%); dan lokasi lesi di hemisfer dekstra berjumlah 38 orang (43%). Simpulan: Pada studi ini, majoritas pasien yang didiagnosis stroke non-hemoragik dengan CT-scan Berjenis kelamin laki-laki, usia ≥65 tahun, dengan lokais lesi pada hemisfer kanan. Kata kunci: stroke non hemoragik, CT-scan
Profil CT-Scan Non-kontras pada Penderita Nefrolitiasis di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari – 30 Agustus 2016 Pongsapan, Aprillia G.C.; Tubagus, Vonny; Loho, Elvie
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.17418

Abstract

Abstract: Nephrolitiasis is a disease indicated by the existence of a single or more solid masses of hard material in the kidney tubule, calyx, infundibulum, kidney pelvis, and the whole parts of the kidney. Imaging such as non-contrast CT-Scan is usually used to ascertain the diagnosis of nephrolitiasis. This study was aimed to obtain the profile of non-contrast CT-Scan of the kidney performed on nephrolithiasis cases at Radiology Division of Medical Faculty University of Sam Ratulangi/Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January 1 to Agust 30, 2016. This was a descriptive retrospective study using medical records at the Radiology Division. The results showed that there were 63 cases of nephrolitiasis in this study. The highest percentages were in males (71.43%) and age group of 56-65 tahun (25.39%). According to the location, most cases with bilateral nephrolitiasis (25.39%). Complication of hydronephrosis was found in 14.29% of cases. Conclusion: Based on the non-contrast CT-Scan of the kidney, most nephrolithiasis cases were found in males, age group of 46-55 years, bilateral nephrolithiasis, and without complication.Keywords: non-contrast CT-Scan of the kidney, nephrolitiasisAbstrak: Nefrolitiasis merupakan suatu penyakit dengan gejala ditemukannya satu atau beberapa massa keras yang terdapat di dalam tubuli ginjal, kaliks, infundibulum, pelvis ginjal, serta seluruh bagian ginjal. Pemeriksaan yang sering digunakan dalam penegakan diagnosis nefrolitiasis ialah pemeriksaan imaging, salah satunya CT-Scan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil CT-Scan non-kontras pada penderita nefrolitiasis di Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari-30 Agustus 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medik di Bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari -30 Agustus 2016. Hasil penelitian mendapatkan 63 kasus nefrolitiasis dengan hasil CT-Scan ginjal non-kontras, lebih banyak terjadi pada laki-laki (71,43%) dan kelompok usia 46-55 tahun (33,33%). Berdasarkan letak batu, lebih sering ditemukan letak batu bilateral (36,68%). Komplikasi hidronefrosis ditemukan pada 14,29% kasus. Simpulan: Berdasarkan hasil CT-Scan non-kontras pada penderita nefrolitiasis didapatkan nefrolitiasis lebih sering ditemukan pada laki-laki, kelompok usia 46-55 tahun, dengan letak batu bilateral dan tanpa komplikasi.Kata kunci: CT-Scan tanpa kontras pada ginjal, nefrolitiasis
Gambaran Ultrasonografi Ginjal pada Penderita Gagal Ginjal Kronik di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 April – 30 September 2015 Gani, Nafira S.M.; Ali, Ramli H.; Paat, Bobby
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.17419

Abstract

Abstract: Chronic renal failure (CRF) is a chronic disorder of renal function which develops progressively and irreversibly. Ultrasonography (USG) is currently used as the first examination in CRF patients to obtain some information about the parenchym, collecting system, and renal vasculature. Abdominal USG in CRF patients is usually characterized by a more hyperchoic cortex which is almost the same as the renal sinus. This study was aimed to obtain the profile of renal USG of CRF patients at the Radiology Departement of Medical Faculty Sam Ratulangi University/Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during April 1 to September 30, 2015. This was a retrospective descriptive study using medical record data at the Radiology Departement. Samples were all request paper of patients diagnosed as CRF with USG performed on them. The results showed 64 CRF cases with renal USG. Patients with CRF were most males (78.5%) and age group 56 - 65 years (29.7%). Most patients with CRF had bilateral renal disorder (98.5%). Conclusion: Most patients with chronic renal failure were males, age group of 56-65 years old, and had affected kidneys bilaterally.Keywords: ultrasonography, chronic renal failure (CRF) Abstrak: Gagal ginjal kronik (GGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun, bersifat progresif dan ireversibel. Ultrasonografi (USG) saat ini digunakan sebagai pemeriksaan pertama secara rutin pada keadaan gagal ginjal untuk memperoleh informasi tentang parenkim, sistem kolekting, dan pembuluh darah ginjal. Ultrasonografi abdomen pada pasien GGK biasanya ditandai dengan kortek yang lebih hiperekoik hingga hampir sama dengan sinus renalis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran USG ginjal pada penderita GGK di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medik di Bagian Radiologi. Sampel penelitian ialah semua lembaran permintaan penderita yang sudah didiagnosis GGK dengan pemeriksaan USG ginjal di Bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 April-30 September 2015. Hasil penelitian mendapatkan 64 kasus GGK pada periode tersebut; lebih banyak pada laki-laki (78,5%) dan kelompok usia 56-65 tahun (29,7%). Penderita GGK terbanyak ditemukan bilateral (98,5%). Simpulan: Penderita GGK terutama ditemukan pada jenius kelamin laki-laki, kelompok usia 56-65 tahun, dan terjadi bilateral.Kata kunci: ultrasonografi Ginjal, gagal ginjal kronik (GGK)
Gambaran CT-Scan Tanpa Kontras pada Pasien dengan Batu Saluran Kemih di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Juli 2016 - Juni 2017 Tubagus, Yanuar E.; Ali, Ramli Haji; Rondo, Alfa G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18765

