The objectives of this research is to examine the effect of qualitative and quantitative factors to underpricing ( Y1 ), long-run underperformance ( Y2 ), and underpricing effect to long-run underperformance ( Y3 ) with ROA, DER, ROE, Age, Size, Underwriter Reputation, Auditor Reputation and Gross Proceeds as independent variables. Initial Public Offerings ( IPO ) is one of alternatives for companies to get fund from external sources in fulfilling it needs. Three phenomenons related with IPO’s are underpricing, hot-issue market and long-run underperformance. The most frequently happened phenomenon is underpricing which is a phenomenons marked by lower offering price compared to 1st day closing price. The second phenomenon, hot-issue market, is marked by abnormal higher IPO’s frequency, high abnormal underpricing rate, and stock’s oversubscription. Under this condition investors become more optimist and become an advantage for companies to get external funds through IPO’s, but in secondary market stock price will be corrected naturally and it’s long term performance oftenly worst than non-IPO’s company. This is what so called as long-run underperformance. This study use underpriced IPO’s stocks in Bursa Efek Indonesia for period 2012 to 2015 as sample and use e-views 7 to analyze it. The result shows that only DER don’t have effect significant to Y1, only Auditor Reputation and Gross Proceeds variables don’t have significant effect to Y2 and finally Y1 have significant effect to Y3. R-squared shows for Y1,Y2 and Y3 indicates that still many independent variables gives significant effects to Y1 and Y2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh faktor kualitatif dan kuantitatif terhadap underpricing(Y1), underperformance jangka panjang (Y2), dan efek underpricing terhadap underperformance jangka panjang (Y3) dengan ROA, DER, ROE, Usia, Ukuran , Reputasi Penjamin Emisi, Reputasi Auditor, dan Penerimaan Bruto sebagai variabel independen. Initial Public Offeringings (IPO) adalah salah satu alternatif bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari sumber eksternal dalam memenuhi kebutuhannya. Tiga fenomena terkait dengan IPO adalahunderpricing, hot-issue market, dan kinerja jangka panjang yang buruk. Fenomena yang paling sering terjadi adalahunderpricing yang merupakan fenomena yang ditandai dengan harga penawaran yang lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan hari pertama. Fenomena kedua, pasar isu panas, ditandai oleh frekuensi IPO yang lebih tinggi, tingkat underpricing abnormal yang tinggi, dan kelebihan permintaan saham. Dalam kondisi ini investor menjadi lebih optimis dan menjadi keuntungan bagi perusahaan untuk mendapatkan dana eksternal melalui IPO, tetapi di pasar sekunder harga saham akan dikoreksi secara alami dan kinerja jangka panjangnya seringkali paling buruk daripada perusahaan non-IPO. Inilah yang disebut kinerja jangka panjang yang buruk. Penelitian ini menggunakan saham-saham IPO yang kurang mahal di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2012 hingga 2015 sebagai sampel dan menggunakan e-views 7 untuk menganalisisnya. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya DER yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Y1, hanya variabel Reputasi Auditor dan Pendapatan kotor tidak berpengaruh signifikan terhadap Y2 dan akhirnya Y1 berpengaruh signifikan terhadap Y3. R-squared menunjukkan untuk Y1, Y2 dan Y3 menunjukkan bahwa masih banyak variabel independen memberikan efek signifikan terhadap Y1 dan Y2.Kata Kunci: Underpricing, Long-run Underperformance, Asymmetry Information, Over Optimist Investor
Copyrights © 2018