Abstract

Abstract: Urinary tract stone is the third most common disease after urinary tract infection and prostate cancer. Symptoms of urinary tract stones such as pain, hematuria, infection, fever, nausea, and vomiting appear when an obstruction occurs. To confirm the diagnosis of urinary tract stone, further examination can be performed such as radiology examination using CT-Scan which can provide a much better imaging compared to plain photo and ultrasonography. CT-scan is usually performed without contrast because the imaging of stone is clearly visible. This study was aimed to obtain the CT-scan imaging without contrast of patients with urinary tract stones in the Radiology Department of Faculty of Medicine Sam Ratulangi University/ SMF Radiology Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of July 2016 - June 2017. This was a descriptive retrospective study using patients’ medical records at the Radiology Department. The results showed that there were 190 patients suffering from urinary tract stones. The majority of cases were males (66.32%), age group of 48-57 years (30%), and had stones located in the renal region (67.38%). Conclusion: Based on the CT-Scan examination without contrast performed on patients with urinary tract stones, the prevalence of urinary tract stone was higher in males and the age group of 48-57 years with the most common location of the stones in the renal region.Keywords: urinary tract stones, CT-Scan without contrast Abstrak: Batu saluran kemih merupakan penyakit tersering ketiga setelah infeksi saluran kemih dan kanker prostat. Gejala batu saluran kemih muncul ketika terjadi obstruksi berupa rasa nyeri, hematuria, infeksi, demam, mual dan muntah. Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan radiologi dengan menggunakan CT-Scan yang dapat memberikan hasil pencitraan yang lebih baik dibandingkan foto konvensional dan ultrasonografi. Pemeriksaan CT-Scan biasanya tanpa menggunakan kontras karena gambaran batu sudah tampak dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran CT-Scan tanpa kontras pada pasien dengan batu saluran kemih di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada periode Juli 2016 - Juni 2017. Jenis penelitan ialah deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di Bagian Radiologi. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 190 pasien yang menderita batu saluran kemih dengan proporsi paling banyak pada laki-laki (66,32%), kelompok usia 48-57 tahun (30%), dan lokasi tersering pada daerah ginjal (67,38%). Simpulan: Berdasarkan hasil pemeriksaan CT-Scan tanpa kontras pada pasien batu saluran kemih didapatkan angka kejadian batu saluran kemih paling banyak pada laki-laki dan kelompok usia 48-57 tahun dengan lokasi tersering di daerah ginjal.Kata kunci: Batu saluran kemih, CT-Scan tanpa kontras.
GAMBARAN FOTO WATERS PADA PENDERITA DENGAN DUGAAN KLINIS SINUSITIS MAKSILARIS DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2011–31 DESEMBER 2011 Posumah, Allan Hespie; Ali, Ramli Hadji; Loho, Elvie
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1176

Abstract

Abstract: Sinusitis is an inflammation of the mucous membranes that can be on one or several paranasal sinuses, and the most commonly affected are the maxillary sinus and etmoidalis sinus. An anamnesis and physical examination can already diagnonse suspect of maxillary sinusitis. Radiological examination perfomed to get an early diagnose. Photo Waters is one of the best examination because can already diagnose an abnormality in maxillary sinus with 85 % and 80  % sensivity and specifity. This study aims is to know the description of Photo Waters in patient with suspect of maxillary sinusitis based on age, sex, and description of Photo Waters in Radiology Department of BLU Prof. Dr. R. D. Manado Kandou within period 1st January 2011 to 31st December 2011. This research is retrospective descriptive study. The data was a request and answer form of Photo Waters in Radiology Department and analyze in descriptive form. The number of patients with maxillary sinusitis radiology diagnose in the Radiology Department of BLU Prof. Dr. R.D. Kandou are 60 patients. Most cases are women in the amount of 56.67%, with 30-40 years age is the most common. With the results of description of Photo Waters in poor veil image is 71.67%. Keywords: Maxillary sinus, Photo Waters, sinusitis. Abstrak: Sinusitis merupakan suatu peradangan membran mukosa yang dapat mengenai satu ataupun beberapa sinus paranasal, dan yang paling sering terkena yaitu sinus maksilaris dan sinus etmoidalis. Anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah dapat mencurigai adanya sinusitis maksilaris. Untuk mendapatkan diagnosis yang lebih dini diperlukan pemeriksaan radiologis. Foto Waters merupakan pemeriksaan yang paling baik karena sudah mampu mendiagnosis suatu kelainan di sinus maksilaris dengan sensitifitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 80%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Foto Waters pada penderita dengan dugaan klinis sinusitis maksilaris berdasarkan jenis kelamin, umur, dan hasil gambaran Foto Waters di Bagian Radiologi BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data berupa lembaran permintaan dan jawaban Foto Waters di Bagian Radiologi dan diolah dalam bentuk deskriptif. Jumlah penderita dengan diagnosis radiologis sinusitis maksilaris di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou sebanyak 60 penderita. Kebanyakan kasus adalah perempuan yaitu sebesar 56,67%, dengan umur tebanyak 30-40 tahun. Dengan hasil gambaran Foto Waters terbanyak pada gambaran perselubungan yaitu 71,67%. Kata kunci: Foto Waters, sinus maksilaris, sinusitis.
GAMBARAN HASIL CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA NYERI KEPALA DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI-31 DESEMBER 2011 Madja, Muhammad Nugraha; Ali, Ramli Hadji; Loho, Elvie
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4592

Abstract

Abstract: Headache is one of the most complaints in clinical practices. CT Scan is needed as second diagnostic tool to patients who came with headache complaint. CT Scan is able to give the clear picture if there is a intracranial lesions, so it helps the doctor to determine the diagnosis of the patient, because there are so many disease that caused headache. The purpose of this research  is to figure out the result of the CT Scan picture of the headache patient at the Department of Radiology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period of January 1st to December 31st 2011. This research is retrospective descriptive research with the use of secondary data which is the medical record that accessible at the Department of Radiology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period of January 1st to December 31st  2011. From the whole result of the CT scan examination from 189 people who suffer headache, 76,19% patients show the normal picture of their heads and 23,81% patients show abnormality picture of their heads, 57.78% headache patients are women, 40% headache patients are adults in the range of ages 41 to 65, and the most CT Scan abnormal picture shows by the patients of cerebral infarct 26.67%. Patient who came with suspicious complaints such as severe, chronic, and repeatable headache will be better if the causes can be determined with the use of head CT Scan, to help to diagnose and prevent the cause of the headache to be more severe. Keywords: Head CT Scan, Headache.     Abstrak: Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan dalam praktek klinis sehari-hari. CT Scan diperlukan sebagai penunjang diagnostik pada pasien yang datang dengan keluhan nyeri kepala. CT Scan dapat memberikan gambaran yang jelas apabila terdapat kelainan intrakranial, sehingga mempermudah dokter untuk menentukan diagnosis pasien, mengingat sangat beragamnya penyakit yang dapat menyebabkan nyeri kepala. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil CT Scan kepala pada penderita nyeri kepala di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa catatan medik yang terdapat di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Keseluruhan hasil pemeriksaan CT Scan kepala berjumlah 189 orang penderita nyeri kepala dan lebih banyak menunjukkan gambaran normal (76,19%) dibandingkan  gambaran abnormal (23,81%), penderita nyeri kepala lebih banyak terjadi pada perempuan (57,78%), penderita nyeri kepala terbanyak pada kelompok umur dewasa madya 41-65 tahun (40%) dan gambaran CT Scan abnormal didapatkan terbanyak adalah infark cerebri (26,67%). Penderita yang datang dengan keluhan nyeri kepala berat, kronik, dan berulang sebaiknya dipastikan penyebabnya melalui pemeriksaan CT Scan kepala. Untuk membantu mendiagnosis, menyingkirkan kemungkinan kelainan intrakranial lainnya dan mencegah memberatnya penyebab nyeri kepala. Kata Kunci: CT Scan Kepala, Nyeri kepala.

Page 1 of 84 | Total Record : 835